Peran Orangtua Dalam Membina Kejejuran Remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur.







بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PERAN ORANGTUA DALAM MEMBINA KEJUJURAN REMAJA
DI KAMPUNG TANJUNG GADANG KENAGARIAN
AMPING PARAK TIMUR KECAMATAN SUTERA
 KABUPATEN PESISIR SELATAN

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat dalam Mencapai
 Gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam




OLEH

MUSLI AFRIZONA RAHMAD
NIM. 10.06.002.012.010






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA
ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
(UMSB)
2014 M/1435 H
 
DAFTAR ISI

               
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
HALAMAN PEGESAHAN TIM PENGUJI
PERNYATAAN
ABSTRAK..................................................................................................................
KATA PENGANTAR...............................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................                               
BAB I PENDAHULUAN
           A. Konteks Penelitian.......................................................................................
           B. Fokus Penelitian..........................................................................................
           C. Tujuan Penelitian.........................................................................................
           D. Kegunaan Penelitian....................................................................................
           E. Penjelasan Judul...........................................................................................
           F. Sisitematika Penulisan.................................................................................

BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Konsep Kejujuran.........................................................................................
               1. Pengertian Kejujuran................................................................................
               2. Macam-Macam Kejujuran........................................................................
          B. Tanggungjawab Orangtua Dalam Membina Kejujuran................................
          C. Pembinaan Kejujuran Remaja......................................................................
          D. Urgensi Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Kejujuran Remaja......

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A.  Rancangan Penelitian...................................................................................
B.Objek Penelitian...........................................................................................
C.Subjek Penelitian..........................................................................................
D.  Jenis Data......................................................................................................
E.  Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................................
F.  Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen...................................................
G.  Teknik Analisis Data....................................................................................

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan......................................................................
B.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatan di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan......................................................................
C.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan......................................................................
D.  Kendala-kendala yang ditemui orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Kab. Pesisir Selatan......................................

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.   Kesimpulan..................................................................................................
B.   Saran............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








i

iii

vii



1
6
7
7
8
9



11
11
12
15
18
29



33
36
36
37
37
40
41





42


51


58


64



70
71

KATA PENGANTAR

Assalaamu`alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillaahirabbil.`aalamiin. Puji serta syukur bagi Allah swt. Tuhan semesta alam, yang telah memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan dan kemudahan dalam segala urusan. Allahumma salli `ala Muhammad, shalawat serta salam semoga tetap dicurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita nabi Muhammad saw. yang telah membimbing kita pada jalan yang dirahmati Allah SWT.
Skripsi ini berjudul “Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja Di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan”. Karya tulis ini diajukan kepada Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Pogram Studi Pendidikan Agama Islam untuk memenuhi syarat penyelesaian program strata satu (SI).
Penulis menyadari bahwa bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan ini, baik dari segi isi maupun dari redaksinya. Selama penyusunan skripsi dan belajar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB)), penulis banyak mendapatkan dukungan baik moral maupun material dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Bapak Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Drs. Mursyal, M.Ag, berserta jajaran yang telah memberikan dukungan moril, dan motivasi hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2.      Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammasiyah Sumatera Barat, dan selaku pembimbing akademik Penulis selama dibangku perkuliahan yaitu: Ahmad Lahmi, S.Pd.I, M.A.
3.      Bapak Drs. Usman Alnas,  M.A, selaku dosen pembimbing I yang selalu membimbing penulis dengan penuh kebijaksanaan dan memberikan arahan-arahan dan Bapak Yunardi, S.Ag, M.Pd, selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing serta memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4.      Ayahanda M. Rusik (almr) dan ibunda Silih yang tercinta yang tiada lelah untuk mendidik penulis dan memotivasi dalam segala keadaan. Kasih sayang yang tiada  batas, dan yang menjadi teman setia penulis selama ini serta memberikan dukungan moral dan material yang tidak terhitung jumlahnya, serta do`a dan senyuman yang menyemangati penulis untuk tabah dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama proses pembuatan skripsi. Sekaligus saudara-saudari penulis tercinta Susi Susanti, S.Pd.I (Kakak), Sri Martawina (Adek).
5.      Kepada semua dosen UMSB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, sehingga penulis dapa memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi diri penulis maupun orang lain hendaknya.
6.      Kepada Wali Nagari Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (Bapak Saparudin). Dan kepala Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.  (Bapak Jasmil), dan seluruh masyarakat yang tinggal di Kampung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Yang telah membantu dan memberikan izin serta waktu kepada penulis untuk melaksanankan penelitian sehingga skripsi ini bisa terselesaikan.
7.      Karyawan-karyawati dan civitas Akademika Rektorat UMSB, perpustakaan dan fakultas-fakultas di lingkungan UMSB
8.      Sahabat-sahabatku Angkatan 2010 Aulia Rahmi, Andi Syahputra Harahap, Asril, Muhammad Iqbal, Desi Rahmayeni, Rizkiana, Roby Hamdani, Emizuliati, Syarif Umar, Yuli Asni, yang berjuang dalam menggapai cita-cita,  yang selalu memberi dukungan, saling berbagi, melengkapi serta memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9.      Teman-teman yang ada di Asrama Putra UMSB kepada Arjoni, S.Pd.I, Rico Hamdani, S.Pd.I, Asmara Demaliko, S.Pd.1, Feri Anggara, SE, Robi Hamdani, S.Pd.I, Abrar Nanda, SE, Sabri Ilahi, SE, Idris Ahmad, S.Pd.I, Yusrizal, S.Pd.I, Ilham Afandi, S.Pd.I, Zulkhaidir, S.E dan adek-adek yang tinggal di Asrama Putra yang telah menjalani suka dan duka dalam menuntut ilmu.

Akhirnya penulis menyerahkan kepada Allah SWT atas segala bantuan, pengorbanan, serta bimbingan-Nya, mudah-mudahan bantuan, pengorbanan dan bimbingan-Nya menjadi amal shaleh dan mendapat imbalan dari Allah SWT. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan bagi yang lainnya.
Wassalaamu.alaikum Wr.Wb.
                     
                                                                                   Padang, 10 September 2014
                                                            Penulis

                                                                                                              Musli Afrizona Rahmad
                                                                                     NIM: 10.06.002.012.010


 
 

ABSTRAK
            Skripsi dengan judul “Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja Di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan” disusun oleh Musli Afrizona Rahmad, NIM: 1006002012010, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Dalam tulisan ini penulis akan membahas mengenai peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Karena orangtua merupakan lingkungan utama bagi anak sebelum beranjak ke usia remaja dalam mendapatkan pendidikan, terutama pendidikan mengenai akhlak, seperti halnya kejujuran pada diri anak tersebut. Dalam pembinaan kejujuran remaja, orangtua sangat mempunyai peranan yang signifikan. Sejauh mana kejujuran itu ditanamkan kepada diri anak-anaknya melalui pendidikan yang diberikan oleh orangtua. Untuk itu seorang orangtua harus menyadari peranannya sebagai pendidik untuk menjadikan remajanya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt serta memiliki akhlakul karimah, terutama sifat kejujuran dalam dirinya.
Fokus penelitian ini adalah: (1) Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. SuteraKab. Pesisir Selatan. (2) Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (3) Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di KampungTanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (4) Kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (2) Untuk mendeskripsikan peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (3) Untuk mengetahui peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (4) Untuk mendeskripsikan kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Penelitian ini bersifat kualitatif. Pertimbangan dalam menetapkan jenis penelitian kualitatif adalah karena masalah penelitian ini menyangkut kebijakan dan data yang diinginkan adalah dalam konteks apa adanya. Penelitian kualitatif juga merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Metode yang digunakan yaitu observasi dan wawancara.
Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Terdapat beberapa aspek diantaranya memberikan contoh tentang berkata jujur dan berbuat jujur, memberikan nasehat, memberikan perhatian dan memberikan hukuman. Sedangkan strategi yang diterapkan adalah bekerjasama dengan suami dan istri, menciptakan keluarga yang harmonis dan bekerjasama dengan sekolah tempat remaja menuntut ilmu. (2) Peran orang tua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Memiliki berbagai aspek diantaranya menggunakan metode yang tepat seperti metode keteladanan, ceramah, perhatian, nasehat, dan hukuman. (3) Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Terdapat beberapa aspek yang dilakukan diantaranya menanamkan pengetahuan akhlak Agama seperti rasa takut, cinta kepada Allah Swt, ridha dan tawakal kepada Allah Swt. Selanjutnya memberikan perhatian, nasehat dan hukuman dan mengajak remaja untuk mengikuti pengajian remaja di Masjid. (4) Kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Adalah lingkungan tempat tinggal yang kurang bagus, keluarga yang kurang harmonis, pengetahuan Agama Islam rendah yang dimiliki oleh orangtua dan pengawasan yang kurang dari orangtua dan masyarakat.
Jadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah: bahwasanya orangtua remaja di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Telah melaksanakan peranannya dalam membina kejujuran remaja baik itu kejujuran dalam perkataan, perbuatan dan  akhlak. Dalam membina kejujuran remaja, orangtua menemui beberapa kendala di antaranya keadaan lingkungan yang kurang baik, keluarga yang kurang harmonis, pengetahuan Agama yang rendah dari orangtua dan kurangnya partisipasi masyarakat.
Saran penulis setelah dilakukan penelitian ini, diharapkan kepada orangtua agar benar-benar menyadari tanggung jawabnya serta peranannya sebagai orangtua yaitu mendidik, membimbing, membina serta memperhatikan anak-anaknya agar menjadi anak yang berkrakter terutama dalam kejujuran.












BAB I
PENDAHULUAN

A.  Konteks Penelitian
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia. Pendidikan itu juga merupakan suatu kebutuhan potensi sumber daya manusia. Pendidikan itu juga merupakan suatu kebutuhan manusia yang terus menunjukan perkembangannya. Hal ini menunjukan bahwa dalam diri manusia itu terdapat kemampuan dasar atau fitrah yang perlu bimbingan dari pendidik. Berarti manusia memerlukan pendidikan dalam arti yang luas.
Pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. (Hasbullah, 2009: 4).
Proses pendidikan pertama kali di awali dalam lingkungan keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang ditemui oleh anak. Dalam lingkungan keluarga pendidik yang utama adalah orangtua. “Hal ini disebabkan karena secara alami anak-anak pada masa-masa awal kehidupannya berada ditengah-tengah ayah dan ibunya. Dari ayah dan ibu keterampilan hidup banyak tertanam sejak anak berada ditengah-tengah orang tuanya”. (Ramayulis, 2008:60). Dalam hal ini Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa “tanggung jawab utama orangtua dalam mendidik anak adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak sampai mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri, membersihkan, menyucikan serta membawa hati anak untuk bertakwa kepada Allah Swt”. (Beni Ahmad Saebani, 2009:218).
Rasulullah Saw menjadikan pendidikan anak sebagai tanggung jawab penuh kedua orangtua. Rasulullah mengatur ketentuan yang mendasar tentang besarnya pengaruh kedua orangtua dalam membentuk Agama anak. Orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Apabila orangtua dapat membina anaknya sesuai dengan ajaran Islam, maka anaknya akan dapat menampilkan kepribadian yang sesuai dengan akhlak Islam, akan membawa keselamatan hidup mereka dunia dan akhirat. Dengan demikian, orangtua dituntut untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak sejak dari kecil dan ini harus mendapat perhatian penuh dari orang tua kalau tidak maka akan sulit untuk disarahkan. Hendri Suhendi menjealaskan:
Anak adalah amanat yang berada dipundak orangtuanya. Qalbunya yang murni bersih, seperti mutiara yang tidak ternilai. Bila dibiasakan dengan didikan kebaikan, dia akan tumbuh menjadi orang baik dan bahagia didunia dan akhirat. Apabila dibiarkan pada kejelekan seperti layaknya hewan niscaya dia akan rusak dan menderita kalau sudah begitu keadaannya sukar untuk dididik dan mengarahkan (Hendi Suhendi, 2001:46).

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan alamiah yang melekat pada setiap rumah tangga. Keluarga memberikan pengaruh yang mendalam serta memegang peranan utama dalam proses pengembangan anak. Karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan bimbingan kepada anak sebelum anak terjun ke masyarakat. Menurut Ramayulis, menjelaskan bahwa terdapat beberapa “aspek pendidikan Islam yang menjadi tanggung jawab untuk dilaksanakan oleh orangtua terhadap anaknya. Aspek-aspek pendidikan tersebut adalah: a) Pendidikan jasmani dan kesehatanPendidikan emosi, b) Pendidikan akal, c) Pendidikan akhlak, d) Pendidikan sosial Agama, e) Pendidikan keimanan”. (Ramayulis, 1996:81-96).
Pada masa remaja merupakan masa yang sangat memerlukan bimbingan yang tepat dari orangtuanya yang berkenaan dengan kepribadian dan Agamanya, agar remaja tersebut tidak meyimpang dan terjerumus pada hal-hal yang melanggar Agama. Dengan demikian sangat memungkinkan sekali apabila religiusitas dimasa remaja tidak ada atau sangat rendah, maka remaja itu mempunyai resiko lebih tinggi untuk terlibat dalam hal-hal kemunafikan. Dalam hal ini Fuhaim Musthafa menjelaskan bahwa :
Kejujuran merupakan bagian dari seseorang dan merupakan realisasi dan akhlaqul karimah. Seorang anak hendaknya diajarkan untuk memiliki kejujuran, baik didalam perkataannya maupun didalam perbuatannya, sehingga setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sesuai dengan realitas yang ada dan tidak berbohong atau bersifat munafik dihadapan orang lain (Fuhaim Musthafa, 2008:141 ).

Dengan demikian, remaja perlu dibimbing dan diarahkan agar tetap memiliki sifat jujur yang sesuai dengan kajian akhlaqul karimah dan mengerjakan aturan Agama, sehingga remaja belajar untuk tetap bertahan dengan perkataan dan perbuatan yang mereka kerjakan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam (QS. Al-Ahzab/33:23) yang berbunyi:
z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ×A%y`Í (#qè%y|¹ $tB (#rßyg»tã ©!$# Ïmøn=tã ( Nßg÷YÏJsù `¨B 4Ó|Ós% ¼çmt6øtwU Nåk÷]ÏBur `¨B ãÏàtF^tƒ ( $tBur (#qä9£t/ WxƒÏö7s? ÇËÌÈ  
Artinya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (Depag RI, 1989:670)

“Masa remaja merupakan salah satu periode dalam tahap perkembangan manusia”. Menurut Konopka dalam (Syamsu Yusuf LN, 2006:184). Menyebutkan bahwa “seseorang dikatakan remaja adalah berusia antara dua belas tahun atau  sampai dua puluh dua tahun”. Sedangkan menurut Remplein dalam”. (Sudarsono, 2005:9). “Masa pemuda atau remaja antara umur 12 sampai 21. Disisi lain, Ramayulis mengemukakan pendapatnya bahwa masa remaja berlangsung dari umur dua belas sampai dua puluh tahun”. (Ramayulis, 1996:133). Dari penjelasan yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat dipahami dan disimpulkan bahwa rentang usia masa remaja berlansung dari usia dua belas tahun sampai usia dua puluh satu tahun. Pentingnya masa remaja ini menjadi perhatian bagi orangtua terutama dari segi pemberian pendidikan. Hal ini disebabkan bahwa masa remaja merupakan periode yang sangat penting dan sangat beresiko jika terjadi kesalahan dalam pemberian pendidikan. Sudarsono memberikan keterangan bahwa:
Dalam masa remaja awal seseorang anak belum dapat memiliki kestabilan perasaan dan emosi. Ketidakstabilan tersebut nampak jelas dalam berbagai sikap, dalam arti lain mereka belum dapat menentukan arah masa depan, menentukan bidang pekerjaan yang paling sesuai dengan bidang keahliannya, bahkan kadang-kadang tidak dapat menentukan sendiri lanjutan pendidikannya (Syamsu Yusuf LN, 2006:184).

