silabus figh muamalah semester IV


1.     Fikih muamalah
A.   Pengertian muamalah
Mengambarkan suatu aktifitas yang di kerjakan oleh seseorangatau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Sedangkan fikih muamalah secara bahasa di defenisikan sebagai hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan hukum manusia dalam pesoalan-persoalan keduniaan.
B.    Muamalah dalam perubahan sosial
Persoalan muamalah sangat terkait dengan perubahan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dalam persoalan-persoalan masyarakat yang di pentingkan adalah substansi makna yang terkandung dalam suatu bentuk muamalah. Jikia muamalah yang di lakukan dan di kembangkan itu sesuai dengan substansi makna yang di kehendaki syara’ dan bertujuan untuk kamaslahatan umat manusia serta menghindari kemudratan dari mereka, maka jenis muamalah itu dapat di terima.
Untuk mengatasi nilai-nilai negatif yang terkandung dan di bawa oleh perubahan sosial dalam persoalan muamalah inilah syariat islam mengemukakan berbagai prinsip dalam kaidah-kaidah yang di jadikan patokan untuk keabsahan suatu bentuk muamalah yang tercipta akibat perubahan sosial tersebut. Artinya suatu bentuk muamalah pada suatu sa’at kemaslahatan manusia tidak berjalan dengan bentuk muamalah tersebut, maka jenis muamalah itu bisa di nyatakan tidak berlaku lagi.

2. Kerja Sama Dalam Bidang Pertanian
A. Musaqah (paroan kebun)
Musaqah adalah bentuk kerjasama di mana orang yang mempunyai kebun memberikan kebunnya kepada orang lain (petani) agar dipelihara dan penghasilan yang didapat  dari kebun itu di bagi berdua menurut perjanjian sewaktu akad.Musaqah di bolehkan oleh agama karena banyak orang yang membutuhkan. Ada orang yang mempunyai kebun, tapi tidak dapat memeliharanya. Sebaliknya ada orang yang  tidak mempunyai kebun, tapi terampil bekerja. Musaqah memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yakni pemilik kebun pengelola, sehingga sama-sama memperoleh hasil dari kerja sama tersebut. Hadis nabi yang artinya: Dari ibnu uma:sesengguhnya nabi muhammad SAW telah memberikan kebun beliau kapada penduduk khaibar agar di pelihara oleh mereka dengan perjanjian, mereka akan di beri sebagian dari penghasilannya baik dari buah-buahan atau dari hasil petani (palawija)
B.     Muzaraah
Muzaraah merupakan kerjasama dalam peranian berupa sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang. Sedangkan benih (bibit) nya dari pekerja (petani).. Zakat hasil paroan ini di wajibkan atas orang yang punya benih. Oleh karena itu, pada muzaraah zakat wajib atas petani yang bekerja karena pada hakekatnya dialah (si petani) yang bertanam, yang mempunyai tanah seolah-olah mengambil sewa tanah nya, sedangkan pengantar dari sewaan tidak wajib mengeluarkan zakatnya.
C.    Mukhabarah
Mukhabarah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkanbenihnya dari pemilik dari sawah atau ladang. Adapun pada mukhabarah, zakat di wajibkan atas yang punya tanah karena pada hakekatnya dialah yang bertanam, sedangkan petani hanya mengambil upah. Penghasilan yang di ambil dari upah tidak wajibdi bayar zakatnya. Kalau benih dari keduanya, zakat wajib atas keduanyayang di ambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi. Hukum kerjasama tersebut diatas diperbolehkan sebagian besar para sahabat, tabi’in, dan para imam.
3.      khiyar
a. Pengertian khiyar
Khiyar adalah memilih dua kemungkinan, yaitu meneruskan jual beli atau menguranginya. Islam membolehkan khiyar sepanjang terpenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan oleh syara’.
b.      Macam-macam khiyar
·         Khiyar majlis yaitu: Khiyar yang memberikan kelonggaran kepada penjual dan pembeli untuk meneruskan atau membatalkan jual beli.
