RPP


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN( RPP )Nama sekolah             :      MTs M Lb.AlungMata Pelajaran            :      Sejarah Peradaban IslamKelas/ Semester           :    VII/IAlokasi  waktu           :      2 x 40 menit ( 2 x pertemuan )
  1. Standar kompetensi :  Masa Umayyah Timur
  1. Kompetensi Dasar     : -   Memahami Sejarah berdirinya Umayyah timur
-       Memahami Keruntuhan Umayyah Timur
  1. Indikator                    :
-       Menjelaskan Proses berdirinya Umayyah Timur
-       Menjelaskan Keruntuhan Umayyah Timur D.    Tujuan Pembelajaran           : Setelah pembelajaran berakhir diharapkan siswa dapat:
-          Menjelaskan Proses berdirinya Umayyah Timur.-          Menjelaskan Keruntuhan Umayyah Timur. E. Materi Ajar                       : Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah Timur ( Damaskus ).  Berdirinya Dinasti Umayyah ini adalah tekad Muawwiyah untuk menjadi khalifah, jauh setelah terbunuhnya Usman bin Affan namun terkendala oleh Ali sebagai khalifah keempat karena beliau masih ada. Namun wafatnya Ali adalah satu jembatan emas bagi Muawwiyah guna mewujudkan tekadnya. Semula ada upaya Hasan bin Ali untuk menuntut balas kematian ayahnya dan ditambah usulan dari kelompok masyarakat agar Hasan bin Ali menggantikan posisi ayahnya, akan tetapi Hasan menyangsikan kemampuan diri dan kekuatan yang dimilikinya sehingga akhirnya ia bersedia mengakui Muawiyyah sebagai khalifah dengan syarat : Muawiyyah tidak menaruh dendam terhadap penduduk Irak dan bersedia menjamin keamanan serta memaafkan kesalahan mereka, pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepada Hasan dan diberikan tiap tahun, dan pemberian untuk Bani Hasyim harus lebih banyak dari pada Bani Abdi Syam. Keputusan-keputusan perjanjian perdamaian (tahkim) itu di setujui oleh Muawiyyah sehingga pada tahun 41H Muawiyyah memasuki kota Kuffah guna mengucapkan sumpah jabatan di hadapan dua putra Ali, yaitu Hasan dan Husein yang disaksikan oleh rakyat banyak. Dinasti ini ibukota pemerintahannya berada di Damaskus, yang sejak khalifah Usman, Muawiyyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya dan menyiapkan daerah Syiria sebagai pusat kekuasannya di kemuadian hari Selama 91 tahun , dinasti ini diperintah beberapa orang khalifah, mereka itu adalah : 1. Muawiyyah bin Abu Sofyan 661 s/d 680
 2. Yazid bin Muawiyyah 680 s/d 683 3. Muawiyyah bin Yazid 683 s/d 684 4. Marwan bin Hakam 684 s/d 685 5. Abdul Malik bin Marwan 685 s/d 705 6. Walid I bin Abdul Malik 705 s/d 715 7. Sulaiman bin Abdul Malik 715 s/d 717 8. Umar bin Abdul Aziz 717 s/d 720 9. Yazid bin Abdul Malik 720 s/d 724 10. Hisyam bin Abdul Malik 724 s/d 743 11. Walid II bin Yazid II 743 s/d 744 12. Yazid III 744 12. Ibrahim bin Walid II 744 13. Marwan II bin Muhammad II 744 s/d 750[5]          
            Diantara sekian banyak khalifah Dinasti Umayyah tersebut hanya beberapa khalifah yang menduduki jabatan dalam waktu yang cukup panjang yaitu: Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hasyim bin Abdul MalikTerbentuknya Dinasti Umayah Timur ini adalah berkat jasa Muawiyyah bin Abu Sofyan, sosok seorang politikus, tokoh militer, sahabat Nabi yang sempat dipercaya untuk menuliskan wahyu, dan pada pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, dia dipercaya sebagai gubernur Syiria hampir selama 20 tahun dan pada khalifah Usman bin Affan diangkat juga sebagai Amir al Bahr (prince of the sea) yang menguasai daerah Syiria sampai ke Laut Tengah. Track record ini sangat mendukung Muawiyyah mendapatkan hegemoni politik dari masyarakat Syiria untuk merancang dan meletakkan sendi dasar sebuah Dinasti Umayyah yang berbasis masyarakat rasional, sehingga solid dalam pembangunan politiknya dimasa depan. Soliditas yang dibangun Muawiyyah untuk sebuah Dinasti ditopang oleh beberapa faktor yaitu:
Ø  Pertama dukungan yang kuat dari masyarakat Syiria dan Bani Umayyah, disatu sisi masyarakat Syiria sudah terbentuk jiwa militansi dan sebagai tentara yang tangguh di bawah kepemimpinan Muawiyyah, dan Bani Umayah terkenal dengan kelompok bermodal, berkedudukan dan disegani masyarakat Arab di sisi yang lain, sehingga kedua variabel tersebut mendukung Muawiyyah untuk mendapatkan stimulasi dan insentif sebagai kekuatan yang memiliki akar kuat dalam bidang politik dan ekonomi di Syiria.
Ø  Kedua sebagai seorang administrator, Muawiyyah dengan kebijakan politiknya dapat dengan mudah menempatkan pembantunya pada jabatan yang strategis, diantara mereka adalah: ‘Amar bin ‘Ash, Mughirah bin Syu’bah dan Ziyad bin Abihi. Ketiga tokoh ini mempunyai kemampuan dan reputasi politik yang dikagumi masyarakat Arab. Ketiga Muawiyyah memiliki kemampuan sebagai negarawan sejati. Dari faktor itulah Dinasti Umayyah Timur kemudian menjadi Dinasti yang besar dan berpengaruh terutama di Jazirah Arab Khususnya dan dunia umumnya.
 Ø  Kemajuan Yang Dicapai
 Terbentuknya Dinasti Umayyah Timur merupakan gambaran awal bahwa umat Islam ketika itu telah kembali mendapatkan identitasnya sebagai negara yang berdaulat, juga merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang satu abad (661 – 750 M). Perubahan yang dilakukan, tidak hanya sistem kekuasaan Islam dari masa sebelumnya (masa Nabi dan Khulafaurrasyidin) tapi juga perubahan-perubahan lain di bidang sosial politik, keagamaan, intelektual dan peradaban. ·         Dinamika politik, sosial dan Ekonomi
 Dalam awal perkembangannya, dinasti ini sangat kental diwarnai nuansa politiknya yaitu dengan memindahkan ibukota kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus. Kebijakan itu dimaksudkan tidak hanya untuk kuatnya eksistensi dinasti yang telah mendapat legitimasi politik dari masyarakat Syiria, namun lebih dari itu adalah untuk pengamanan dalam negeri yang sering mendapat serangan-serangan dari rival politiknya.
Pemindahan sistem kekuasaan juga dilakukan Muawiyyah, sebagai bentuk pengingkaran demokrasi yang dibangun masa Nabi dan Khalifah yang empat, dari kekhalifahan yang berdasarkan pemilihan atau musyawarah menjadi kerajaan turun menurun (monarchi heridetis).Penggantian khalifah secara turun temurun dimulai dari sikap Muawiyyah yang mengangkat anaknya, Yazid, sebagai putera mahkota. Sikap ini dipengaruhi oleh keadaan Syiria yang menjadi wilayah kekuasaan selama dia menjadi gubernur dan memang bermaksud mencontoh monarchi heridetis di Persia dan kekaisaran Bizantium.Pada masa Nabi dan khalifah yang empat, keanggotaan masyarakat secara umum, dalam segala hal hanya dibatasi berdasarkan keagamaan, sehingga masyarakat secara garis besar terdiri muslim dan non muslim, dan dalam memperlakukan orang Islam sebagai mayoritas dapat dibedakan menurut dua kriteria, pertama yang menjurus kepada hal-hal yang praktis dan seringkali diterapkan pada kelompok, dan kreteria kedua berupa tindakan pengabdian kepada masyarakat yang sifatnya lebih personal. Sebagai tambahan atas kedua kriteria itu, pada Dinasti Umayyah syarat keanggotaan masyarakat harus berasal dari orang Arab, sedangkan orang non Arab setelah menjadi Muslim harus mau menjadi pendukung (mawali) bangsa Arab. Dengan demikian masyarakt muslim pada masa Dinasti Umayyah terdiri dari dua kelompok, yaitu Arab dan Mawali.Kebijakan politik Dinasti Umayyah