Berdasarkan pendapat di atas, sangat jelas sekali bahwa masa remaja adalah masa dimana seseorang mengalami ketidakstabilan dalam perasaan dan emosi, oleh sebab itu pendidikan dan perhatian dari orangtua sangat dibutuhkan sekali oleh remaja. Apalagi untuk saat ini kalangan remaja banyak terjebak dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Terlihat banyak remaja terlibat perang mulut dengan orangtua mereka karena tidak mau jujur dalam menjawab pertanyaan orangtua mereka, banyak menyembunyikan kebohongan yang seharusnya mereka katakan.
Menurut Alizir Syarif yang merupakan tokoh masyarakat Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera menyatakan:
Terlihat bahwa kepribadian remaja dari segi kejujuran sangat kurang sekali. Mereka cenderung berbohong kepada orangtua mereka atau kepada siapa saja. Termasuk dalam persoalan mengerjakan ajaran Agama Islam. Seperti mengerjakan shalat, mereka cenderung berbohong atau tidak jujur apabila ditanya oleh orangtua mereka dan mengatakan telah mengerjakan shalat, padahal mereka tidak menunaikan shalat. Selai itu, apabila ditanya tentang keterlambatan pulang sekolah, mereka menjawab dengan berbagai alasan untuk menutupi kesalahannya dan masih banyak lagi yang lain yang perlu untuk diperbaiki atau ditanya sesuatu hal, remaja selalu memiliki banyak alasan yang tidak tepat. (Alizir Syarif, 26 Desember 2013).

 Menurut analisis penulis tidak ada orangtua yang tidak menyayangi dan memeberikan pendidikan Agama Islam kepada anak-anaknya, baik dari segi pemberian nafkah maupun dari segi pembinaan pengetahuan, kepribadian dan keagamaan. Akan tetapi, banyak permasalahan yang menyebabkan remaja berbuat tidak jujur terhadap orangtua mereka.
Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh dan lebih mendalam tentang penerapan pendidikan Agama Islam oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja yang dituangkan dalam bentuk penelitian ilmiah dengan judul: Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan”.
B.  Fokus Penelitian
Berdasakan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a.    Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
b.    Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
c.    Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
d.   Kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Dari masalah di atas, sebenarnya banyak yang harus diteliti, tetapi karena keterbatasan dari segi waktu, kesempatan dan kemampuan peneliti, maka penelitian ini hanya fokuskan tentang “peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.”.
C.  Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
b.      Untuk mendeskripsikan peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
c.       Untuk mengetahui peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
d.      Untuk mendeskripsikan kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
D.  Kegunaan Penelitian
a.       Bagi peneliti.
Untuk menambah ilmu pengetahuan serta pemahaman dalam penulisan karya ilmiah
b.      Bagi masyarakat
Sebagai sumbangan pemikiran kemasyarakatan tentang peran orangtua dalam membina kejujuran remaja.

c.       Bagi Universitas
Sebagai tambahan literatur pada perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
d.      Bagi Mahasiswa
Sebagai rujukan atau referensi bagi mahasiswa khususnya Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dalam membuat karya ilmiah dengan judul yang sama.
E.  Penjelasan Judul
Untuk menghindari dari kesalah pengertian dalam pemakaian istilah. Maka penulis perlu memberi penjelasan hal-hal sebagai:
Peran                   : Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Yang dimaksud disini adalah tugas atau fungsi orangtua dalam membina kejujuran remaja baik dari segi perkataan ataupun dari segi perbuatannya. (http://cutrisanurzinah. blogspot.com/2013/05/peran.html/ di unduh tanggal 04 Februari 2014: 20:17)  
Orangtua             : Dalam kamus bahasa Indonesia istilah orangtua dapat     diartikan ayah dan ibu kandung. Yang penulis maksudkan adalah orangtua yang memiliki anak remaja yang berdomisili di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. (http://cutrisanurzinah. blogspot.com/2013/05/peran.html/ di unduh tanggal 04 Februari 2014: 20:17)
Kejujuran            : Kejujuran adalah pilar utama, keimanan, kesempurnaan, kemuliaan, saudara keadilan, roh pembicaraan, lisan kebenaran, sebaik-baik ucapan, hiasan perkataan, sebenar-benar pembicaraan. (http://cutrisanurzinah. blogspot.com/2013/05/peran.html/ di unduh tanggal 04 Februari 2014: 20:17). Maksudnya adalah perbuatan yang dilakukan untuk mengatakan sesuatu hal yang benar-benar dilakukan tanpa ada unsur dusta atau bohong.
Remaja              : “Masa yang berlangsung dari umur 12 tahun sampai 21”. (Syamsu Yusuf LN, 2006:184). Yang dimaksud disini adalah anak yang sudah berusia 12 tahun sampai 21 tahun tinggal di Kampung  Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Jadi yang penulis maksud dengan judul secara keseluruhan adalah bagaimana peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
F.   Sistemtika Penulisan
Sistematika penulisan ini berisikan penjelasan tentang garis besar pembahasan yang sesuai dengan masing-masing bab yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dibawah ini akan dijelaskan sistematika penulisan yang terdiri dari lima bab.
Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi Konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penejelasan judul, sistemtika penulisan.
Bab II merupakan landasan teoritis yang meliputi konsep kejujuran, tanggung jawab orangtua dalam membina kejujuran, pembinaan kejujuran remaja dan urgensi pendidikan Agama Islam dalam membina kejujuran remaja.
Bab III merupakan metodologi penelitian yang meliputi : Rancanngan penelitian, Objek penelitian, Sabjek penelitian, Jenis data, Lokasi dan Waktu penelitian, Teknik pengumpulan data, dan Instrumen, Teknik analisis data.
Bab IV merupakan hasil penelitian yang meliputi tentang : Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Bab V merupakan penutup yang meliputi kesimpulan dan implikasi.





 







BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Kejujuran
1. Pengertian Kejujuran 
Dalam pandangan dan kajian ajaran Agama Islam, kejujuran merupakan salah satu bagian dari akhlaqul karimah yang sangat penting. Dalam pendidikan Islam, aspek kejujuran merupakan aspek pendidikan yang sangat penting, akan tetapi betapa sulitnya mencari orang yang jujur pada zaman ini. Beratnya beragam masalah dalam kehidupan yang harus dihadapi turut mendorong orang untuk memilih berbuat dusta dari pada harus jujur. Begitu pentingnya pendidikan kejujuran, sehingga ajaran Islam menganjurkan kepada orangtua untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam menerapkan pendidikan dalam kehidupan keluarga.
Rounded Rectangle: 11“Kejujuran atau jujur adalah kesesuain antara ucapan dengan kenyataan atau antara keadaan yang terlihat dengan keadaan yang tersembunyi”. (Mahmud Al-Mishri, 2008:5). Maksudnya adalah jika seseorang mengucapkan perkataan sesuai dengan apa yang terdapat didalam hatinya dan dibutikan dengan perbuatannya, maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang jujur. Selanjutnya orang yang bersikap sesuai dengan keyakinan yang terdapat didalam hatinya juga disebut dengan orang yang jujur. Sementara itu, “pendidikan kejujuran adalah pendidikan kepada anak agar ia bisa bertindak jujur, baik terhadap Allah Swt, diri sendiri maupun kepada orang lain”. (Wahyudi Siswanto, 2010:63). Dengan kata lain, anak bisa jujur baik pada saat diawasi maupun pada saat tidak diawasi.
Kejujuran merupakan kunci dalam membangun kepercayaan. Rasulullah Saw selaku manusia yang diutus oleh Allah Swt dalam mensyi’arkan ajaran Agama Islam telah memberikan contoh dengan tertanamnya sifat jujur dalam diri beliau. Untuk itu biasakanlah untuk berbuat jujur mulai dari hal-hal yang paling bersifat sederhana dan kecil. Kemudian kita harus melakukan perbuatan jujur kepada siapapun juga termasuk terhadap anak kecil sekalipun, karena Allah Swt akan menilai setiap perilaku manusia dalam menjalani kehidupannya. Dengan demikian, perbuatan jujur perlu untuk dipelihara dan dilestarikan dalam diri pribadi seseorang.
Berdasarkan penjelasan tentang konsep kejujuran dan pendidikan kejujuran di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kejujuran dalam perspektif ajaran Agama Islam adalah proses mendidik dan membentuk sifat anak agar menjadi orang yang harus dan jujur yang dimulai sejak usia anak-anak sampai menjadi seorang mukallaf yang sesuai dengan ajaran Agama Islam.
2. Macam-macam Kejujuran
  Kejujuran merupakan bagian dari akhlaqul karimah atau akhlak yang mulia. Jujur memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan. Jujur merupakan ruh amal perbuatan, poros segala keadaan, motivator untuk menerjang segala keadaan dan pintu masuk bagi mereka yang sudah menghadap (kembali) kepada Allah Swt. Dengan demikian, kejujuran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kepribadian manusia. “Menurut Mahmud Al-Mishri membagi kejujuran dalam lima aspek, yaitu : a) Jujur dalam berkata, b) Jujur dalam niat dan kemauan, c) Jujur dalam tekad dan pelaksanaannya, d) Jujur dalam berbuat, e) Jujur dalam akhlak Agama”. (Mahmud Al-Mishri, 2008:24-28).
Adapun penjelasan dari lima aspek diatas adalah sebagai berikut :
     a. Jujur dalam berkata.
                     Jujur dalam perkataan maksudnya adalah mengatakan bagaimana keadaan yang sebenarnya, tidak mengada-ada dan tidak pula menyembunyikan. Lain halnya apabila yang disembunyikan itu bersifat rahasia atau menjaga nama baik seseorang. Setiap orang harus menjaga kata-katanya dan tidak berbicara kecuali dengan jujur. Jujur dengan lisan adalah kejujuran paling jelas. Semestinya perkataan harus dijaga dari ungkapan yang dimaksudkan dengan makna lain secara tidak lansung karena ia menyerupai dusta. Untuk itu, seseorang sangat perlu kiranya untuk memperhatikan makna kejujuran ini dalam lafazh-lafazh munajatnya kepada Allah Swt atau jujur dalam persoalan jual-beli (muamalah). Dengan demikian, kejujuran harus ada dalam setiap kata yang keluar dari mulut orang yang beriman, walaupun dalam perkataan yang dimaksudkan untuk bergurau.


b. Jujur dalam niat dan kemauan
Kejujuran dalam niat dan kemauan kembali pada keikhlasan. Apabila amal perbuatannya dicampuri dengan sedikit pamrih diri, hilanglah kebenaran niatnya. Maksudnya adalah apabila niat dan tujuan seseorang adalah dunia, bukan karena Allah Swt, maka sia-sialah kejujuran yang dilakukan
c. Kejujuran dalam tekad dan pelaksanaannya
Adapun kejujuran dalam pelaksanaan tekad minsalnya dengan melaksanakan tekad itu jiwanya rela, karena tidak ada kesulitan di dalamnya. Dengan demikian, tekad harus diucapkan dengan kesungguhan dan tidak harus ada keraguan di dalam pelaksanaannya.
d. Kejujuran dalam berbuat
Jujur dalam berbuat maksudnya adalah mengerjakan segala sesuatu dengan petunjuk Agama Islam, apa yang boleh dikerjakan menurut perintah Agama berarti itu adalah benar dan apa yang tidak dikerjakan sesuai dengan larangan Agama berarti itu tidak dibenarkan oleh Agama. Dengan demikian, kesamaan antara batin dan lahirnya harus sama, sehingga amalan lahirnya. Kejujuran adalah asas iman dan syarat diterimanya amalan dan ketaatan. Dengan kejujuran, pahala dan ketinggian derajat diakhirat akan didapatkan. Kejujuran adalah kunci segala kebaikan, kejujuran adalah pembela antara orang-orang beriman dan munafik.

e. Kejujuran dalam akhlak Agama.
Kejujuran dalam tahap ini merupakan kejujuran yang tertinggi, seperti kejujuran takut kepada Allah Swt, ridha, cinta dan tawakal kepada Allah Swt. Dengan demikian, orang yang jujur dengan sebenarnya adalah orang yang mencapai hakikatnya. Untuk itu perlu adanya keselarasan antara kejujuran dan akhlak Agama. Artinya adalah kejujuran harus mengikuti tuntunan dan panduan akhlaqul karimah yang terangkum dalam kajian ajaran Agama Islam.
B. Tanggung jawab Orangtua Dalam Membina Kejujuran
            Orangtua merupakan guru yang pertama bagi anak, orangtua sebagai pendidik, dalam ajaran Islam sangatlah dihargai kedudukannya. Dalam rumah tangga orangtua merupakan pendidikan yang pertama bagi anak selama anak berada dalam lingkungan keluarga. Keluarga adalah wadah utama dan pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan tumbuh baik pula dan jika tidak, maka terlambatlah pertumbuhan anak tersebut. Kedudukan orangtua dalam lingkungan keluarga sangatlah penting terutaman ibu. Karena dialah yang banyak menentukan bagi ketenangan rumah tangga serta bagi pendidikan anak-anaknya. Zakiah Dradjat dalam hal ini memberikan urauian tentang tanggung jawab orangtua menurut pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1.   Memilihara dan membesarkan anak.
2.   Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan, dari tujuan hidup yang sesuai dengan falsafah dan Agama yang dianutnya.
3.   Memberi pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat digapainya.
4.   Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim (Zakiah Dradjat, 2009:38).


Menurut analisa penulis bahwa keluarga disini adalah keluarga rumah tangga yang terdiri dari suami, istri mnelalui perkawinan yang sah menurut ajaran Agama Islam. Kedudukan orangtua dalam lingkungan keluarga sebagai pemimpin, sehingga mampu membentuk dan membina keluarga menjadi keluarga yang Islami. Ayah sebagai pemimpin yang tertinggi, sedangkan ibu pengasuh bagi anak-anaknya. Orangtua dituntut agar dapat mempersiapkan anaknya menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bermanfaat bagi dunianya sendiri dan bagi pergaulan masyarakat sekelilingnya, yaitu dengan cara memberikan bimbingan baik dalam bentuk bimbingan rohani maupun bimbingan jasmani yang sempurna, membekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup, serta budi pekerti yang baik. Hal ini bertujuan agar anak memiliki kecerdasan dan berjiwa dinamis (berkembang).
Anak tidak hanya mempunyai kebutuhan jasmani saja, akan tetapi juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan kejiwaan yang menentukan perkembangan selanjutnya. Sedikitnya terdapat dua kebutuhan kejiwaan yang terpokok yang harus dipenuhi sejak lahir, yaitu kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa aman. Setelah lahir ia membutuhkan pemeliharaan dari orang yang membantunya melindunginya dari terpaan udara, baik panas maupun dingin, serta berbagai gangguan yang dapat menyakitinya. Ia memerlukan bantuan dari orang yang mengerti kebutuhannya dan bersegera membantunya setiap saat. Tanggung jawab ibu terhadap anak dihari depan sampai nasibnya di akhirat nanti. Janji Allah Swt, bahwa kehidupan di akhirat nanti adalah kehidupan yang sebenarnya, yang dirasakan hasil perbuatan selama di dunia. Bila amal sholehanya banyak, ia diberi kehidupan yang baik dan dimasukkan ke dalam surga.
Cara paling tepat mendidik anak-anak agar memiliki kejujuran adalah dengan memberikan pelatihan tentang bagaimana cara bersikap dan berbuat jujur. Dengan cara ini kita membiasakan anak-anak untuk bersikap jujur dan menyenangkan kejujuran. Akan tetapi, menimal anak-anak dapat menghayati bahwa dia bersama orangtuanya menerapkan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua selaku pendidik pada hakekatnya mengemban misi rahmat, seluruh amal, yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah Swt, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, kemudian misi ini dikembangkan kepada pembentukkan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan bermoral tinggi. Untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik hendaknya bertolak pada amar ma’ruf nahi munkar, menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi iman.
Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategi dalam pembentukan kepribadian anak, sejak kecil anak sudah mendapat pendidikan dari orangtuanya melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga, baik tidaknya keteladanan yang diberikan dan bagaimana kebiasaan hidup orangtua sehari-hari dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Keteladanan dan kebiasaan yang orangtua tampilkan dalam bersikap dan berprilaku tidak terlepas dari perhatian dan pengamatan anak. Meniru kebiasaan hidup orangtua adalah suatu hal yang sering dilakukan oleh anak, karena memang pada masa perkembangan, anak selalu ingin meniru ini dalam pendidikan dikenal dengan istilah anak belajar melalui imitasi  (Syaiful Bahri Djamarah, 2004:24-25).