·         Khiyar syarat, yaitu hak bagi penjual dan pembeli untuk meneruskan akad atau membatalkannya setelah disepakatinyasyarat-syaratnya dalam transkaksi.
·         Khiyar aibi, yaitu Khiyar yang dilakukan karena adanya cacat pada benda yang di perjual belikan. Khiyar aibi boleh dilakukan dengan syarat:
Ø  Cacatnya barang tidak diketahui oleh penjual dan pembeli dalam transaksi.
Ø  Penjual sengaja menutupi kecacatan barang dagangannya.
Ø  Pembeli tidak sengaja membuat kecacatan atas barang tersebut.
c.       Hikmah khiyar
·         Dapat menghidari adanya penyesalan di kemudian hari salah satu pihak.
·         Akad jual beli berlangsung menurut prinsip ajaran islam yaitusuka sama suka antara kedua belah pihak.
·         Pembeli memberikan barang yang baik dengan seleranya.
·         Penjual mendapatkan uang sesuai dengan harganya.
·         Penjual tidak sembarangan menjual barangnya kepada pembeli.
·         Terhindar dari penipuan, baik dari penjual maupun dari pembel.

4. Hibah dan sedekah
a. Hibah
a)  Pengertian dan hukumnya
Menurut bahasa hibah artinya pemberian. Sedangkan menurut istilah hibah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang  secara Cuma-cuma tanpa mengharapkan apa-apa. Hibah dapat di sebut juga hadiah. Hukum hibah adalah mubah(boleh). Sebagaimana sabda rasullah yang artinya: siapa yang di beri kebaikan oleh sudaranya dengan tidak berlebihan dan tidak karena diminta  maka hendaklah di terima dan janganlah di tolak. Karena yang demikian itu merupaka rizki yang di berikan oleh allah kepadanya”(HR Ahmad)
b) Rukun hibah
a)      Pemberi hibah (wahib)
b)      Penerima hibah (Mauhub Lahu)
c)      Barang yang dihibahkan.
d)     Penyerahan (Ijab Qabul)
c).  Ketentuan hibah
Hibah dapat di anggap syah apabila pemberian itu sudah mengalami proses serah terima. Jika hibah itu baru di ucapkan dan belum terjadi serah terima maka yang demikian itu belum termasuk hibah.
Jika barang yangdi hibahkn itu telah di terima maka yang menghbahkan tidak boleh meminta kembali, kecuali orang yang memberi itu orangtuanya sendiri (ayah/ibu) kepada anaknya.
b. Shadaqah
a) Pengrtian sadaqah dan hukumnya.
Shadaqah ialah: pemberian sesuatu kepada seseorang yang membutuhkan, dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dalam kehidupan  sehari-hari dapat di sebut shadakah.
b)  Rukun Shadakah
Rukun shadakah dan syaratnya masing-masing adalah sbb:
·         Orang yang memberi, Syaratnya orang yang memiliki benda itu  dan berhak untuk mentasharrufkan (memperedarkannya).
·         Orang yang diberi, Syaratnya berhak memilliki. Dengn demikian tidak syah memberi kepada anak yang masih dalam kandungan ibunya atau memberi kepada binatang, karena keduanya tidak berhak memiliki sesuatu.
·         Ijab dan Qabul, ijab ialah pernyataan pemberian dari orang yang memberi. Sedangka qabul ialah pernyataan penerimaan dari orang yang menerima.
·         Barang yang diberikan, syaratnya barang yang dapat dijual bermanfaat.
Perbadaan shadaqah dan infaq, bahawa sdaqah lebih bersifat umum dan luas, Sedangkan infaq adalah pemberian yang di keluarkan pada waktu penerima rizk atau karunia Allah. Karena infaq dan shadakah sedikit sekali perbedaannya, maka umat islam lebih cendrung menganggapnya sama, sehingga biasa di tulis infaq shadakah.
5. Jual beli
Jual beli dalam istilah fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu yang lain. Seacara istilah terdapat beberapa defenisi jual beli yang dikemukakan ulama fiqh. Ulama hanafiah mendefinisikan tukar menukar sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.