lainnya adalah upaya-upaya perluasan wilayah kekuasaan. Pada zaman Muawiyyah, Uqbah bin Nafi’ berhasil menguasai Tunis yang kemudian didirikan kota Qairawan sebagai pusat kebudayaan Islam pada tahun 760 M. Di sebelah timur, Muawiyyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan. Di sebelah barat dan utara diarahkan ke Bizantium dan dapat menundukkan Rhodes dan pulau-pulau lain di Yunani.Pada tahun 48 H, Muawiyyah merencanakan penyerangan laut dan darat terhadap Konstantinopel, tetapi gagal setelah kehilangan pasukan dan kapal perang mereka.Pada masa Abdul Malik bin Marwan, jalannya pemerintahan ditentukan oleh empat departemen pokok (diwan) yaitu :
  • Kementerian Pajak Tanah (diwan al kharraj) yang bertugas mengawasi departemen keuangan Kementerian
  • Khatam (diwan al khatam) yang bertugas merancang dan mengesahkan peraturan/ordonansi pemerintah
  • Kementerian surat menyurat (diwan al rasail) dipercaya untuk mengontrol permasalahan di daerah-daerah dan semua komunikasi dari gubernur-gubernur
  • Kementerian urusan perpajakan (diwan al mustagallat)
 ·         Intelektual dan Keagamaan
 Di zaman pemerintahan Abdul Malik terdapat banyak bahasa yang digunakan dalam administrasi, seperti bahasa Persia, Yunani dan Qibti, namun atas usaha Salih bin Abdur Rahman, sekretaris al Hajjaj, ia mencoba menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan bahasa resmi di seluruh negeri sehingga perhatian dan upaya penyempurnaan pengetahuan tentang bahasa Arab mendorong lahirnya ahli bahasa yaitu Sibawaihi dengan karya tulisnya al Kitab menjadi pegangan dalam soal tata bahasa Arab.
Dalam daerah kekuasaannya terdapat kota-kota pusat kebudayaan yaitu Yunani Iskandariyah, Antiokia, Harran dan Yunde Sahpur yang semula dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Yahudi, Nasrani dan Zoroaster Khalifah Khalid bin Yazid bin Muawiyyah yang seorang orator dan berpikiran tajam berupaya menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran dan kimia.Khalifah Walid bin Abdul Malik memberikan perhatian kepada bimaristan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat , perawatan orang sakit dan studi kedokteran yang berada di Damaskus, sedangkan khalifah Umar bin Abdul Aziz menyuruh para ulama secara resmi untuk membukukan hadits-hadits Nabi, dan selain itu ia bersahabat dengan Ibn Abjar, seorang dokter dari Iskandariah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.Para ilmuwan yang berasal dari agama lain, meski ada yang beralih agama kepada Islam dan ada yang masih tetap bertahan dalam agamanya, diantaranya Yahya al Diamsyqi seorang pejabat di masa Abdul Malik bin Marwan, penganut Kristen fanatik yang berusaha mempertahankan akidahnya. Dengan metode logikanya ia mempertahankan “al masih sebagai Tuhan yang ke dua”. Dari sikap mereka mendorong umat Islam menyelidiki keyakinannya dan mempelajari logika untuk mempertahankan Islam sekaligus untuk mematahkan hujjah mereka, kelompok ini kemudian dianggap sebagai golongan rasionalis atau kelompok Mu’tazilah.Pengaruh lain dari ilmuwan kristen itu adalah penyusunan ilmu pengetahuan secara sistematis, selain itu berubah pula sistem hafalan dalam pengajaran kepada sistem tulisan menurut aturan–aturan ilmu pengetahuan yang berlaku. Pendukung dalam pengembangan ilmu adalah golongan non Arab dan telaahnya pun sudah meluas sehingga ada spesialisasi ilmu menjadi : ilmu pengatahuan bidang agama, bidang sejarah, bidang bahasa dan bidang filsafat.[29] Ilmuwan itu antara lain Sibawaihi, al Farisi, al Zujaj (ahli nahwu), al Zuhry, Abu Zubair, Muhammad bin Muslim bin Idris dan Bukhari Muslim (ahli Hadits) dan Mujahid bin Jabbar (ahli tafsir).  Ø  Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Umayyah Timur