Kalau dilihat dari “tujuan pendidikan Islam, orangtua harus bisa mendidik anak-anaknya untuk mau melaksanakan. Supaya penerapan kejujuran dapat terlaksana dengan baik, orangtua harus mempunyai perhatian yang khusus dan mempergunakan cara-cara yang tepat terhadap anak-anaknya”. (Zakiah Deradjat, 1996:57). Jika orangtua ingin berhasil mendidik anak-anaknya sehingga anaknya mau mengikuti apa yang diperintahkan orangtuanya terutama mengenai penerapan sikap jujur, terlebih dahulu orangtua harus bisa membina keserasian dan kerukunan dalam rumah tangga, sebab orangtua adalah tumpuan bagi anak-anaknya, apa saja yang dilakukan orangtua dapat membentuk kepribadian anaknya kelak setelah dewasa.
C. Pembinaan Kejujuran Remaja
“Seorang anak hendaklah diajarkan untuk memiliki sifat yang jujur, baik didalam perkataan maupun dalam perbuatannya, sehingga setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sesuai dengan realitas yang ada, tidak berbohong atau bersifat munafik dihadapan orang lain”. (Fuhaim Musthafa, 2008:141). Dalam pelaksanakan pembinaan supaya sikap dan sifat jujur pada anak dapat tertanam dan terlaksana dengan baik, orangtua hendaknya mengetahui perkembangan jiwa anak, hal ini berguna untuk memudahkan orangtua dalam mencapai tujuan dan pendidikan yang dimaksud. Untuk jelasnya penulis akan coba menguraikan satu persatu tentang metode pembinaan kejujuran yang harus dilakukan oleh orangtua sebagai bukti tanggung jawab orangtua terhadap anak yaitu :
1.    Pendidikan dengan Keteladanan
Menusia diciptakan oleh Allah Swt dengan dibekali kemampuan untuk mencontoh hal-hal yang sering kita lihat pada lingkungan yang dekat dengan kehidupannya, keadaan yang terjadi disekitarnya akan ikut berperan membentuk karakter dan tigkah lakunya. Oleh sebab itu dalam hal ini orangtua harus bisa mengambil mengambil kebijaksanaan yang harus ia lakukan dalam rangka mengkondisikan lingkungan pendidikan agar menjadi lingkungan yang kondusif, salah satu usaha tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk usaha pendidikan untuk memberikan contoh yang baik bagi anaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad D. Marimba yang menjelaskan : “Mereka senang sekali meniru tingkah laku dan cara-cara orang lain terutama tingkah laku orang yang dikasihinya, tingkah laku kepada siapa anak itu mengidentifikasikan dirinya”. (Ahmad D. Marimba, 1982:84).
Masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak, jika orangtua jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan Agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran. Begitu juga sebaliknya jika orangtua pembohong, kikir, penakut dan hina maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan. Untuk itu setiap proses, orangtua harus berusaha menjadi teladan yang baik bagi kepribadian anaknya karena orangtua dapat dijadikan panutan yang dapat memahami perkembangan jiwanya, meredakan gejolak emosi yang dapat meredakan hatinya serta membimbing ke arah pertumbuhan sosial yang dapat dan wajar. Dalam hal ini Wahyudi Siswanto menjelaskan bahwa :
Pendidikan kejujuran adalah pendidikan kepada anak agar ia bisa bertindak jujur, baik kepada Tuhan, dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Ia bisa jujur, baik saat diawasi maupun pada saat ini tidak diawasi. Dengan demikian, kejujuran merupakan kunci untuk membangun kepercayaan. (Siswanto Wahyudi, 2010:63).

Dari pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa pembinaan dengan keteladanan adalah salah satu bentuk pembinaan yang paling membekas dan sangat berpengaruh bagi anak dalam pembinaannya. Rasulullah Saw dalam memberikan pembinaan adalah dengan pembinaan keteladanan dan merupakan pembinaan yang paling berhasil dilaksanakannya adalah memberikan teladan yang baik. Rasulullah Saw dalam mendakwahkan Agama Islam memberikan teladan yang baik kepada umatnya, merupakan prioritas utama yang paling banyak dilakukan Nabi Muhammad Saw menjalankan tugas kenabiannya dengan mengajarkan dan memperlihatkan kepada umatnya lebih banyak contoh-contoh yang baik. Hal inilah yang menjadikan beliau sebagai sosok yang sangat dicintai oleh umatnya dan menjadi orang yang disegani bagi lawan-lawannya. Beliau selalu terlebih dahulu mempratekkan semua ajaran yang disampaikan oleh Allah Swt sebelum menyampaikan kepada umat, sehingga tidak ada cela bagi orang-orang yang tidak senang untuk membantah dan menuduh bahwa Rasulullah Saw hanya pandai bicara dan tidak pandai mengamalkan.
Bagi seorang kepala pendidik, profil seperti yang telah Nabi Muhammad Saw perlihatkan dalam tugas dakwahnya merupakan surat landasan bagi seorang pendidik dan pembina untuk bisa memposisikan diri sebagai teladan yang baik bagi para peserta didiknya, dengan melihat pentingnya posisi pendidik di dalam proses pendidikan.
2.    Pendidikan dengan Pembiasaan
         Dalam kaitannya dengan metode pengajaran dalam pendidikan Islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan orangtua untuk memebiasakan anak berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran Agama Islam. Pendidikan dengan mengajarkan dan pembiasaan adalah pilar terkuat dalam pendidikan dan metode paling efektif dalam membentuk iman anak serta meluruskan akhlaknya.
Pembiasaan itu bertujuan untuk penanaman kecakapan berbuat dan mengucapkan sesuatu agar cara yang yang tepat dapat dikuasai oleh si terdidik, tapi pembentukan kepribadian tidaklah cukup sampai di sana, pembiasaan ini harus merupakan persiapan untuk pendidikan selanjutnya. (Ahmad D. Marimba,1982:82).

Tidak diragukan bahwa mendidik dan membiasakan berbuat kecil adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil, sebab apabila terbiasa dengan kebiasaan baik sejak kecil maka itu akan menjadi kebiasaan baginya sampai dewasa bahkan sampai tua. Begitupun sebaliknya, jika terbiasa dengan yang buruk maka hal itu akan menjadi kebiasaan baginya sampai dewasa dan akan sulit untuk merubahnya kembali. Tetapi apabila anak itu dibiasakan untuk mengamalkan apa-apa yang baik dan diberi pendidikan ke arah yang lebih baik pastilah ia akan tumbuh di atas kebaikan tersebut akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Pembiasaan ini dimaksudkan agar dimensi jasmaniah dan kepribadian anak dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara. Tahap pembiasaan ini menjadi penopang dan sebagai persiapan yang mendasar untuk kehidupan anak dan perkembangan kepribadian anak di masa yang akan datang.
3.    Pendidikan dengan Nasehat
            “Metode lain yang penting dalam pembinaan, pembentukan keimanan, mempersiapkan moral, spritual, dan sosial anak adalah dengan memberikan nasehat”. (Ramayulis, 2004:171). Sebab dengan nasehat ini dapat membukakan mata anak-anak hakekat sesuatu dan mendorongnya menuju situasi luhur, menghiasinya dengan kejujuran dan akhlak mulia serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.
            Cara ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an karena nasehat pada dasarnya bersifat menyampaikan pesan dari sumbernya kepada pihak yang memerlukannya. Banyak dalam al-Qur’an berupa nasehat atau cerita mengenai para Rasul atau Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw yang bertujuan menimbulkan kesadaran bagi yang mendengarkan atau yang membacanya, agar meningkatkan Iman dan perbuatan kebaikan dalam menjalani hidup dan kehidupan masing-masing.
4.    Pendidikan dengan memberikan Perhatian
            Perhatian merupakan keaktifan jiwa yang diarahkan kepada suatu objek baik didalam maupun diluar dirinya. Yang dimaksud pendidikan dengan memberikan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembina aqidah, ibadah, moral dan kejujuran, kesiapan spritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan rohani.
            Memberikan perhatian akan sangat membantu psikologi anak, sebab dalam masa usia remaja adalah masa-masa haus dengan perhatian, terkadang untuk mencari perhatian dia akan melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik agar orang lain memperhatikannya, kondisi seperti ini bisa kita ibaratkan dengan seorang balita yang menangis karena ingin mendapatkan pelukan kasih sayang ibunya, begitupun masa remaja, sperti apa yang telah disinggung bahwa usia remaja merupakan usia yang membutuhkan perhatian dari orang sekelilingnya, karena ia sedang mempunyai keinginan untuk dihargai oleh lingkungan, untuk membimbing mereka menjadi remaja-remaja yang berkualitas salah satunya adalah dengan memberikan perhatian.


5.    Pendidikan dengan Hukuman
Di samping metode-metode yang telah dibahas di atas, metode hukuman juga diterapkan oleh orangtua dalam menjalankan proses pembinaan yang sedang dilakukan. Ramayulis mendefenisikan bahwa  “Hukuman sebagai tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, sehingga anak akan menjadi sadar dan berjanji tidak akan mengulanginya”. (Ramayulis, 2004:188-189).
Dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan dengan hukuman merupakan metode yang dapat memberikan dampak psikologi bagi anak, namun penerapan cara seperti ini hanya bisa dilakukan apabila metode yang lain tidak lagi mampu merubah sikap dan tingkah lakunya. Dalam al-Qur’an hukuman biasa dikenal dengan nama azab, seperti dalam firman Allah Swt (QS. At-Taubah/9:74) yang berbunyi :
....u bÎ)ur (#öq©9uqtGtƒ ãNåkö5Éjyèムª!$# $¹/#xtã $VJŠÏ9r& Îû $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur 4 $tBur öNçlm; Îû ÄßöF{$# `ÏB <cÍ<ur Ÿwur 9ŽÅÁtR ÇÐÍÈ  
Artinya: ...dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (Depag RI, 1989:291-292).

Ayat di atas menyatakan bahwa jika mereka berpaling dari taubat yang diserukan kepada mereka, dan terus menerus melakukan kemunafikan serta kerusakan akhlak dan jiwa yang lahir dari padanya, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia, yaitu dengan membuat hati mereka selalu dicekam ketakutan dan kegelisahan. Di seluruh muka bumi, mereka tidak akan mendapatkan orang yang mengurus urusan mereka, menolong dan melindungi mereka, karena orang yang telah dibiarkan oleh Allah tidak akan ada seorangpun yang dapat menolongnya.
Dalam melakukan hukuman bagi anak yang melakukan kesalahan dan patut mendapatkan hukuman, maka seorang pendidik harus berusaha memberikan pengertian kepada anaknya bahwa yang dihukum itu pada hakikatnya bukan diri mereka, tapi yang dihukum itu adalah kesalahan mereka. Apabila kesadaran ini ada dalam diri anak-anak, mereka akan sadar bahwa kesalahan yang mereka perbuat akan membawa sengsara dan kerugian bagi diri mereka sendiri dan juga bagi masyarakat, kesadaran inilah yang akan melahirkan akhlak yang baik dari dalam diri mereka.
Demikianlah secara garis besar metode yang digunakan dalam upaya pembinaan akhlak, jika keseluruhan metode tersebut terlaksana dengan baik, insya’allah akan terbentuk manusia yang berkepribadian mulia sebagaimana yang dianjurkan dalam Islam, apabila metode ini tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, maka akan sulit membina generasi berikutnya.
Orangtua memegang peranan penting dan tidak dapat dibebaskan dari tanggung jawab pendidikan anak. Bahkan ia memegang tanggung jawab yang sangat besar sebelum anak-anaknya memasuki pendidikan formal, karena guru yang pertama bagi mereka adalah kedua orangtuanya. Segala sesuatu gerak-gerik dan tindakan orangtua menjadi kebiasaan bagi anak hingga dia dewasa. Jika orangtua tidak cepat mengantifikasi hal buruk yang dia dapati dari dalam rumah tangga atau lingkungan sekitarnya, maka hal-hal yang tidak diingini akan terjadi setelah si anak remaja atau dewasa.
Seiring dengan itu, Agama Islam datang dengan sebuah konsep bahwa anak yang sering membawa fitrah atau potensi, maka disini dituntut peran orangtua untuk memupuk dan mengembangkan fitrah atau potensi tersebut ke arah yang lebih baik. Hal ini dipertegas oleh Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa “anak sejak lahir membawa potensi berupa ibadah-ibadah atau bentuk yang di isi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang sesuai dengan kedudukan sebagai makhluk yang baik dan mulia”. (Zakiah Daradjad, 1996:165).
Dengan demikian, sangat jelas bahwa orangtua memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Anak dilahirkan dalam keadaan suci atau polos adalah menjadi tanggung jawab orangtua untuk mendidik dan mengarahkannya serta memiliharanya. Di sini letak tanggung jawab orangtua untuk mendidik anaknya, karena anak adalah amanat Allah Swt yang diberikan kepada kedua orangtua yang kelak akan diminta pertanggung jawaban atas pendidikan anak-anaknya. Dalam urusan rumah tangga laki-laki (ayah) adalah sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin (kepala keluarga) suami bertanggung jawab penuh terhadap keluarga dalam segala hal. Kepemimpinan di sini bermakna kasih sayang perlindungan, pendidikan, bimbingan, dan kekuasaan yang manusiawi.
Konsep kepemimpinan dalam konsep ini bukan dimaksudkan sebagai kekuasaan yang sewenang-wenang, kepemimpinan ini tidak dimaksudkan pula untuk menghilangkan rasa kerjasama antara suami istri dalam mengatasi berbagai persoalan rumah tangga dan merawat anak. Rasulullah Saw sebagai uswah bagi para umatnya juga melayani dan pemilihara keluarganya dirumah. Di lihat dari hubungan dan tanggung jawab orangtua terhadap anak, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, sebab guru dan pimpinan umat umpamanya dalam memikul tanggung jawab pendidikan hanyalah merupakan keikutsertaan. Dengan kata lain tanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh para pendidik selain orangtua adalah merupakan pelimpahan dari tanggung jawab orangtua yang karena suatu dan lain hal tidak mungkin melaksanakan pendidikan anaknya secara sempurna. Zakiah Daradjad, tanggung jawab orangtua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan adalah :
1.    Memberi nama yang baik
2.    Beraqiqah pada hari ketujuh dari kelahirannya
3.    Membaguskan akhlaknya , memberi pelajaran agama
berdasarkan al Qur'an dan Hadits
  4. Mengkhitankan
5. Memberi ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan
6. Memberi makan dan minum yang halal
7. Menikahkan
8. Memberi atau meninggali harta (bila ada) (http://kewajiban- orang.blogspot.com/ di unduh tanggal 08 Februari 2014: 17:19).