Dalam defenisi inimengandung pengertian bahwa cara yang khusus yang dimaksudkan ulama hanafiah adalah  melalui ijab (ungkapam membeli dari pembeli) dan qabul (pernyataan menjual dari penjual), atau juga boleh melalui yang memberikan barang dan harga dari yang penjual dan pembeli.
Dasar hukum jual beli
Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-qur’an yang berbicara tentang jual beli, diantaranya dalam surat al-baqarah ayat 275
Yang artinya:
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba....
Dan Qs: annisa :29
Yang artinya:
.......kecuali dengan jalan perdagangan yang didasari suka sama suka diantara kamu....
Hukm jual beli
Dari kandungan ayat-ayat diatas para ulama fiqh sepakat mengatakan bahwa hukum asal jual beli adalah mubah (boleh).

Rukun jual beli
*                       Ada orang yang berakad atau al-muta’agidain (penjual dan pembeli)
*                       Ada sighat (Lafal ijab dan qabul).
*                       Ada barang yang dibeli.
*                       Ada nilai tukar pengganti barang.
Syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama adalah:
a)      Syara yang berakad.
·  Berakal
·  Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Artinya seseoarang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan seperto penjual sekaligus pembeli.
b)      Syarat yang terkait dengan ijab qabul
Para ulama fiqh mengemukakan bahwa syarat ijab qabul itu adalah:
·         Orang yang mengucapkannya telah baligh berakal.
·         Qabul sesuai dengan iajb.
·         Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majlis.
c)      Syarat barang yang diperjual belikan
·         Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk menggadakan barang.
·         Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.
·         Milik seseoarang (pribadi).
·         Boleh diserahkan saad akat berlangsung, atau pada yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.
d)     Syarat-syarat nilai tukar (harga barang).
·         Hara yang disepakati kedua belah pihak, hars jelas jumlahnya.
·         Boleh diserhkan pada waktu akad, ataupun secara hukum, seperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berhutang), maka waktu pembayaran harus jalas.
·         Apabila jual beli yang dilakukan dengan saling mempertukarkan barang yang (al-muqa’yadhah), maka barang yang dijadikan nilai barang tukar bukan barang yang diharamkan syara’. Separti babi san khmar
Disamping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli diatas ulama fiqh juga mengemukakan syarat lain yaitu:
Ø  Jual beli terhindar dari cacat
Ø  Syarat yang terkait pelaksanaan jual beli. Jual beli baru boleh dilaksanakan apabila yang berakad mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli.
Ø  Syarat yang terkait dengan kekuasan hukum akad jual beli. Para ulam fiqh sepakat mengatakan bahwa suatu jual beli bersifat mengikat apabila jual beli itu terbebas dari segala macam khiyar (hak pilih untuk meneruskan atau membatalkan jual beli). Apabila jual beli itu masih mempunyai hak khiyar, maka jual beli belum mengikat dan masih boleh dilakukan.
6.  Riba
Pengertian riba.
Secara bahasa riba berarti tambahan (al-ziyadah). Sedangkan menurut istilah Imam Ibnu al-Arabi mendefenisikan riba dengan semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensansi. Menurut Imam suyuti dalam tafsir jalalain menyatakan, riba adalah  tambahan yang dikenakan didalam mu’amalah, uang, maupun makanan baik dalam kadar maupun dalam waktunya.
Hukum Riba
Seluruh ulama sepakat mengenai riba, baik yang di pungut sedikit maupun banyak. Seseoarang tidak boleh menguasai harta riba dan harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja.
Sabda rasullullah mengenai keharaman riba.
Yang artinya:
Satu dirham riba yang di makan seseorang,dan ia mengetahui (bahwa itu adalah riba) itu lebih berat dari pada enam puluh kali berzina. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah)
Jenis-jenis riba
a)      Riba nasi’ah
Merupakan tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran hutang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan sanki atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru.