 Dinasti yang didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan ini, dari beberapa khalifah yang memegang kekuasaan, hanya beberapa orang saja yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda pemerintahannya antara lain : Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik, selain mereka itu merupakan khalifah yang lemah. Dinasti ini mencapai puncaknya pada masa al Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun dan kekuasaan mereka direbut oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 M. 
  • Diantara faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah adalah:
 1.Pengangkatan Dua Putera Mahkota Perubahan sistem kekuasaan, dari sistem demokrasi kepada monarchi yang dirintis Muawiyyah bin Abu Sofyan , berakibat pada tumbuhnya bibit permusuhan dan persaingan diantara sesama anggota keluarga dinasti dan ditambah dengan langkah pengangkatan dua putera mahkota yang diberi mandat agar putera mahkota yang kedua sebagai pelanjut sesudah yang pertama, hal itu dilakukan khalifah Marwan bin al Hakim dengan mengangkat Abdul Malik bin Marwan dan Abdul Aziz, berikutnya adalah Abdul Malik mengikuti jejak mendiang ayahnya dengan mengangkat puteranya, yatu al Walid dan Sulaiman. Langkah ini tidak hanya menjadi permusuhan dan persaingan diantara sesama anggota keluarga tetapi juga merembet masuk di lingkungan para panglima dan pejabat. 2. Munculnya Fanatisme Suku Setelah Yazid bin Muawiyyah meninggal, fanatisme suku menyebar di tengah-tengah kabilah Arab namun belum sampai membahayakan kekuatan Bani Umayyah dari rongrongan kekuatan lain yang menginginkan kehancurannya sebagai pemegang supremasi politik umat Islam.Kondisi tersebut masih dapat dikendalikan terlebih dengan tampilnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah , ia seorang yang saleh dan adil. Dalam masa pemerintahannya diisi dengan memperbaiki kerusakan yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah sebelumnya, sehingga legalitas kepemimpinannya diakui dan diterima oleh semua pihak yang tidak mengakui pemerintahan Bani Umayyah.Ia terbebas dari fanatisme suku, karena ia tidak mengangkat seorang menjadi gubernur melainkan berdasarkan kecakapan dan keadilan yang dimiliki oleh yang bersangkutan.Namun ketika Umar bin Abdul Aziz wafat, dan kekhalifahan dipegang Yazid bin Abdul Malik, saat itu fitnah dan perselisihan diantara bangsa Arab utara (Arab Mudhar) /suku Qais dengan Arab selatan (Arab Yaman) /bani Kalb memanas, yang kemudian terjadi perang Murj Rahith, yang mengkibatkan terbunuhnya al Mulahhab bin Abu Shufrah dari Arab Yaman, ia seorang yang telah mengabdi seluruh hidup dan potensinya pada Bani Umayyah, yaitu pembelaannya dalam perang al Azariqah menghadapi kaum khawarij, berjuang memerangi penduduk Khurasan dan al Khazar serta orang-orang Turki. Sepeninggal al Mulahhab, tampillah puteranya yang menjadi perhatian dan tumpuhan pihak Arab Yamani untuk merongrong kedaulatan Dinasti Umayyah Timur. Namun demikian Bani Umayyah sekali waktu berpihak kepada Arab Qais dan dilain waktu kepada Arab Yaman.Fanatisme suku dapat dilihat ketika Yazid bin Abdul Malik mengangkat saudaranya yaitu Maslamah sebagai gubernur wilayah timur setelah mereka berjasa menumbangkan pemberontakan putera al Mulahhab, dan juga mengangkat Umar bin Hubairah yang berasal dari suku Qais.