Untuk mendidik seorang anak terutama bidang Agama sangat dituntut tanggung jawab orangtua agar anak tahu dengan Agama, jujur, tahu dengan adab dan segala sendi kehidupan, baik yang berhubungan dengan Allah Swt maupun yang berhubungan dengan manusia sebagi makhluk sosial. Anak merupakan amanah Allah Swt yang tidak dapat disia-siakan tentang kebutuhan hidup lahir dan batin. Kebutuhan lahirnya adalah berupa makan, minum, pakaian dan memilihara kesehatannya. Sedangkan kebutuhan batinnya adalah dengan mengisi dadanya dengan keiaman dan pendidikan mental, dengan mental taqwa dan memberinya berbagai ilmu dan keterampilan demi kelangsungan hidupnya.
Jadi dalam keluarga orangtua wajib mendidik dan membimbing para putranya di dalam urusan kejujuran dan akhlak yang lainnya. Hal ini untuk menghadapi dunia yang memiliki berjuta pengaruh yang beraneka ragam bentuk dan coraknya itu yang dapat mengiyahkan dan membahayakan pribadi anak, maka untuk itu tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak sangat doperhatikan. Anak harus mengetahui batas-batas yang jelas antara yang baik dengan yang jelek, antara susila dengan kebejatan moral yang tentu saja dalam batas-batas pengertian yang sesuai dengan kemampuan pemahaman anak, karena anak yang bejat moralnya akan menimbulkan berbagai akibat yang dapat merusak dirinya sendiri, masyarakat dan bisa juga durhaka atau melawan kepada orangtua.
Karenya bilamana anak telah mengenal dunia dan dunia masyarakat lingkungannya, orangtua hendaknya selalu mengawasi atau mengontrol sampai dimana daya tahan mental si anak mengahdapi pengaruh luar. Memang berat untuk membangun pribadi manusia dengan kejujuran yang baik karena akan berhadapan dengan berbagai macam kendala serta pengaruh baik dari luar maupun dari dalam dirinya dari sifat-sifat egois, yang merupakan pekerjaan yang tidak ringan.
D. Urgensi Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Kejujuran Remaja
Pendidikan Agama merupakan hal yang penting dalam kehidupan remaja. Pendidikan agama merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada anak sejak dini ketika masih muda. Hal tersebut  mengingat bahwa pribadi anak pada usia kanak-kanak masih muda untuk dibentuk dan anak didik masih banyak berada di bawah pengaruh lingkungan rumah tangga. Mengingat arti strategis lembaga keluarga tersebut, maka pendidikan Agama yang merupakan pendidikan dasar itu harus dimulai dari rumah tangga oleh orangtua (http://hunafa.stain-palu.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/5-Jumri.pdf/ di unduh tanggal 08 Februari 2014: 22:12).  Apabila religiusitas di masa remaja tidak ada atau sangat rendah, maka remaja ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk terlibat dalam penyalahgunaan obat atau narkotika dan alkohol. “Melalui Agama remaja akan mencapai tahap kematangan sikap, perilaku, kejujuran, kebiasaan dan pengembangan wawasan dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan baik secara pribadi maupun secara sosial”. (Syamsu Yusuf LN, 2006:186).
Dengan demikian, religiusitas remaja sangat penting baginya karena akan memberi pengaruh pada pola hidup, sikap kejujuran, memiliki arah yang mempunyai tujuan yang benar. Disamping itu, menambah wawasan dan kematangan bagi remaja dalam menghayati dan menerapkan kegiatan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. “Selanjutnya sifat jujur dimiliki akan mendatangkan keberkahan dalam rezeki serta dapat membantu seorang muslim untuk meraih nurani yang tentram dan jiwa yang damai”. (Fuhaim Musthafa, 2008:141). Firman Allah Swt (QS. Al-Ahzab/33:23) yang berbunyi :
z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ×A%y`Í (#qè%y|¹ $tB (#rßyg»tã ©!$# Ïmøn=tã ( Nßg÷YÏJsù `¨B 4Ó|Ós% ¼çmt6øtwU Nåk÷]ÏBur `¨B ãÏàtF^tƒ ( $tBur (#qä9£t/ WxƒÏö7s? ÇËÌÈ  
     Artinya : Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). (Depag RI, 1989:670)

Maksud saya di atas adalah menunggu apa yang telah Allah Swt janjikan kepadanya. Artinya adalah bahwa orang-orang mukmin yang mendekatkan diri kepada Allah akan menepati janji yang mereka ungkapkan kepada Allah, maka sebagai makhluk yang menyatakan dirinya beriman dan percaya kepada Allah Swt tidak sulit bagi mereka untuk menepati janji yang mereka katakan.
Dengan demikian, orangtua dituntut untuk menjadikan remaja mereka menjadi remaja yang betul-betul mukmin. Dengan mengajarkan segala ilmu pengetahuan tentang ajaran Agama Islam. Sehingga remaja yang betul-betul mukmin mampu menepati janji yang telah mereka ungkapkan, baik untuk diri sendiri maupun kepada orang lain. Bagi remaja, Agama merupakan sesuatu hal yang sangat penting, salah satu faktor yang sangat mendukung adalah untuk memperbaiki mental Agama, melatih sifat dan sikap kejujuran mereka. Bahkan banyak remaja yang memiliki potensi dan memiliki minat terhadap kegiatan keagamaan. Hal itu dapat dilihat begitu antusiasnya remaja mengikuti berbagai bentuk peringatan-peringatan keagamaan. Di samping itu, orangtua perlu menanamkan akhlak Agama kepada remaja dalam rangka membentuk kejujuran yang baik dalam diri dan kehidupannya. Di antara akhlak Agama yang perlu untuk ditanamkan adalah:
1.    Jujur dalam bertauhid
2.    Jujur dalam mencintai Allah dan Rasulnya
3.    Jujur dalam mencintai akhirat dan zuhud terhadap dunia
4.    Jujur dalam bersaudara
5.    Jujur dalam keikhilasan
6.    Jujur dalam kesucian
7.    Jujur dalam menuntut ilmu (Muhamud Al-Mishri, 2008:127-128).

     Remaja memiliki kreasi, minat beragama, potensi, mencari jati diri, sehingga tidak jarang pada masa remaja sering mengalami frustasi dalam hidupnya, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, sosial maupun moral. Kondisi ini merupakan bahaya yang dapat membuat seseorang jatuh pada hal-hal yang dapat merusak dirinya sendiri ataupun orang lainnya. Maka dengan adanya kehidupan keberagamaan yang dilakukan oleh remaja, diharapkan dapat menentramkan hatinya sehingga memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan keberagamaan dan hidup lebih baik.

















BAB III
                                       METODELOGI PENELITIAN        

A.  Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif, pertimbangan dalam menetapkan jenis penelitian kualitatif adalah karena masalah penelitian ini menyangkut kebijakan dan data yang diinginkan adalah dalam konteks apa adanya tanpa pengendalian variabel-variabel tertentu. Penelitian kualitatif berangkat dari kasus-kasus bersifat khusus berdasarkan pengalaman nyata (ucapan perilaku subjek penelitian atau situasi lapangan penelitian) untuk kemudian dirumuskan menjadi model, konsep, teori, prinsip, proposisi, atau defenisi yang bersifat umum. (Deddy Mulya, 2008: 156).
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merasa tidak tahu apa yang tidak diketahui, sehingga desain penelitian yang dikembangkan selalu merupakan kemungkinan yang terbuka akan berbagai perubahan yang diperlukan dan lentur terhadap kondisi yang ada di lapangan pengamatan. (Nurul Zuriah, 2006 : 91).
33
 
Secara garis besar yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati (Bogdan dan Tylor dalam Moleong 1990). Penelitian kualitatif memerlukan ketajaman analisis, objektivitas, sistematis dan sistemik sehingga diperoleh ketepatan dalam interpretasi, sebab hakikat dalam suatu fenomena atau gejala bagi penganut penelitian kualitatif adalah totalitas atau Gestalt. Analisis yang digunakan dalam penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif-analitis yang berarti interpretasi terhadap isi dibuat dan disusun secara sistemik atau menyeluruh dan sistematik.
Menurut Biklen; Lincoln dan Guba dalam Moleong; Nana Sudjana dan Ibrahim; H.B Mustopo ciri atau karakteristik penelitian kualitatif adalah:
1.         Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung.Penelitian kualitatif  mengadakan penelitian pada konteks dari suatu keutuhan sebagaimana adanya (alami) tanpa dilakukan perubahan dan intervensi oleh peneliti. Peristiwa (sosial, pendidikan) merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Dalam hal ini peneliti pergi atau berada di lokasi untuk memahami, mempelajari perilaku insani dalam konteks lingkungannya sebagaimana yang ditunjukkan.
2.         Manusia merupakan alat (instrumen) utama pengumpulan data. Penelitian kualitatif menghendaki peneliti atau dengan bantuan orang lain sebagai alat utama pengumpulan data. Hal ini dimaksudkan agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Dengan alat yang bukan manusia, apalagi dengan alat yang sudah dipersiapkan tanpa melihat lapangan, penyesuaian tidak mungkin dapat dilaksanakan. Manusia sebagai alat (human instrumen) dapat berhubungan dengan responden dan mampu memahami, menanggapi, dan menilai makna dari berbagai bentuk interaksi di lapangan.
3.         Analisis data dilakukan secara induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi di mulai dari data empiris. Peneliti terjun ke  lapangan, mempelajari, menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Dengan demikian, temuan penelitian di lapangan yang kemudian di bentuk ke dalam bangunan teori , hukum, bukan dari teori yang telah ada, melainkan dari data lapangan (induktif) (Nurul Zuriah, 2006 :91-93).

Dari beberapa ciri atau karakteristik diatas dapat penulis pahami bahwa,     penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan langsung keabsahannya, karena dalam penelitian kualitatif ini peneliti benar-benar langsung turun kelapangan untuk mencari kebenaran tentang suatu fakta yang akan di teliti, dan penelitian kualitatif ini merupakan penelitian yang apa adanya atau alami tanpa adanya rekayasa.
Prosedur dan tahap-tahap penelitian kualitatif :
1.    Menetapkan fokus penelitian
Prosedur penelitian kualitatif mendasarkan pada logika berfikir induktif sehingga perencanaan penelitiannya bersifat sangat fleksibel. Walaupun bersifat fleksibel, penelitian kualitatif harus melalui tahap-tahap dan prosedur penelitian yang telah ditetapkan. Sama halnya dengan penelitian kualitatif, hal pertama yang dilakukan sebelum memulai seluruh tahap penelitian kualitatif adalah menetapkan “research question”. Research Question yang dalam penelitian kualitatif disebut sebagai “fokus penelitian”, adalah pertanyaan tentang hal-hal yang ingin dicari jawabannya melalui penelitian tersebut.
2.    Menentukan setting dan subjek penelitian
Dalam penelitian kualitatif, setting penelitian menunjukkan komunitas yang akan di teliti dan sekaligus kondisi fisik dan sosial. Setting penelitian akan mencerminkan lokasi penelitian yang langsung melekat pada fokus penelitian yang sudah ditetapkan sejak awal. Subjek penelitian akan menjadi informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informasi penelitian ini meliputi: pertama, informasi kunci yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian, kedua, informasi utama yaitu mereka yang terlibat langsung  interaksi sosial yang di teliti, ketiga, informasi tambahan yaitu memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang di teliti.
3.    Pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data
Metode dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dengan melakukan pengamatan atau observasi dan wawancara mendalam atau in-depth interview. Pengolahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan cara mengklasifikasikan atau mengkategorikan data berdasarkan dengan tema sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data dapat dilakukan dalam grounded research.
4.    Penyajian data
Prinsip dasar penyajian data adalah membagi pemahaman kita tentang suatu hal pada orang lain. Oleh karena ada data yang diperoleh dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata dan tidak dalam bentuk angka, penyajian biasanya berbentuk uraian kata-kata dan tidak berupa tabel-tabel dengan ukuran-ukuran statistik. Sering kali data disajikan dalam bentuk kutipan-kutipan langsung dari kata-kata terwawancara sendiri. (Begong Suyanto dan Sutinah, 2005 : 170-173).

Dalam penelitian ini penulis juga akan mengikuti langkah-langkah yang seperti yang telah tertera di atas. Penyusunan dan penerapannya juga akan disesuaikan dengan fokus penelitian sebagaimana tertera dalam tujuan penelitian.  
B.  Objek Penelitian
Yang menjadi objek dalam penelitian ini yaitu Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
C.  Subjek Penelitian
1.    Orangtua di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Orangtua dijadikan subjek penelitian ini dalam rangka memperoleh informasi tentang deskriptif peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
2.    Tokoh Masyarakat di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Tokoh Masyarakat dijadikan subjek penelitian dalam rangka memperoleh informasi tentang peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.

D.   Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data yang bersifat deskriptif dan keterangan yang diperoleh melalui wawancara dengan Orangtua di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan, dan Tokoh Masyarakat di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
E.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Peneliti memilih lokasi ini untuk mengetahui peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Penelitian ini berlangsung dari bulan Desember sampai bulan Mei.
Deskripsi singkat Kecamatan Sutera
Berdasarkan data Kecamatan Sutera dalam angka tahun 2014 dengan keadaan sebagai berikut :
a.    Keadaan Geografi
Secara geografis terletak pada 100º30’-100º57’ bujur timur dan 1º30’-1º57’ lintang selatan, dengan luas daerah tercatat sebesar 455,65 Km2 atau 7,75 % dari luas Kabupaten Pesisir Selatan, yang berbatas sebagai berikut :
-          Sebelah utara dengan Kecamatan Batang Kapas
-          Sebelah selatan dengan Kecamatan Lengayang
-          Sebelah timur dengan Kabupaten Solok
-          Sebelah barat dengan Samudera Indonesia
      Topografi daerah Kecamatan Sutera : datar dan berbukit-bukit sebagai perpanjangan dari bukit barisan, tinggi dari permukaan laut antara 2-15 meter, jika dilihat dari sudut pengunaan lahan Kecamatan Sutera sampai saat ini masih diliputi oleh kawasan hutan, luas hutan dikecamatan Sutera mencapai 66,2 % dari luas daerah. Lahan untuk budidaya pertanian tercatat sekitar 30,68 % terdiri dari 14,29 % perkebunan, 2,5 % tegal dan 6,64 % ladang, sementara lahan untuk perumahan/pemukiman dan halaman sekitar tercatat 0,78 %, sisanya terdiri dari semak/alang-alang/rawa-rawa dan lainnya.
b.    Pemerintahan
Pada tahun 2013 Kecamatan Sutera terdiri dari 12 kenagarian hasil dari pemekaran dari 3 Nagari induk pada akhir 2011. Nagari Surantih, Nagari Aur Duri Surantih, Nagari Rawang Gunung Malelo Surantih, Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Nagari Koto Nan Tigo Selatan Surantih, Nagari Ganting Mudiak Utara Surantih, dan Nagari Gantiang Mudiak Selatan Surantih. Nagari Taratak  menjadi 3 Nagari yaitu Nagari Taratak, Nagari Lansano Taratak dan Nagari Koto Taratak, sementara Nagari Amping Parak dan Nagari Amping Parak Timur mengalami pemekaran pada tahun 2011. Dengan terjadi pemekaran Nagari tersebut berakibat bertambahnya jumlah Kampung menjadi 33 Kampung.
Lembaga ketahanan masyarakat Nagari (LKMN) di Kecamatan Sutera semuanya berklafikasi II. Tetapi klasifikasi ini belum bersifat standar karena belum adanya aturan baku tentang klasifikasi LKMN oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan.
Kualitas sumberdaya manusia pegawai Negeri sipil dilingkungan Pemerintahan Kecamatan Sutera sudah cukup memadai. Jumlah pegawai Negeri sipil di kantor Camat Sutera tercatat sebanyak 18 orang, dimana terdiri dari 12 orang tamatan SMA kebawah dan 6 orang tamatan Akademi/Perguruan Tinggi.
c.    Penduduk
Jumlah penduduk di Kecamatan Sutera tahun 2013 sekitar 48.014 jiwa, terdiri dari 24.052 jiwa laki-laki dan 23.962 perempuan. Adapun jumlah rumah tangga di Kecamatan Sutera berjumlah sebanyak 11.117 rumah tangga, kepadatan penduduknya sekitar 107,74 jiwa per Km2.
d.   Sarana Pendidikan
Bila dilihat dari sarana pendidikan yang ada sekolah Taman Kanak-kanak tercatat sebanyak 15 unit, Sekolah Dasar berjumlah 37 unit, SMP 7 unit dan SMA 2 unit serta SMK 1 unit. Sedangkan sekolah dibawah Departemen Agama seperti MI sebanyak 1 unit, MTs sebanyak 3 unit, Madrasyah Aliyah 1 unit  (kantor Kecamatan Sutera. 2014).