b)      Riba fadhal
Adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yan sejenis. Dalil  pelarangan hadis
Yang artinya:
Emas dengan emas, perak dengan perak, gamdum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal, setara dan kontan. Apabila jenisnya berbeda, juallah sesuka hatimu jika dilakukan dengan kontan. (HR Muslim dari Ubadah bin Shamit ra)

c)      Riba al-yadd
Riba yang disebabkan penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang atau barang telah terpisah dari tempat akad sebelum diadakan serah terima.

d)     Riba Qardl
Riba Qardl adalah meminjam uang uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diserahkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman.

7.      Pengertian fiqh muamalah dan hubungannya dengan fiqih lain
Pengertian
Fiqh muamalah merupakan ketentuan-ketentuan hukum tentang usaha-usaha memperoleh dan mengembangkan harta, jual beli, hutang piutang dan jasa penitipan di antara anggota-anggota masyarakat sesuai keperluan mereka, yang dapat dipahami dan dalil-dalil syarak yang dapat dipahami.
Pembagian fiqh muamalah
Menurut Ibn Abidin, fiqih muamalah dalam arti luas dibagi menjadi lima bagian:
·         Muawadhah Maliyah (Hukum perbendaan)
·         Munakahat (Hukum perkawinan)
·         Muhasanat (Hukum acara)
·         Amanat dan ‘Aryah (hukum pinjaman)
·         Tirkah (hukum peninggalan)
Hubungan fiqih muamalah dengan fiqih lain:
v  Sama-sama berlandasan al-qur’an dan hadits, sebagai landasan utamanya.
v  Hubungannya dengan fiqih munakahat, sama-sama membahas tentang hubungan manusia dengan manusia dan dengan harta benda.
v  Sama-sama ada keterkaitannya dengan ibadah kepada Allah khususnya dalam hal fiqih ibadah.
8.      Kedudukan dan fungsi harta.
a.       Pengertian harta, menurut hanafiah adalah sesuatu yang dapat disimpan untuk digunakan ketika dibutuhkan.
b.      Unsur-unsur harta,
Ø  Unsur aniyab
Ø  Unsur urf
c.       kedudukan harta, harta berkedudukan sebagai amanat.karena harta sebagai titipan, maka manusia tidak memiliki secara mutlak.
d.      Pembagian harta,
*      Mal mulutakawwim dan ghair mutakawwim
*      Mal mitsli dan mal qimi
*      Harta istihlak dan harta isti’mal
*      Harta maqbul dan harta ghair maqbul
*      Harta Ain dan harta Dayn
*      Mal al-ain dan al-nafi
*      Harta mamluk, mubah,mahjur
*      Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi.
*      Harta pokok dan harta hasil
*      Harta khas dan harta ‘am.
e.       Fungsi harta,
·         Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
·         Untuk menyelaraskan antara kehidupan dunia dan akhirat
·         Untuk menumbuhkan silahturahhim, karena dengan adanya perbedaan dan keperluan sehingga terjadilah interaksi dan komunikasi silaturahim dalam rangka saling mencukupi kebutuhan.
9.      Al huluq.
a.       Pengertian alhuluq (hak-hak dalam islam) , katahak secara etimologi berarti, milik, ketetapan, kepastian.sedangkan terminologi, suatu kekhususan yang ditetapkan syarak suatu kekhuasaan.
b.      Macam-macam hak
v  Hak Allah, hak yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menyembah dan mengabdi kepadaNya.
v  Hak manusia, hak yang dimaksudkan untuk menjaga kemaslahatan seseorang.
c.       Akibat hukum suatu hak
o   Pelaksanaan dan penuntutan hak
o   Pemeliharaan hak
o   Penggunaan hak
d.      Macam –macam hak dan klasifikasinya
o   Haqq al irtifaq, disebut juga dengan milik almanfaat al ‘ani.adalah hak pemanfaatan benda tidak bergerak, baik benda itu milik pribadi atau milik umum. Seperti pemanfaatan lahan tetangga untuk jalan dan pemanfaatan sumur tetangga untuk mengambil air minum. penyebab timbulnya haqq al-irtifaq :
1)      Perserikatan umum atau sejak semula barang tersebut untuk kepentingan umum.