Ketika Yazid wafat dan saudaranya yaitu Hisyam naik tahta maka khalifah baru menilai bahwa posisi orang-orang Qais dalam pemerintahan sudah terlalu kuat, dan hal ini, menurut Hisyam adalah membahayakan kelangsungan pemerintahan Bani Umayyah, kemudian ia mengambil tindakan dengan cara mengenyahkan orang-orang Qais dari kekuasaan dan balik berpihak kepada unsur Yamani, ini dimaksudkan agar kedua unsur tersebut berimbang. Untuk itu ia mengangkat Khalid bin Abdullah al Qasari sebagai gubernur Irak, dan juga mengangkat saudara Khalid yaitu Asad sebagai gubernur Khurasan. Dengan demikian kekuatan unsur Yamani kembali berperan dan kekuatan unsur Qaisi melemah, kemudian orang-orang dari unsur Yamani berkesempatan menumpahkan balas dendam mereka kepada orang-orang dari unsur Qaisi.Demikianlah fanatisme suku yang telah mencabik-cabik Dinasti Umayyah, sehingga negara menjadi ajang bagi tumbuhnya beragam fitnah dan kerusuhan dan kemudian keruntuhan dinasti ini terjadi. 3.Terlena Dalam KemewahanPola hidup sebagian khalifah Dinasti Umayyah yang sangat mewah dan senang berfoya-foya sebagai warisan pola hidup para penguasa Bizantium adalah faktor lain yang telah menanam andil besar bagi keruntuhan dinasti ini. Yazid bin Muawiyyah adalah seorang khalifah dari Dinasti Umayyah sangat terkenal sebagai pengagum berat wanita, memelihara para penyanyi wanita, memelihara burung buas, singa padang pasir dan seorang pecandu minuman keras.Prilaku Yazid bin Abdul Malik juga tidak lebih baik dari Yazid bin Muawiyyah, ia adalah pemuja wanita dan penggemar pesta pora. Begitu pula dengan puteranya yaitu al Walid, ia seorang khalifah yang sangat senang dengan kehidupan serba mewah dan terlena dengan romantika asmara.    4. Fanatik Arab Dinasti Umayyah adalah murni daulat Arab, sehingga ia sangat fanatik kepada bangsa Arab dan kearabannya. Mereka memandang orang non Arab ( mawali) dengan pandangan sebelah mata, sehingga menimbulkan fitnah diantara sesama kum Muslimin, disamping itu pula telah membangkitkan nasionalisme di dalam Islam.Bibit daripada geraka tersebut adalah anggapan bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling utama dan mulia dan bahasa Arab adalah bahasa yang paling tingga dibanding dengan yang lain.Tindakan diskriminatif tersebut telah membangkitkan kebencian kaum mawali kepada Bani Umayyah, akhirnya sebagai kaum tertindas mereka selalu mencari waktu yang tepat untuk melampiaskan kebenciannya. Mereka menggabungkan diri dengan al Mukhtar dan kaum khawarij untuk bersekutu dan ditambah dengan propagandis kaum abassi untuk memberontak dan menggulingkan Dinasti Umayyah.Sekutu tersebut melakukan gerakan oposisi terhadap Dinasti Umayyah dengan pimpinan Muhammad bin Ali dan kemudian dilanjutkan kedua puteranya yaitu ibrahim dan Abu Abbas yang didukung oleh masyarakat pendukung Ali di Khurasan. Di bawah pimpinan panglimanya yang tangkas, yaitu Abu Muslim al Khurasani, gerakan ini dapat menguasai wilayah demi wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah dan bahkan dalam pertempuran di Zab Hulu sebelah timur Mosul, Marwan II, khalifah terakhir Dinasti Umayah dapat dikalahkan, Marwan II di bunuh di Mesir pada bulan Agustus 750 M dan berakhirlah kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus. F. Metode pembelajaran :    -     Ceramah
-          Tanya jawab
G. Langkah-langkah pembelajaran 
NO
Uraian Kegiatan
Nilai yang ditanamkan
Waktu
1
Kegiatan awal :
-          Salam, do’a dan Apsensi
-          Mencek keadaan fisik dan psikis peserta didik
Apersepsi :
-          Menghubungkan materi Umayyah Timur dengan Persoalan yang terjadi masa Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib
Motivasi
-          Menyampaikan tujuan pembelajaran secara bertanggungjawab
-          Menyampaikan sistem pembelajaran dengan memperhatiakn dan tanya jawab