F.   Teknik pengumpulan Data dan Instrumen
1.    Observasi, diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sitematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. (Nurul Zuriah, 2006 : 173).
Observasi ini dapat dilihat langsung oleh mata, dapat didengar dan dapat diukur langsung. Maksudnya di sini adalah peneliti dapat mengamati secara lansung kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di lapangan yang berkaitan dengan peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Observasi ini dilakukan mulai dari tanggal 27 Desember Tahun 2013 sampai tanggal 17 April Tahun 2014.
2.        Wawancara, adalah merupakan salah satu pengumpulan data dalam suatu penelitian untuk mendapatkan informasi dari responden. (Begong Suryanto & Sutinah, 2005 :69)
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan terhadap orangtua dan tokoh Masyarakat di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Data yang diperoleh melalui wawancara ini adalah tentang gambaran peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.

Penyajian dokumentasi, hal ini diajukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi hasil kegiatan dalam proses peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan di Kampung tersebut.
Di samping itu juga dilakukan analisis data yang merupakan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahn lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat di interprestasikan temuannya kepada orang lain. (Bogdan & Biklen, 1982 dalm Imron Arifin, 1994)

Analisis data dalam penelitian kualitatif bergerak dari penulisan deskripsi kasar sampai pada produk penelitian. Dengan kata lain, dalam penelitian kualitatif berdasarkan pada kurun waktunya, data dianalisis pada saat pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data. (Nurul Zuriah, 2006: 217)
Sedangkan instrumen dalam penelitian ini adalah penulis sendiri, sehingga dapat berhubungan langsung dengan responden dalam rangka memahami ide dan gagasan yang muncul serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Artinya, setelah informasi dibutuhkan di lapangan dapat dikumpulkan, maka perlu dianalisis dengan cara memperbandingkan data satu dengan data yang lain guna memperoleh hasil dari penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang ada dalam penulisan skripsi ini, untuk mengetahui gambaran tentang peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Ampiang Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. 
A.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Mendidik remaja dalam berbagai aspek tentu memerlukan pembinaan yang kontiniu dari orangtua mereka, pembinaan merupakan salah satu bagian terpenting di dalam mendidik anak. Dengan pembinaan yang dilakukan oleh orangtua, berarti orangtua selaku penanggung jawab penuh pendidikan anak telah menjalankan salah satu kewajiban dan tanggung jawabnya. “Orangtua adalah pendidik pertama terutama dan utama dalam keluarga. Bagi anak, orangtua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model, orangtua seharusnya memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orangtua harus mencerminkan akhlak yang mulia”. (Syaiful Bahri Djamarah, 2004:29).
42
 
Salah satu perilaku yang harus diajarkan dan dibiasakan oleh orangtua kepada anaknya adalah sikap kejujuran dalam kehidupannya, karena sikap kejujuran merupakan suatu akhlak yang dicintai oleh Allah Swt, dan merupakan tuntunan Agama Islam. Kejujuran akan membawa kepada kebahagiaan dan kesuksesan hidup, kejujuran akan muncul apabila dibiasakan dalam kehidupan remaja terutama dalam keluarga, dalam hal ini yang bertanggung jawab adalah orangtua. Untuk melihat sejauh mana nilai kejujuran ini ditanamkan kepada remaja di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Maka penulis melakukan wawancara kepada orangtua remaja tersebut seperti yang dipaparkan dibawah ini.
Isma Linda menjelaskan bahwa “pemberian contoh dalam berkata mutlak dan selalu diberikan kepada remaja. Hal ini bertujuan supaya remaja dapat meniru orangtuanya berkata jujur”. (Isma Linda, 30 April 2014). Hendri mengatakan bahwa “setiap pulang dari kebun, beliau selalu memberikan contoh berkata dengan jujur kepada anaknya”. (Hendri, 30 April 2014). Sesuai dengan uraian di atas, Syurya juga memberikan pernyataan yang sama bahwa “apabila anaknya pulang dari sekolah atau pulang dari bermain, maka beliau selalu memberikan contoh tentang berkata jujur dalam berbicara, baik dengan orangtua maupun dengan orang lain”. (Syurya, 30 April 2014). Selanjutnya Umar Bakis mengemukakan :
Bahwa memberikan contoh berkata dengan jujur kepada remaja adalah sesuatu yang sangat penting untuk diberikan kepada remaja, dengan selalu memberikan contoh berkata jujur berarti orangtua selalu mengingatkan remaja tentang pentingnya berkata dengan jujur. Di samping itu  remaja akan selalu ingat dengan nasehat orangtuanya supaya tidak berkata dusta terhadap siapapun juga. Selain itu dengan memberikan contoh kepada remaja diharapkan remaja menjadi paham dan mengerti tentang kejujuran dalam perkataan. Minsalnya anak bertanya kepada Bapaknya, pak kenapa tadi pagi Bapak memarahi kakak? Dengan jujur Bapak menjawab karena kakak tidak melaksanakan shalat shubuh. Jawaban yang jujur dari perkataan harus diberikan oleh Bapak kepada anak supaya anak dapat memahami dan dapat meniru perkataan jujur seorang Bapak kepada anaknya. (Umar Bakis, 1 Mei 2014).

Demikian juga orangtua yang lain. Namun agak berbeda dengan penjelasan Syahrial yang mengatakan bahwa “pemberian contoh berkata jujur jarang diberikan kepada remaja, karena mereka sudah mendapatkan pengajaran tersebut dari sekolah dan di Masjid tempat belajar ngaji mereka”. (Syahrial, 1 Mei 2014). Sama halnya dengan Erma Yuliarni yang mengatakan bahwa “pemberian contoh berkata dengan jujur jarang dilakukan, karena mereka sudah mendapatkannya di sekolah”. (Erma Yuliarni, 1 Mei 2014). Dari beberapa wawancara penulis lakukan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keteladanan merupakan metode yang sangat baik yang harus diterapkan oleh setiap orangtua. Karena pada dasarnya seorang remaja akan cenderung meniru apa yang menjadi kebiasaan orangtuanya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah, bahwasanya “faktor penyebab anak melakukan hal-hal yang menyimpang disebabkan karena kurangnya pendidikan Agama dan hilangnya keteladanan yang baik dari orangtua dalam keluarga”.(Syaiful Bahri Djamarah, 2004:32).
Sedangkan tentang memberikan nasehat terhadap remaja apabila mereka tidak berkata jujur juga perlu diberikan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan  Lumas menjelaskan :
Bahwa anak remaja yang tidak berkata dengan jujur selalu diberikan nasehat. Hal ini dimaksudkan supaya anak dapat merubah dan mengintrofeksi dirinya supaya tidak mengulangi kembali kesalahan yang dilakukan. Disamping itu, bertujuan supaya remaja tersebut menyadari bahwa perkataan yang tidak jujur yang telah mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan telah membohongi orang lain. (Lumas, 2 Mei 2014).

Pernyataan yang hampir sama dengan di atas, dikemukakan oleh Bapak Harman yang menyatakan :
Bahwa memberikan nasehat terhadap remaja yang tidak berkata jujur harus dilakukan. Dengan memberikan nasehat yang terus menerus, maka diharapkan kepada remaja untuk menghayati dan memahami bahwa yang telah mereka lakukan itu adalah salah, selanjutnya nasehat yang diberikan tersebut mampu merubah pola pikir dan perkataan mereka menjadi perkataan yang jujur unutuk kedepannya. (Harman, 2 Mei 2014).

Penjelasan di atas juga sesuai dengan penjelasan para orangtua yang lain. Namun tidak dengan Nenti Yarnis yang mengatakan bahwa “dengan kekurangan ilmu pengetahuan yang dimiliki bersama suaminya, maka mereka jarang memberikan nasehat kepada remajanya. Hanya sekali-kali saja mereka memberikan nasehat kepada anaknya apabila anak tersebut sudah terlalu sering membohongi mereka”. (Nenti Yarnis, 3 Mei 2014). Efra Dompi juga mengemukakan pernyataan yang sama bahwa “sangat sulit untuk memberikan nasehat kepada remaja mereka. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan Agama yang mereka miliki selama ini tidak banyak, terkadang remaja mereka bertanya tentang kejujuran yang lebih mendalam dan itu tekadang membuat kami kewalahan dalam menjawab”. (Efra Dompi, 3 Mei 2014).
Dari hasil observasi yang dilakukan terhadap orangtua di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan sangat sesuai dengan penjelasan yang diberikan. Dalam pengamatan terlihat :
Bahwa sebagian besar orangtua selalu memberikan contoh kepada remeja mereka tentang kejujuran dalam perkataan. Hanya sebagian kecil saja yang jarang  memberikan contoh tentang dalam berkata jujur. Pada sisi lain, sebagian besar orangtua selalu memberikan nasehat tentang berkata jujur kepada remaja yang tidak berkata jujur, namun sebagian kecil dari orangtua jarang memberikan nasehat yang disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan tentang aspek kejujuran yang mereka miliki. (Hasil Observasi, 7-12 Mei 2014).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa orangtua memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap perkembangan dan pendidikan kejujuran remaja dalam perkataan. Dengan demikian, sangat penting kiranya mengetahui, memahami dan menerapkan bagaimana memberikan pembinaan dan bimbingan terhadap kejujuran dalam perkataan terhadap remaja. Diantara pembinaan yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam membina kejujuran dalam perkataan remaja adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh dan nasehat.
Selanjutnya pemberian hukuman atau teguran juga perlu dilakukan oleh orangtua terhadap pembinaan kejujuran remaja dalam perkataan. Berikut ini wawancara penulis dengan orangtua remaja. Menurut Yurnida mengemukakan bahwa “pemberian hukuman sangat perlu untuk diberikan apabila remaja melakukan perkataan-perkataan yang tidak jujur dan suka membohongi orang”. (Yurnida, 4 Mei 2014). Demikian juga pendapat Ermita yang menjelaskan :
Bahwa bagi remaja yang melakukan kesalahan atau tidak berkata dengan jujur atau membohongi orang lain, maka perlu sekali-kali diberikan hukuman. Hukuman ini dimaksudkan bukan untuk membuat remaja menjadi melwan, takut atau tertekan, akan tetapi bertujuan untuk membuat remaja menjadi sadar dan menyadari bahwa apa yang telah mereka perbuat adalah salah dan menyesatkan orang lain. (Ermita, 4 Mei 2014)..

Hal yang sama juga dijelaskan oleh  Irnawati yang mengatakan bahwa “apabila remaja mereka melakukan perkataan-perkataan yang tidak jujur, maka sebagai orangtua yang baik beliau selalu memberikan teguran dan hukuman. Pemberian teguran dan hukuman ini dimaksudkan supaya anak bisa merubah perkataan bohong mereka untuk bisa lebih jujur”. (Irnawati, 5 Mei 2014). Pernyataan-pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh orangtua yang lain, yaitu selalu memberikan teguran dan hukuman apabila remaja melakukan kebohongan atau tidak jujur dalam berkata.
Terkait dengan pembinaan kejujuran remaja dalam perkataan, maka dibutuhkan berbagai strategi yang tepat dalam membina dan mendidik remaja. Berikut hasil wawancara yang dilakukan terhadap orangtua remaja. Menurut Yaryani mengemukakan :
Bahwa salah satu strategi yang diterapkan dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya adalah bekerjasama dengan suami untuk memantau dan memperhatikan perkembangan remaja. Artinya adalah suami-istri (orangtua) saling mendukung dan saling memperhatikan kejujuran perkataan remaja mereka. Sebagai contoh apabila anak ditanya apakah sudah membersihkan tempat tidur sebelum pergi sekolah. Apabila anak menjawab tidak jujur, maka Ibu atau Ayah mencek dulu tempat tidur anak. Kalau ternyata jawaban yang diberikan anak tidak benar, maka orangtua bekerjasama untuk memberikan contoh berkata yang jujur dan orangtua bekerjasama dan saling mendukung untuk memberikan perhatian, teguran atau hukuman terhadap remaja. (Yaryani, 5 Mei 2014).

Selanjutnya Darnis menjelaskan :
Bahwa untuk membina kejujuran remaja dalam perkataannya diperlukan strategi yang cocok. Salah satu strategi yang digunakan adalah dengan bekerja sama dengan guru mereka di sekolah. Tujuannya adalah supaya remaja tersebut dapat menerima masukan atau bimbingan dari guru mereka tentang sifat jujur terutama dalam perkataan. Disamping itu, diharapkan kerjasama ini mampu merubah perkataan remaja menjadi lebih sopan dan jujur. (Darnis, 6 Mei 2014).

Selanjutnya Mariani mengemukakan :
Bahwa strategi yang harus diterapakan adalah pembinaan rumah tangga yang harmonis dan berkata sopan santun dalam keluarga. Apabila sebuah keluarga hidup  harmonis dan dalam keluarga tersebut selalu berkata dengan sopan dan jujur, maka remaja akan mencontoh dan menerapkannya diluar rumah mereka. Akan tetapi, apabila dalam sebuah rumah tangga terdapat hidup berantakan dan sering berkata tidak jujur, maka remaja akan terbiasa berkata dengan tidak jujur kepada orangtuanya dan kepada orang lain. Dalam hal ini tujuan dari keluarga yang harmonis itu salah satunya adalah untuk membentuk perkembangan jasmani dan rohani anak serta membentuk sifat anak dalam berkata jujur kepada keluarga. (Mariani, 6 Mei 2014).

Tentang pengaruh lingkungan terhadap kejujuran remaja dalam perkataannya. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Umar Bakis menjelaskan :
Bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan dan perkembangan remaja. Apabila sebuah masyarakat tersebut memiliki lingkungan yang aman, tentram dan baik, maka akan muncullah remaja sebagai generasi masa depan menjadi remaja yang baik. Namun apabila lingkungan masyarakatnya hidup dengan kekerasan, suka memfitnah dan hidup dalam kebohongan, maka akan muncul remaja yang tidak bagus dalam pergaulan dan perkataan yang tidak jujur. (Umar Bakis, 1 Mei 2014).

Pernyataan yang hampir sama dikemukakakan oleh Erma Yuliarni yang menyatakakan :
Bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang amat penting dan besar bagi pembinaan kejujuran remaja dalam perkataan. Apabila remaja bergaul dengan teman yang baik dan jujur dan apabila remaja sering mendengar perkataan jujur dari orang lain, maka para remaja akan hidup dengan perkembangan yang baik akan selalu suka untuk mengatakan yang sebenarnya atau jujur kepada orang lain. (Erma Yuliarni, 1 Mei 2014).