2)      Adanya perjanjian atau syarat yang disepakati ketika melakukan transaksi.
3)      Al –taqadum (kedaluarsa).
o   Haq al-intifaq adalh , kewenangan memanfaatkan sesuatu yang berada dalam kekuasaan atau milik orang lain, dan kewenagan itu terjadi karena beberapa hal yang disyariatkan islam yaitu, pinjam-meminja, sewa, waqaf, wasiat
10.  Sewa menyewa menurut islam.
A.    Pengertian sewa menyewa,
Sewa menyewa dalam bahasa arab diistilahkan dengan Al ijarah. Menurut pengertian hukum islam, sewa menyewa diartikan sebagai suatu jens akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian. Dari pengertian diatas dilihat bahwa yang dimaksud dengan sewa-menyewa adalah, pengambilan manfaat sesuatu benda. Dalam hukum islam, orang yang menyewaakan disebut mu’ajir, sedangkan orang yang menyewa disebut mu’tajir.pengertian menurut beberapa ulama :
§  Menurut hanfiah,akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti.
§  Menurut malikiyah, nama bagi akad-akad untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan sebagian yang dapat dipindahkan
§  Menurut ala syarbini al khatib, pemilikan manfaat dengan adanya imbalan dan syarat.
§  Menurut asy-syafi-yah, akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu.
B.     Jenis –jenis barang yang disewakan :
1)      Sewa menyewa rumah
Sewa-menyewa rumah adalah, untuk dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh penyewa atau sipenyewa menyuruh orang lain untuk menempatinya dengan cara meminjamkan atau menyewakan kembali.
2)      Sewa menyewa tanah,
Sewa –menyewa tanah dalam hukum perjanjian islam dapat dibenarkan , baik tanah untuk pertanian atau pertapakan bangunan atau kepentingan lainnya.

C.     Syarat dan rukun sewa –menyawa
ü  Yang menyewakan dan menyewa telah baliq, berakal sehat dan sama-sama ridha
ü  Barang sesuatu yang disewakan itu mempunyai faedah yang berharga.
ü  Harga sewanya dan keadaannya jelas
ü  Yang menyewakan adalah pemilik barang sewa
ü  Ada kerelaan kedua belah pihak, yang menyewakan dan penyewa yang digambarkan pada nyaijab kabul.
ü  Yang disewakan ditentukan barang atau sifat-sifatnya.
ü  Manfaat yang dimaksud bukan hal yang dilarang syarak.
ü  Berapa lama waktu menikmati manfaat barang sewa harus jelas.
D.    Tujuan sewa menyewa.
adapun tujuan sewa menyewa adalah untuk menyambil manfaat dari apa yang disewa tersebut dengan maksud tertentu dan mubah setelah disewa maka akan memberi pengganti kepada yang menyewakan.
E.     Ketentuan untung rugi dalam sewa-menyewa
Bila barang sewa mengalami rusak akibat penggunaan yang melampaui kapasitasnya, penyewa dapat dituntut ganti rugi, atas kerusakan barang itu
F.      Hukum sewa-menyewa
Hukum ijarah sahih adalah tetapnya kemanfaatan bagi penyewa, dan tetapnya upah bagi pekerja atau barng yang menyewakan ma’qud’alaih, sebab ijarah termasuk jual beli pertukaran, hanya saja dengan kemanfaatan.
G.    Keuntungan dan kerugian sewa-menyewa
a)      Keuntungannya antara lain :
*      Dengan sewa-menyewa bisa membantu orang menyambil manfaat dari yang disewakan.
*      Membantu orang yang tidak mampu membeli barang.