2
Kegiatan Inti :
Eksplorasi
-          Siswa Membaca literatur dan referensi tentang  Umayyah Timur
-          Siswa mengamati penjelasan guru tentang Proses berdirinya dan keruntuhan Umayyah Timur
Elaborasi
-          Membuat bagan dengan media tentang penjelasan Proses berdiri dan Keruntuhan Umayyah Timur.
-          Salah seorang siswa menjelaskan Proses berdiri dan keruntuhan Umayyah Timur.
Konfirmasi
-          Guru melakukan penguatan terhadap penjelasa macam-macam puasa
-          Siswa mendengarkan dan memahami penguatan penjelasan dari pendidik

Religius,jujur, mandiri, demokratis, komonikatif, tanggung jawab

3
Kegiatan akhir
-          Guru Menyimpulkan materi
-          Guru memberikan refleksi atau pertanyaan mengenai proses berdiri dan keruntuhan Umayyah Timur dalam bentuk teka teki silang
-          Guru memberikan tugas kepada siswa membuat kesimpulan tentang berdiri dan berkembangnya Umayyah timur, tokoh-tokoh ilmuwan  Umayyah timur, dan mengambilibrah dari perkembangan  Umayyah timur
-          Guru Menyampaikan pelajaran yang bisa diambil kepada Siswa
-          Guru memberikan motivasi dan pesan-pesan kepada siswa

Religius,jujur, mandiri, demokratis, komonikatif, tanggung jawab

  H. Sumber belajar -          Buku yang relefan dengan Pembelajaran SPII.                   Penilaian
Nilai budaya dan karakter bangsa
Indikator Pencapaian Kompetensi
Jenis penilaian
Bentuk penilaian
Contoh Instrumen /
Soal
·         Religius
·         Jujur
·         Mandiri
·         Demokratif
·         Komunikatif
·         Tanggungjawab
Siswa mampu menjelaskan Proses berdirinya Umayyah Timur

Tes lisan  

Uraian dan teka teki Sialang
1.      Jelaskanlah Proses berdirinya Umayyah timur
2.      Jelaskan kemajuan yang diraih Umayyah Timur.
3.      Jelaskan sebab keruntuhan Umayyah Timur.

    
Mengetahui
Kepala Sekolah




................................................
NIP. .........................................
30 .,   Maret.. 2013
Guru Pendidikan Agama Islam




Syarifah Umar
NIP. .......................................
         

Komentar