Pernyaan di atas, sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan terlihat :
Bahwa remaja yang tidak memiliki sikap kejujuran dalam perkataan, maka orangtua memberikan hukuman, pemberian hukuman atau sanksi bertujuan untuk memberikan peringatan dan teguran kepada remaja supaya tidak mau melakukan kesalahan lagi dalam berkata. Di samping itu, memberikakan pemahaman kepada remaja bahwa apa yang telah mereka katakan tidak seharusnya untuk dikatakan, sebab telah membohongi orang lain. Pada sisi lain, orangtua telah melakukan berbagai strategi yang cocok untuk melakukan pembinaan kejujuran perkataan remaja. Diantaranya strategi yang diterapkan oleh arangtua saling bekerjasama dan saling mendukung untuk memantau pekerbangan kejujuran remaja, di samping itu, orangtua melakukan kerjasama yang baik dengan pihak sekolah untuk memantau perkembangan kejujuran remaja, selain itu, orangtua selalu membina keluarga yang harmonis untuk membantu perkembangan kejujuran remaja dari segi berkata. Sementara itu, lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan remaja terutama dalam segi perkataan dan perbuatan. Untuk membina kejujuran remaja dalam perkataan, maka masyarakat harus menjaga kestabilan lingkungan agar tetap baik dan teratur. (Hasil Observasi, 7-16 Mei 2014).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa hukuman sangat perlu untuk diberikan kepada remaja dengan tujuan untuk membina mereka supaya tidak melakukan kesalahan yang sama. Di samping itu, untuk mengajarkan mereka bahwa apa yang telah mereka katakan adalah sebuah kesalahan yang berakibat telah membohongi orang lain. Di samping itu pengawasan lingkungan dan strategi yang cocok perlu untuk diterapkan dalam memperbaiki kejujuran remaja dalam perkataan. Kerjasama antara orangtua, kerjasama guru dan orangtua serta pembinaan keluarga yang harmonis adalah suatu solusi yang sangat bagus untuk dilakukan dalam membina kejujuran perkataan remaja. Sedangkan pengaruh lingkungan perlu untuk diperhatikan dan diperbaiki dengan bekersamaan masyarakat dalam upaya memperbaiki kejujuran perkataan remaja.
Untuk menguji kebenaran dari apa yang telah disampaikan oleh orangtua dari remaja maka penulis melakukan wawancara dengan remaja itu sendiri.
Seperti yang dijelaskan oleh Dona Ledista saya selalu diajarkan dan diberikan orangtua saya untuk selalu berbicara jujur dan dinasehati agar kejujuran menjadi prinsip atau pedoman dalam kehidupan saya, jika saya kedapatan melakukan kebohongan maka saya akan diberi hukuman sperti saya tidak melakukan membersihkan rumah atau menyapu halaman rumah maka saya akan diberi hukuman melayani pembeli di warung dan tidak diperbolehkan bermain-main. (Dona Ledista, 10 September 2014, Jam 15:12:00 )  .

Selanjutnya  Sandra memberikan pernyataan :

Bahwa sifat bohong adalah sifat yang paling tidak disukai oleh orangtuanya, Sandra selalu diajarkan oleh orangtuanya untuk berkata jujur karna jika kejujuran telah mendarah daging maka kita akan aman dan bahagia, jika dia kedapatan bertindak tidak jujur maka dia akan marahi oleh orangtuanya sperti contohnya tidak melakukan shalat dan dia akan diberikan hukuman atau ganjaran maka dia  tidak mendapatkan uang jajan. (Sandra, 10 September 2014. Jam 10:21:00).    

Pernyataan yang sama juga dikemukan ole Eka, namun agak Berbeda dengan pernyataan responden yang lain :

Bahwa orangtuanya sangat keras dalam mendidiknya agar anak-anaknya menjadi orang yang jujur, karena orangtuanya berlatar belakang berpendidikan, jadi setiap kali orangtuanya pulang kerja pasti dia selalu ditanyakan jam berapa pulang sekolah dan apakah ada tugas sekolah dan apabila kedapatan  tidak jujur karena terlambat pulang sekolah penyebab dari main Game atau main bola bukan karena pelajaran tambahan maka dia akan dicuekan oleh orangtua  atau tidak dikasi uang jajan, dia selalu dinasehati dan dibiasakan agar menyatakan apa adanya. (Eka, 10 September 2014, Jam, 19:05:00).

Sedangkan penjelasan atau pernyataan dari Wulan dan Defrizal penulis wawancarai:
Mereka menyatakan bahwa orangtua mereka memang agak jarang memberikan contoh berprilaku jujur, karena orangtua mereka sibuk pergi kerja ke kebun dan kesawah dan jarang dijumpai dirumah kecuali sudah sore dan orangtua mereka sudah pulang kerja, tetapi apabila kedapatan mereka tidak melakukan berprilaku jujur maka orangtua mereka akan memarahi dan memberikan hukuman serta juga memberikan nasehat. (Wulan dan Defrizal, 10 September 2014, Jam:20:18:00 dan Jam:16:21:00).

Berdasarkan penjelasan hasil wawancara penulis dengan remaja di Kampuang Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan , dapat dipahami bahwa orangtua remaja telah melakukan atau memberikan contoh untuk bersikap jujur terhadap remaja di Kampuang Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Walaupun ada sebagian dari orangtua memang tidak memberikan tauladan atau pembiasaan kepada anaknya dalam menanamkan sikap kejujuran, tapi pada dasarnya sikap yang tidak jujur bila dilakukan oleh remaja akan menimbulkan respon yang tidak baik dari orangtua mereka. Artinya adalah tidak ada orangtua yang bangga atau berharap jika anaknya menjadi orang yang tidak jujur.
B.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatan di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Kejujuran tidak hanya terletak pada perkataan saja, akan tetapi juga terdapat pada perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Maksudnya adalah bahwa konsep kejujuran dapat diterapkan dalam tingkah laku atau perbuatan seseorang. Dengan adanya perbuatan jujur yang dilakukan, maka pribadi seseorang dapat terkontrol atau terawasi dengan baik sehingga dengan adanya kontrol tersebut, seseorang tidak akan mudah untuk melakukan perbuatan tercela yang dapat membahayakan diri pribadinya dan orang lain.
Terkait dengan permasalahan di atas terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan untuk membina kejujuran dalam perbuatan seseorang. Berikut hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa orangtua yang memiliki remaja di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Menurut Umar Bakis memberikan pernyataan :
Bahwa di antara strategi atau metode yang dapat digunakan dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatan adalah dengan memberikan contoh, maka remaja dapat melihat atau memperhatikan secara langsung bagaimana cara bertingkah laku atau berbuat secara jujur, sehingga sangat mudah bagi remaja untuk meniru atau menerapkan berbuat jujur dengan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. (Umar Bakis, 1 Mei 2014).

 Selanjutnya Yurnida memberikan penjelasan bahwa “memberikan arahan atau ceramah termasuk salah satu metode yang dapat dilakukan oleh orangtua di rumah dalam membina kejujuran remaja mereka dalam perbuatan. Dengan adanya arahan dari orangtua, diharapkan dapat tertanam dalam jiwa remaja bahwa pentingnya berlaku jujur dalam berbuat, sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai manusia yang baik dalam kehidupannya”. (Yurnida, 4 Mei 2014). Sedangkan Lumas memberikan pernyataan bahwa “selain memberikan arahan dan pemberian contoh, metode teguran juga dapat diterapkan kepada remaja. Tujuan penerapan metode teguran ini adalah untuk mengingatkan remaja bahwa apa yang telah mereka perbuat adalah sesuatu yang salah. Dengan demikian, perlu adanya teguran dari orangtua terhadap perilaku remaja”. (Lumas, 2 Mei 2014).
Demikian juga halnya dengan Isma Linda yang menjelaskan :
Bahwa untuk membina kejujuran remaja dalam perbuatan perlu adanya penerapan metode hukuman. Hukuman yang diberikan bukan untuk melakukan penyiksaan terhadap remaja yang telah melakukan kesalahan, akan tetapi hukuman yang diberikan bertujuan untuk membimbing dan membina remaja supaya dalam bertingkah laku atau berbuat selalu jujur. Di samping itu, untuk menghindarkan efek jera atau tidak ingin lagi mengulangi perbuatan yang salah pada masa yang akan datang. (Isma Linda, 30 April 2014).

 Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh para orangtua yang lain. Namun agak berbeda dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Nenti Yarnis menyatakan :
Bahwa untuk memberikan pembinaan terhadap kejujuran perbuatan remaja kurang perlu adanya arahan, pemebrian contoh dan teguran dari oarangtua. Alasannya adalah bahwa remaja sudah mendapatkan berbagai pengetahuan dan contoh dari lembaga pendidikan mereka sekolah dan Masjdi tempat mereka belajar ngaji. Di samping itu, orangtua memiliki banyak pekerjaan yang sangat menyita waktu, sehingga jarang berkumpul bersama dengan remaja. (Nenti Yarnis, 3 Mei 2014).

Selanjutnya tentang memberikan perhatian terhadap remaja apabila mereka tidak berbuat dengan jujur. Dalam hal ini Syurya menjelaskan :
Bahwa dilingkungan rumah atau lingkungan sekitar tempat tinggal mereka, remaja  diberikan perhatian supaya remaja selalu terjaga dari hal-hal yang tidak seharusnya terjadi. Demikian juga halnya dengan remaja yang melakukan perbuatan yang tidak jujur. Maksudnya adalah remaja selalu diperhatikan dalam berbuat apakah perbuatannya itu sesuai dengan kejujuran atau tidak. Apabila tidak sesuai, tetap diperhatikan sehingga akan muncul perbuatan jujur remaja. Sebabnya adalah remaja akan merasa segan dan malu untuk berbuat yang tidak jujur karena selalu diperhatikan oleh orangtua mereka. (Syurya, 30 April 2014).
 Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Yaryani yang menyatakan :
Bahwa sangat perlu kiranya untuk selalu memberikan perhatian kepada remaja, termasuk apabila remaja tersebut melakukan kesalahan atau tidak jujur dalam berbuat. Dengan adanya perhatian orangtua, maka remaja merasa ada yang memperhatikan dan merasa selalu ada yang mengontrol perilakunya. Tujuan lain dari memperhatikan remaja adalah supaya prilaku remaja dapat terus terjaga dan selalu sesuai dengan ajaran Agama Islam termasuk berbuat dengan jujur”. (Yaryani, 5 Mei 2014).

Hendri juga memberikan pernyataan yang hampir sama bahwa “perlu sekali untuk memberikan perhatian kepada remaja yang tidak berbuat dengan jujur. Tujuannya adalah supaya remaja dapat memperbaiki kesalahan dari perbuatannya dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama pada masa yang akan datang”. (Hendri, 30 April 2014). Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh orangtua yang lainnya.
Penjelasan di atas, sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan terlihat :
Bahwa dalam melakukan pembinaan terhadap kejujuran remaja dalam tingkah laku, orangtua memiliki peran yang cukup penting untuk melakukan pembinaan tersebut. Diantara bentuk-bentuk pembinaan yang diberikan kepada remaja terkait dengan kejujuran dalam berbuat diantaranya adalah dengan memberikan keteladanan atau contoh, memberikan arahan atau ceramah, memberikan teguran dan memberikan hukuman yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi remaja. Sementara itu, orangtua selaku pembina utama dalam pembentukan kejujuran remaja juga selalu memberikan perhatian terhadap remaja yang melakukan kesalahan atau tidak berbuat jujur. Tujuan dari pemberian perhatian ini adalah supaya remaja malu, segan dan takut untuk melakukan keslahan yang sama. (Hasil Observasi, 7-12 Mei 2014).


Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa selaku orangtua yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang lebih utama dan cukup besar dalam membina perkembangan remaja, sangat pantas rasanya untuk melakukan pembinaan kepada remaja. Hal ini bertujuan supaya terdapat tanggung jawab orangtua didalamnya. Di samping itu, adanya hubungan emosional anatara remaja dan orangtua, karena anak merasa memiliki dan merasa diperhatikan. Diantara metode yang tepat untuk diterapkan oleh orangtua dalam pembinaan kejujuran remaja dalam berbuat adalah metode keteladanan, ceramah, teguran dan hukuman.
Terkait tentang hukuman yang diberikan terhadap remaja yang tidak jujur dalam bertingkah laku. Dalam hal ini Umar Bakis menjelaskan bahwa “hukuman yang diberikan terhadap remaja yang berbuat tidak jujur, salah satunya yaitu memukul pada bagian kakinya”. (Umar Bakis, 1 Mei 2014). Selanjutnya Harman memberikan penjelasan bahwa “biasanya hukuman yang diberikan kepada remaja diukur dengan tingkat perkembangan remaja. Hal ini dimaksudkan supaya remaja tidak mengalami gangguan mental akibat hukuman yang terlalu berat yang belum saatnya diberikan kepada remaja. Dalam hal ini hukuman yang sesuai dengan remaja yang melakukan keslahan akibat tidak jujur dalam berbuat adalah disuruh menyapu rumah atau membersihkan bak mandi. Walaupun tuga ini merupakan tuga rutinitas remaja dirumah, namun akan lebih baik dijelaskan bahwa pekerjaan ini akibat perbuatan yang salah”. (Harman, 2 Mei 2014). Pernyataan dari Mariani mengemukakan bahwa “hukuman yang diberikan kepada remaja yang melakukan kesalahan dalam berbuat yang tidak jujur adalah dipukuli tangannya. Tujuannya adalah supaya remaja tidak mengulangi perbuatan yang sama atau perbuatan yang salah pada waktu yang lain”. (Mariani, 6 Mei 2014). Selanjutnya Erma Yuliarni mengemukakan bahwa “hukuman yang diberikan kepada remaja yang melakukan perbuatan yang tidak jujur adalah dengan memberikan hukuman berupa tidak boleh menonton sesudah belajar malam. Tujuannya adalah supaya remaja tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang telah diperbuatnya”. (Erma Yuliarni, 1 Mei 2014). Kemudian Ernita menjelaskan “salah satu hukuman yang dapat membuat remaja untuk tidak melakukan kesalahan dalam berbuat jujur adalah dengan tidak membolehkan mereka pergi bermain-main dengan teman-teman mereka. Hukuman ini dimaksudkan supaya remaja berpikir bahwa dia telah melakukan kesalahan akibat tidak jujur”. (Ernita, 4 Mei 2014). Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh orangtua yang lain.
Selanjutnya tentang memberikan nasehat dan memantau perbuatan jujur atau tidak jujur yang dilakukan remaja dilingkungan tempat tinggal. Dalam hal ini Yaryani mengemukakan :
Bahwa orangtua memiliki kewajiban untuk selalu memberikan nasehat terhadap perilaku remaja. Demikian juga dalam memantau perbuatan remaja dilingkungan tempat tinggal. Dengan adanya pemberian nasehat dan memantau  jujur atau tidak jujurnya remaja sekitar tempat tinggalnya menandakan besarnya perhatian orangtua terhadap remaja, kemudian remaja merasa memiliki orangtua yang selalu melihat perkembangan dirinya dalam beriteraksi dilingkungan. (Yaryani, 5 Mei 2014).

Selanjutnya Hendri menjelaskan :
Bahwa memberikan nasehat dan memantau perbuatan jujur atau tidak jujur remaja dalam lingkungan tempat tinggal mereka merupaka suatu kewajiban dari orangtua dan sebaiknya orangtua selalu melakukan hal yang sama. Maksud dari kewajiban ini adalah supaya remaja merasa diperhatikan oleh orangtua mereka dan mersa ada yang akan membetulkan apabila remaja melakukan kesalahan dari perbuatan yang mereka lakukan. Di samping itu, dengan adanya pantauan dari orangtua terhadap remaja dalam interaksi di lingkungan akan berdampak baik orangtua dan remaja itu sendiri. Artinya adalah supaya orangtua menyadari bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam merubah kepribadian dan perbuatan remaja. Bagi remaja dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam yang dapat menghancurkan moral remaja secara umum. (Hendri, 30 April 2014).

 Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh responden yang lain. Namun agak berbeda dengan penjelasan yang dikemukan oleh Syahrial yang menyatakan :
Bahwa untuk pemberian nasehat selalu diberikan terhadap remaja, akan tetapi untuk memantau remaja diluar rumah sulit untuk dilakukan. Alasannya adalah bahwa selaku orangtua memiliki banyak pekerjaan yang bertugas mencari nafkah dalam menghidupi keluarga. Di samping itu, remaja dapat menentukan perbuatannya diluar rumah untuk berbuat jujur atau tidak, karena sudah mendapat berbagai pengetahuan dari rumah dan sekolah. (Syahrial, 1 Mei 2014).

Wawancara di atas, sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan dimana terlihat :
Bahwa orantua selaku pembina dan pendidik remaja yang paling utama telah melakukan kewajibannya dengan baik. Salah satu kewajiban tersebut adalah dengan memberikan hukuman terhadap remaja ayang melakukan kesalahan karena tidak jujur dalam berbuat. Berbagai hukuman diterapak oleh orangtua kepada remaja diantaranya adalah memukul pada bagian kaki, memukul pada bagian tangannya, memberikan tugas untuk membersihkan rumah, melarang remaja menonton televisi dan melarang remaja pergi bermain dengan teman-temannya. Sedangkan mengenai pemberian nasehat dan pemantauan terhadap remaja dilingkungan tempat tinggal, pada umumnya orangtua sependapat dan melakukan usaha tersebut untuk memberikan perhatian terhadap remaja. (Hasil Observasi, 7-16 Mei 2014).

Berdasrkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa orangtua memiliki kewenangan dalam mengatur dan mendidik remaja, termasuk dalam memberikan hukuman terhadap remaja yang melakukan perbuatan yang tidak jujur. Hukuman yang diberikan kepada remaja bertujuan untuk mendidik dan menghindarkan efek jera kepada remaja untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Di antara hukuman yang dapat diberikan kepada remaja diantaranya adalah memukul tangan dan kakinya, menyuruh membersihkan rumah, melarang menonton TV dan melarang pergi bermain. Di samping itu, sebagai orangtua juga berkepentingan dalam menjaga remaja. Salah satu tugas orangtua adalah memberikan nasehat dan memantau remaja dilingkungan tempat tinggal. Tujuannya adalah supaya remaja tetap bertingkah laku sesuai dengan ajaran Agama Islam dan tidak mengikuti pengaruh yang buruk dari lingkungan.
C.  Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Agama Islam merupakan Agama yang didalamnya terdapat sebagai ajaran yang menjadi pedoman bagi setiap pemeluknya dalam mengetahui, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan. Banyak hal yang terkandung dalam akhlak Agama ini yang perlu sekali untuk diterapkan dalam hidup seseorang, seperti: takut kepada Allah Swt, cinta dan tawakal kepada Allah Swt. Untuk memahami hal yang demikian diperlukan pemahaman seseorang agar sesuai dengan ajaran Agama Islam. Islam merupakan Agama yang sempurna dan Agama yang di redhai oleh Allah Swt, ajarannya memuat seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam al-Qur’an Allah berfirman (QS. Ali- Imran/3:19) yang berbunyi:
¨bÎ) šúïÏe$!$# yYÏã «!$# ÞO»n=óM}$# 3 .... 
Artinya: Sesunguhnya Agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Depag RI, 1989:78).

Untuk itu seseorang yang beragama Islam harus menyadari tanggung jawabnya sebagai pemeluk Agama, dengan cara menjalani kehidupan didunia ini sesuai dengan tuntunan Agama Islam. Oleh karena itu Allah Swt telah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwasanya sebagai orang yang beriman hendaknya menjalankan Agama itu dengan sempurna, sebagaimana firman Allah Swt dalam (QS. Al- Baqarah/2:208) yang berbunyi:

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿ ....
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan. (Depag RI, 1989:50).

Terkait dengan pembahasan akhlak Agama ini yakni tentang usaha orangtua dalam menanamkan akhlak Agama terhadap remaja. Berdasarkan hasil wawancara dengan Hendri mengemukakan bahwa “sebagai orangtua yang sangat menyayangi anak-anaknya dan sebagai orangtua yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya, maka usaha dalam menanamkan akhlak Agama selalu dilakukan. Tujuannya adalah supaya remaja dapat mempedomaninya ketika berinteraksi dengan lingkungan”. (Hendri, 30 April 2014). Selanjutnya Ibu Mariani menjelaskan bahwa “penanaman akhlak Agama selalu diberikan kepada remaja. Upaya ini selalu dilakukan supaya nantinya ketika dewasa remaja tersebut telah memiliki pengetahuan tentang ak  hlak Agama dan dapat menerapkannya dalam kehidupannya nanti”. (Mariani, 6 Mei 2014). Senada dengan di atas, Ibu Isma Linda juga memberikan penjelasannya bahwa “memberikan pengetahuan tentang akhlak Agama merupakan suatu upaya yang selalu dilakukan. Pemberian materi ini bertujuan supaya remaja dapat menerapkannya dalam kehidupan dan dapat menunjukan sikap jujur dalam pengalaman akhlak Agama ini”. (Isma Linda, 30 April 2014).
Selanjutnya mengenai bentuk-bentuk akhlak Agama yang telah ditanamkan terhadap pembinaan kejujuran remaja. Dalam hal ini Ernita mengemukakan :
Bahwa untuk pembinaan kejujuran remaja, maka salah satu bentuk akhlak Agama yang ditanamkan kepada remaja adalah sikap takut kepada Allah Swt. Dalam penanaman nilai-nilai ini dijelaskan bahwa Allah Swt merupakan pencipta manusia dan segala yang ada dalam alam semesta ini. Dengan demikian, sangat pantas sekali sebagai hamba manusia itu melakukan sujud kepadanya dan selalu menunjukan sikap takut kepada Allah Swt. Dengan adanya rasa takut kepada Allah Swt, maka disetiap gerak langkah dan perbuatan seseorang, maka akan selalu sesuai dengan ajaran Agama Islam yang merupakan Agama Allah Swt. Dalam arti adalah bahwa setiap manusia yang menampakan sikap takut kepada Allah Swt, maka tidak akan mau untuk melakukan kesalahan dan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah dilarang oleh Agama Islam. (Ernita, 4 Mei 2014).

Selanjutnya Erma Yuliarni memberikan penjelasan :
Bahwa akhlak Agama yang sangat penting untuk ditanamkan kepada remaja dalam membina kejujurannya adalah sikap ridha. Sikap ridha erat kaitannya dengan keikhlasan seseorang. Seseorang yang memiliki sikap ridha dalam dirinya, maka setiap ujian atau musibah yang menimpa dirinya akan diterima dengan sabar dan hati yang suci. Penanaman sikap ridha perlu untuk diberikan kepada remaja dengan tujuan supaya remaja tersebut tidak memaki, dan tidak berkata yang tidak pantas dan tidak menerima kenyataan yang dialaminya. Artinya adalah dengan adanya sikap ridha dalam diri seseorang remaja, maka remaja tersebut akan menerima kenyataan yang sedang dialaminya, seperti terjatuh, tidak diajak oleh teman-teman bermain, dikucilkan oleh teman atau orang lain, bahkan ridha apabila orang yang disayanginya pergi jauh atau dipanggil Allah Swt. (Erma Yuliarni, 1 Mei 2014).

Selanjutnya Bapak Syurya menjelaskan :
Bahwa penanaman rasa cinta juga sangat penting unutk ditanamkan oleh orangtua kepada remaja. Tujuannya adalah supaya remaja memahami bahwa dengan adanya rasa cinta yang dimiliki, maka apapun yang akan dilakukan akan sangat mudah sekali dan terasa senang untuk melakukannya. Seperti cinta kepada Allah Swt dan Rasulnya, maka dengan mudah dan senangnya untuk melakukan dan menunaikan kewajiban Agama dan meninggalkan larangannya. Demikian juga cinta kepada orangtua, maka akan selalu ingat dengannya dan akan selalu untuk menghormatinya”. (Syurya, 30 April 2014).

Demikian juga jawaban responden yang lain. Selanjutnya tentang selalu memberikan perhatian, nasehat, bimbingan dan hukuman terhadap kejujuran remaja dalam menerapkan akhlak Agama. Menurut Umar Bakis menyatakan bahwa “memberikan nasehat, perhatian, bimbingan dan hukuman selalu diberikan kepada remaja dalam pembinaan kejujuran remaja. Tujuannya adalah supaya penanaman nilai-nilai akhlak Agama ini selalu berkesinambungan dan bermanfaat bagi remaja dalam menjalani kehidupan pada yang akan datang”. (Umar Bakis, 1 Mei 2014). Senada dengan penjelasan di atas, Yaryani mengemukakan bahwa “memberikan nasehat, perhatian, bimbingan dan hukuman selalu diberikan kepada remaja dengan maksud supaya remaja mengetahui dan memahami akhlak Agama memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan kejujurannya. Di samping itu, remaja perlu menyadari bahwa akhlak Agama sangat berguna bagi kehidupannya dalam mengontrol dan mengawasi setiap perkataan dan perbuatannya”. (Yaryani, 5 Mei 2014). Penjelasan yang sama juga dinyatakan oleh responden yang lain. Namun berbeda dengan penjelasan Nenti Yarnis yang mengatakan bahwa “sangat sulit untuk selalu memberikan bimbingan, nasehat, perhatian dan hukuman kepada remaja terkait pembinaan kejujurannya. Hal ini disebabkan karena orangtua sibuk dalam mencari nafkah keluarga dan remaja itu sendiri jarang dirumah apabila mereka telah pulang dari sekolah, mereka sering pergi bermain kerumah temannya”. ( Nenti Yarnis, 3 Mei 2014).
Pada bagian lain, mengajak remaja untuk mendengarkan pengajian Agama untuk menanamkan akhlak Agama. Berdasarkan hasil wawancara, Efra Dompi mengemukakan bahwa “untuk membantu orangtua dalam membina dan menanamkan kejujuran kepada remaja, maka selalu mengajak remaja untuk mengikuti pengajian Agama yang diadakan dimasjid. Hal ini bertujuan supaya remaja lebih memahami secara mendalam dan lebih luas tentang akhlak Agama dan kejujuran”. (Efra Dompi, 3 Mei 2014). Selanjutnya Harman menyatakan bahwa “selalu mengajak remaja untuk mendengarkan pengajian Agama. Tujuan dari ajakan tersebut adalah untuk membiasakan remaja pergi ke Masjid, untuk memperluas pengetahuan remaja dalam bidang Agama dan untuk membantu orangtua dalam membina akhlak Agama serta kejujuran remaja”. (Harman, 2 Mei 2014). Selanjutnya Irna Wati juga mengemukakan hal yang sama :
Bahwa apabila ada acara pengajian Agama di Masjid, maka remaja selalu diajak untuk mendengarkannya. Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa takut dan cintanya kepada Allah Swt, menanamkan rasa senang mendatangi rumah ibadah, menambah wawasan ke–Islaman remaja dan yang sangat penting sekali adalah untuk membantu orangtua dalam mengajarkan ilmu Agama kepada remaja. (Irna Wati, 5 Mei 2014).

Terkait tentang berapa besar pengaruh penanaman akhlak Agama dalam membina kejujuran remaja. Menurut Hendri menyatakan bahwa “penanaman akhlak Agama kepada remaja ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembinaan kejujuran remaja. Salah satu yang terlihat adalah remaja selalu menunaikan ibadah shalat dengan senang hati dan rasa cinta, tidak ada paksaan dan tidak ada kebohongan ketika ditanya sudah atau belum melaksanakan shalat”. (Hendri, 30 April 2014).
Kemudian Lumas juga menjelaskan :
Bahwa pengaruh penanaman akhlak Agama terhadap pembinaan kejujuran remaja berdampak cukup besar. Sebagai contoh remaja dengan rihda menerima beberapapun uang jajan yang diberikan oleh oarngtuanya. Mungkin saja remaja telah menyadari bahwa betapa sulitnya mencari uang, maka beberapa jumlah uang yang diterima atau dikurangi, maka diterima dengan senang hati dan ridha. (Lumas, 2 Mei 2014).

Selanjutnya Isma Linda menyatakan bahwa “penanaman akhlak Agama memiliki efetifitas yang cukup besar dalam membina kejujuran remaja. Kalau dahulu remaja suka membohongi orangtuanya kalau ditanya tentang sesuatu, suka menipu orangtuanya, suka mendongkol kalau disuruh. Dengan adanya penanaman akhlak Agama, telah merubah sikap yang selama ini tidak sesuai dengan norma Agama Islam”. (Isma Linda, 30 April 2014). Jawaban yang sama juga dikemukan oleh responden yang lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan terlihat :
Bahwa orangtua selalu menanamkan akhlak Agama kepada para remaja. Di samping itu, remaja selalu diberikan perhatian, nasehat, bimbingan dan hukuman oleh orangtuanya dalam membina kejujuran mereka. Menanamkan rasa takut kepada Allah Swt, cinta dan ridha merupakan materi akhlak Agama yang diberikan kepada remaja. Selanjutnya remaja selalu diajak untuk mengikuti pengajian Agama di Masjid dan usaha yang dilakukan oleh para orangtua selama ini dalam membina kejujuran remaja membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Artinya usaha yang dilakukan selama ini berjalan dengan efektif dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. (Hasil Observasi, 7-16 Mei 2014).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa untuk menanamkan akhlak Agama dalam membina kejujuran remaja diperlukan usaha yang maksimal dan berkelanjutan. Di samping itu, diperlukan perhatian, nasehat, bimbingan serta hukuman yang berkelanjutan. Kemudian juga diperlukan materi yang memadai dan mudah dipahami oleh remaja, seperti takut kepada Allah Swt, ridha dan tawakal. Selanjutnya diperlukan sarana lain yang dapat membantu dan mempengaruhi kejujuran remaja, salah satu sarana yang paling cocok adalah mendengarkan pengajian Agama di Masjid.
D.  Kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Dalam membina dan mendidik remaja diperlukan berbagai strategi dan kesabaran yang cukup baik dari orangtua. Hal ini disebabkan karena orangtua akan menemui berbagai hambatan atau kendala yang cukup rumit dalam pembinaan tersebut. Termasuk dalam melakukan pembinaan kejujuran remaja, apalagi dalam membina remaja yang sudah mengalami perubahan tingkah laku yang cukup banyak dari lingkungan pergaulannya.
Terkait dengan permasalahan tersebut, tentang menemui kendala dalam pembinaan kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan. Hasil wawancara yang dilakukan dengan Hendri yang menyatakan bahwa “dalam membina kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan ditemukan kendala atau hambatan”. (Hendri, 30 April 2014). Hal senada juga dikemukan oleh Yaryani yang menjelaskan bahwa “untuk melakukan pembinaan terhadap kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan ditemui hambatan yang mengganggu proses pembinaan kejujuran perkataan dan perbuatan tersebut”. (Yaryani, 5 Mei 2014). Demikian juga halnya dengan Harman yang menjelaskan bahwa “sangat diperlukan berbagai strategi untuk membina kejujuran perkataan dan perbuatan remaja. Hal ini disebabkan karena untuk melakukan pembinaan tersebut ditemukan kendala atau hambatan”. (Harman, 2 Mei 2014). Pernyataan yang sama juga dikemukan oleh responden yang lain bahwa dalam membinaan kejujuran dalam perkataan dan perbuatan yang mereka lakukan ditemui hambatan atau kendala.
Selanjutnya tentang menemui kendala dalam penerapan kejujuran dalam akhlak Agama terhadap remaja. Dalam hal ini Lumas menyatakan bahwa “dalam rangka membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama terhadap remaja ditemukan hambatan yang mengganggu proses pembinaan tersebut”. (Lumas, 2 Mei 2014). Pernyataan yang sama juga dikemukan oleh Ibu Erma Yuliarni yang menyatakan bahwa “ditemukan beberapa kendala atau hambatan dalam melakukan pembinaan terhadap pembinaan kejujuran remaja dalam akhlak Agama”. (Erma Yuliarna, 1 Mei 2014). Selanjutnya Ibu Yurnida juga menyatakan jawaban yang sama bahwa “terdapat hambatan yang ditemui dalam melakukan pembinaan tersebut sangat mengganggu proses pembinaan kejujuran akhlak Agama terhadap remaja”. (Yurnida, 4 Mei 2014). Pernyataan yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain yang menyatakan bahwa dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama ditemui hambatan yang mengganggu proses pembinaan yang dilakukan.
Tentang bentuk kendala yang ditemui terhadap pembinaan kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan. Efra Dompi memberikan penjelasan
Bahwa bentuk kendala yang ditemui diantaranya adalah kendala yang muncul dari dalam diri remaja itu sendiri. Seperti remaja dengan sengaja melakukan kebohongan terhadap apa yang mereka katakan atau yang mereka perbuat tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Persoalan ini muncul salah satunya penyebabnya adalah karena remaja merasa takut dengan hukuman yang diberikan kepada mereka. (Efra Dompi, 3 Mei 2014).

Selanjutnya Nenti Yarnis memberikan penjelasan :
Bahwa salah satu bentuk kendala yang ditemui adalah pengaruh pergaulan. Pergaulan remaja diluar rumah atau pada lingkungan tempat tinggalnya sangat berpengaruh besar dan menjadi salah satu hambatan dalam membina kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan. Pergaulan yang dimaksud disini adalah pergaulan yang tidak terkontrol dan cenderung tidak jujur, dalam hal ini remaja cenderung mengikuti alur pergaulan mereka tanpa mempertimbangkan buruk baik terhadap kejujuran mereka. (Nenti Yarnis, 3 Mei 2014).

Sedangka  Ernita memberikan penjelasan :
Bahwa bentuk kendala yang ditemui dalam membina kejujuran remaja dalam perkataan dan perbuatan adalah orangtua terlalu keras atau terlalu menekan remaja. Maksudnya adalah orangtua terlalu keras dalam mendidik remaja dan terlalu memaksakan kehendak, seperti menekan remaja untuk mengakui perbuatannya karena mengambil uang tanpa sepengetahuan orangtua. Kalau tidak mengaku, maka remaja akan dimarahi dengan kata-kata kasar dan  diberi hukuman. Pendidikan yang keras dan memaksakan kehendak dari orangtua dapat membuat remaja menjadi suka berbuat yang tidak jujur atau berkata yang tidak jujur. (Ernita, 4 Mei 2014).


Sedangkan bentuk kendala yang ditemui terhadap pembinaan kejujuran remaja dalam akhlak Agama. Menurut Syurya mengemukakan :
Bahwa salah satu bentuk yang menjadi kendala dalam pembinaan kejujuran remaja dalam akhlak Agama adalah media televisi yang terlalu kurang mendidik. Menonton televisi bukan berarti tidak dibolehkan, namun televisi yang ditonton diharapkan adalah televisi yang menayangkan acara yang bersifat mendidik. Akan tetapi media televisi saat ini banyak yang menayangkan tayangan-tayangan yang tidak memberikan pendidikan malahan banyak tayangan televisi saat ini yang merusak akhlak Agama remaja. Orangtua selaku penanggung jawab remaja telah berusaha memberikan pendidikan untuk memantapkan akhlak Agama remaja, namun terkendala dengan media yang tidak berakhlak yang sering muncul ditelevisi, seperti tayangan acara yang tidak lazim atau di anggap tidak layak di lihat oleh remaja. (Syurya, 30 April 2014).

Selanjutnya Yaryani menjelaskan :
Bahwa salah satu bentuk kendala yang ditemui dalam membina akhlak Agama terhadap remaja adalah pengaruh lingkungan. Lingkungan yang terlalu bebas dan sangat berpengaruhi terhadap orangtua dalam mendidik remaja. Orangtua telah berusaha menamkan berbagai akhlak Agama yang sesuai dengan ajaran Agama Islam, namun lingkungan yang tidak bagus telah  mengancurkan upaya orangtua, sehingga sangat sulit untuk mengontrol dan menanamkan kejujuran akhlak Agama kepada remaja. (Yaryani, 30 April 2014).

Selanjutnya Yurnida memberikan penjelasan bahwa “salah satu kendala orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam melaksanakan akhlak Agama adalah kurangnya pengetahuan Agama yang dimiliki oleh orangtua itu sendiri. Salah satu contoh orangtua tidak memahami makna tentang konsep jujur itu sendiri, maka pengetahuan yang kurang dari orangtua menjadi kendala terhadap membina kejujuran remaja”. (Yurnida, 4 Mei 2014). Pernyataan yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dalam setiap pembinaan yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung akan menemui hambatan atau kendala. Dalam membina remaja terhadap kejujuran perkataan dan perbuatan akan ditemui kendala seperti kendala dari dalam diri remaja itu sendiri yang suka berkata atau berbuat tidak jujur, orangtua yang terlalu menekan atau memaksakan kehendaknya kepada remaja dan pergaulan remaja itu sendiri dilingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan dalam pembinaan akhlak Agama juga ditemui hambatan seperti media televisi yang menyangkan pergaulan-pergaulan bebas yang seharusnya tidak layak ditonton oleh remaja, kurangnya pengetahuan Agama orangtua dan lingkungan yang terlalu bebas dalam menata remaja.
Selanjutnya wawancara juga dilakukan dengan kepala Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Dalam hal ini dijelaskan :
Bahwa akhlak remaja terutama dalam kejujuran saat ini sangat memprihatinkan apabila ditinjau dari faktor sejarah. Jika diperhatikan kondisi akhlak generasi saat dulu jauh berbeda dengan kondisi remaja saat ini. Remaja masa duhulu lebih berakhlak, salah satu contoh mereka menjunjung rasa sopan santun terhadap orang lain. Sedangkan remaja saat ini kebanyakan tidak menghargai orang lain dan kurang memiliki kesopanan. Sedangkan dari segi kejujuran, tergantung pembinaan dari orangtua mereka sendiri. Apabila pembinaan yang dilakukan oleh orangtua mereka berjalan dengan baik dan dituruti dengan baik pula oleh remajanya, maka proses pembinaan dapat dikatakan berhasil, namun pembinaan kejujuran yang apa adanya tanpa bersifat berkesinambungan, maka hasilnya kurang memuaskan.
Sedangkan strategi yang diterapkan untuk membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang  ini terbagi dalam beberapa aspek. Pertama adalah bekerjasama dengan orangtua remaja untuk membina kejujuran remaja. Maksudnya adalah kepada orangtua diharapkan untuk selalu menjaga, memperhatikan dan mendidik anak remaja mereka. Kedua adalah dengan menghadirkan Kampung yang nyaman, tenang terkontrol. Artinya adalah seluruh anggota masyarakat diharapkan bersama-sama supaya mampu menjaga kondisi lingkungan yang baik, aman dan terkendali serta menjaga lingkungan dari perbuatan-perbuatan yang tidak jujur.
Sedangkan faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam membina kejujuran remaja diantaranya :
1.    Keluarga
Keluarga yang harmonis, damai dan saling memperhatikan akan dapat membantu dalam membina kejujuran remaja, namun kaluarga yang tidak harmonis tidak nyaman dan sering terjadi keributan akan sangat susah dalam membina kejujuran remaja.
2.    Kebersamaan anggota masyarakat dalam menjaga remaja
Masyarakat yang kompak, masyarakat yang saling peduli akan melahirkan masyarakat yang saling berhubungan dengan baik dan saling menghormati. Maksudnya adalah apabila anggota masyarakat saling menjaga dan memperhatikan, maka secara lansung akan berdampak terhadap pemiliharaan remaja secara bersama-sama, termasuk dalam menjaga kesopanan, budi pekerti dan saling kejujuran remaja. Akan tetapi apabila anggota masyarakat yang kacau dan saling terjadi permusuhan, maka akan mendatangkan remaja yang sangat tidak menghormati masyarakatnya, suka berbuat kekacauan dan akan muncul juga remaja yang tidak jujur. (Jasmil, Kepala Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan :17 Mei 2014).

Selanjutnya wawancara juga dilakukan terhadap salah seorang tokoh masyarakat Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Dalam hasil wawancara dijelaskan :
Bahwa untuk membina kejujuran remaja, salah satu komponen yang difungsikan adalah rumah ibadah (Mesjid) yang terdapat di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Dalam memfungsikan masjid ini dilakukan berbagai bentuk kegiatan yang dapat membantu untuk membina kejujuran remaja. Bentuk-bentuk kegiatan yang diadakan diantaranya adalah kegiatan remaja Masjid, gotong royong bersama membersihkan lingkungan Masjid, dan pengajian Agama.
Pengembangan kegiatan yang diterapkan dalam membina kejujuran remaja sejauh ini telah dapat dilihat keberhasilannya. Artinya kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah dapat membantu orangtua dalam membina kejujuran remaja. Seperti remaja saling berkata jujur dan berbuat jujur dirumah dan dilingkungan tempat tinggalnya, remaja bergaul dengan baik, sopan dan jujur di lingkungan dengan sesama remaja dan remaja saling membantu untuk saling menasehati supaya berkata dan berbuat dengan jujur.
Sedangkan mengenai media yang menjadi penghambat dalam membina kejujuran remaja diantaranya adalah media televisi. Televisi bukan berarti tidak menjadi penambah wawasan pengetahuan remaja, namun televisi juga dapat menjadi penghambat dalam membina kejujuran remaja. Maksudnya televisi menjadi penghambat adalah bahwa terdapat dalam tayangan televisi tersebut yang tidak pantas untuk ditiru, seperti film yang suka memperlihatkan tayangan remaja yang suka berdusta, remaja yang suka melawan dan membohongi orangtuanya. Media lain yang dianggap menjadi penghambat dalam membina kejujuran remaja adalah lingkungan yang tidak baik. Seperti dalam interaksi lingkungan tersebut terdapat kata-kata yang tidak jujur yang dilakukan oleh seseorang dihadapan remaja. Hal ini dapat menghambat dalam membina kejujuran remaja. (Alizir Syarif, Tokoh Masyarakat Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan :17 Mei 2014 ).




 

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
Dari penelitian yang penulis lakukan di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan dengan judul peran orangtua dalam membina kejujuran remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan.
Bedasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulan sebagai berikut:
1.    Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Terdapat beberapa aspek diantaranya memberikan contoh tentang berkata jujur dan berbuat jujur, memberikan nasehat, memberikan perhatian dan memberikan hukuman. Sedangkan strategi yang diterapkan adalah bekerjasama dengan suami dan istri, menciptakan keluarga yang harmonis dan bekerjasama dengan sekolah tempat remaja menuntut ilmu.
2.   
70
 
Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perbuatannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Memiliki berbagai aspek diantaranya menggunakan metode yang tepat seperti metode keteladanan, ceramah, perhatian, nasehat, dan hukuman.
3.    Peran orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam akhlak Agama di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan. Terdapat beberapa aspek yang dilakukan diantaranya menanamkan pengetahuan akhlak Agama seperti rasa takut, cinta kepada Allah Swt, ridha dan tawakal kepada Allah Swt. Selanjutnya memberikan perhatian, nasehat dan hukuman dan mengajak remaja untuk mengikuti pengajian remaja di Masjid.
4.    Kendala-kendala yang ditemui oleh orangtua dalam membina kejujuran remaja dalam perkataannya di Kampung Tanjung Gadang kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan adalah lingkungan tempat tinggal yang kurang bagus, keluarga yang kurang harmonis, pengetahuan Agama Islam rendah yang dimiliki oleh orangtua dan pengawasan yang kurang dari orangtua dan masyarakat. Yang mengakibat pergeseran nilai kejujuran dewasa ini yaitu kurangnya perhatian dan bimbingan orangtua terhadap remaja, orangtua jarang memberikan contoh berkata jujur terhadap remaja, kurangnya kepercayaan orangtua terhadap remaja, pergaulan remaja yang kurang dikontrol oleh orangtua pada saat ini. 
B.  Saran
1.    Kepada orangtua hendaknya dapat meningkatkan pengetahuan Agama Islam untuk membina remaja kemudian adanya perhatian, nasehat, keteladanan dan hukuman yang bersifat membangun kejujuran remaja dan selalu melakukan pengawasan pergaulan remaja disekitar lingkungan tempat tinggal dan selalu aktif mengajak remaja mendengarkan pengajian Agama.
2.    Kepada anggota masyarakat diharapkan untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam lingkungan sehingga tercipta masyarakat yang damai dan aman, kemudian selalu bekerja sama dalam mengontrol pergaulan remaja.
3.    Kepada kepala Kampung dan tokoh masyarakat diharapkan selalu meningkatkan dan menciptakan berbagai kegiatan-kegiatan yang bersifat membimbing remaja dalam mengembangkan diri dan kejujurannya, kemudian saling adanya komunikasi yang lancar dalam membina remaja.
4.    Diharapkan kepada kepala Wali Nagari Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan selalu menciptakan berbagai kegiatan-kegiatan membimbing remaja dalam bidang positif dan kemudian saling adanya komunikasi yang lancar atau silaturahmi. 

DAFTAR PUSTAKA
Al-Mishri, Mahmud, (2008). Hiduplah Bersama Orang-orang Yang Jujur, Solo: Pustaka Arafah
Daradjat, Zakiah, (2009). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. Ke-8
_________, (1996). Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang
Departemen Agama RI, (1989). al-Qur’an dan  Terjemahnya, Lubuk Agung Bandung
Djamarah, Syaiful Bahri, (2004). Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga, Jakarta: Rineka Cipta
Hasbullah, (2009), Dasar-dasar Ilmu Pandidikan, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
http://cutrisanurzinah. blogspot.com/2013/05/peran.html/ di unduh tanggal 04 Februari 2014: 20:17.
http://kewajiban-orang.blogspot.com/ di unduh tanggal 08 Februari 2014: 17:19.

LN Syamsu Yusuf, (2006). Spikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. Ke-11
Musthafa, Fuhaim, (2008). Rahasia Rasul Mendidik Anak, Yogyakarta: Qudsi Media
Mulyana, deddy, (2008), Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
Marimba, D Ahmad, (1982). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Ramayulis, (2008). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, Cet. Ke-7
_________, (1996). Pendidikan Islam Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Kalam Mulia

Siswanto, Wahyudi, (2010). Membentuk Kecerdasan Spritual Anak, Jakarta: Amzah
Saebani, Beni Ahmad, (2009). Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia

Sudarsono, (2005), Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja,  PT. Asdi Mahasatya: Jakarta

Sutinah dan Bagong Suyanto, (2005), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Suhendi, Hendi, (2001). Pengantar Studi Sosiologi Keluarga, Bandung: Pustaka Setia.
Zuriah, Nurul, (2006) Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, PT. Bumi Aksara: jakarta
                                  

Daftar Wawancara Dengan Remaja Di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan
Untuk memperoleh data yang valid tentang penelitian yang berjudul Peran Orangtua Dalam Membina Kejujuran Remaja di Kampung Tanjung Gadang Kenagarian Amping Parak Timur Kec. Sutera Kab. Pesisir Selatan”, maka penulis melakukan wawancara terhadap anak.
1.   Apakah orangtua ananda melakukan contoh untuk berkata jujur ?
2.   Apabila orangtua ananda mengetahui ananda berkata bohong, apakah orangtua ananda memberikan nasehat ?
3.   Apa bila ananda ketahuan berkata bohong apakah orangtua ananda memberikan hukuman, dan apa hukuman yang mereka berikan ?
4.   Apa yang dilakukan orangtua ananda dalam mendidik untuk selalu jujur ?

 

Komentar