*      Penyewa tidak dibebani biaya-biaya yang diperlukan pada pemiliknya untuk menyerahkan barang jika barang tersebut rusak.
b)      Kerugian sewa-menyewa.
o   Bila  barang rusak maka yang menanggung resiko adalah pemilik barang.
o   Resiko yang ditanggung tak sebanding dengan harga sewa
c)      Batalnya sewa-menyawa :
v  Telah habis masanya.
v  Barang /sesuatu rusak sendiri
v  Barang yang di sewakan bukan pemilik sewa yang sah
v  Terjadinya cacat pada barang sewaan yang terjadi pada barang sewaan
v  Adanya uzur
11.  Ariyah ( simpan-pinjam)
A.Pengertian
Ariyah ialah memberikan manfaat sesuatu yang halal kepada yang lain untuk diambil manfaatnya dengan tidak merusak zatnya, agar dapat dikembalikan lagi zat barang tersebut.Setiap yang mungkin dikembalikan manfaatnya dengan tidak merusak zat barang itu, boleh dipinjam atau dipinjamkan.Firman Allah SWT.“Bertolong menolonglah kamu atas kebajikan dan taqwa kepada Allah, dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan bermusuhan” (Al-Maidah: 2) Meminjamkan sesuatu berarti menolong yang meminjam. Firman Allah SWT.“Mereka enggan meminjamkan barang-barang yang berguna (kebutuhan rumah tangga, seperti jarum, timba dll)”.
B.     Hukum Pinjaman
Asal hukum meminjamkan adalah sunat, seperti tolong menolong dengan orang lain, kadang-kadang menjadi wajib, seperti meminjamkan kain kepada orang yang terpaksa dan meminjamkan pisau untuk menyembelih binatang yang hampir mati. Juga kadang-kadang haram, kalau yang dipinjam itu akan berguna untuk yang haram. C. Rukun Pinjaman
a.       Yang meminjamkan syaratnya :
·         Ahli (berhak) berbuat baik  sekehendaknya:  anak kecil dan  orang yang dipaksa, tidak sah meminjamkannya.
·         Manfaat barang yang dipinjam dimiliki oleh yang meminjamkan, walau dengan jalan wakaf atau menyewa sekalipun, karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat, bukan bersangkutan dengan zat. Oleh karenanya yang meminjamkan tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya karena manfaat barang yang dipinjam bukan miliknya. Hanya dia dizinkan mengambilnya, tetapi membagikan manfaat yang boleh diambilnya kepada yang lain, tidak berlarangan, seperti dia meminjam rumah selama satu bulan ditinggalinya hanya 15 hari, sisinya (15 hari lagi) boleh diberikannya kepada orang lain.
b.      Yang Meminjam, hendaklah dia orang yang ahli (berhak) menerima kebajikan. Anak kecil dan orang gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak berhak) menerima kebajikan.
c.       Barang yang dipinjam syaratnya:
·         Barang yang tentu ada manfaatnya
·         Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak), oleh karenanya makanan dengan  sifat untuk dimakan, tidak sah dipinjamkan
·         Lafadz: kata setengah orang, sah dengan tidak berlafadz
D, .Mengambil Manfaat Barang Yang Dipinjam, Yang meminjam boleh mengambil manfaat dari barang yang dipinjamnya hanya sekedar menurut izin dari yang punya, atau kurang dari yang diizinkan.
e. Hilangnya Barang Yang Dipinjam, Kalau barang yang dipinjam hilang atau rusak sebab pemakaian yang dizinkan, yang meminjam tidak mengganti karena pinjam meminjam itu berarti percaya-mempercayai, tetapi kalau sebab lain wajib menggantin Menurut pendapat yang lebih kuat, kerusakan yang hanya sedikit karena dipakai yang dizinkan tidaklah patut diganti, karena terjadinya disebabkan oleh pemakaian yang dizinkan (kaidah: Ridho pada sesuatu, berarti ridho pula pada akibatnya).
f. Mengembalikan Yang Dipinjam, Kalau mengembalikan barang yang dipinjam tadi berhajat pada ongkos maka ongkos itu hendaknya dipikul oleh yang meminjam. Sabda Rasulullah SAW. Dari Sumura: telah bersabda Nabi besar SAW; tanggung jawab barang diambil atas yang mengambil sampai dikembalikannya barang itu” (Riwayat Lima orang ahli Hadits selain Nasa’i) Pada tiap-tiap waktu, yang meminjam dan yang meminjamkan tidak berhalangan buat mengembalikan / minta kembali pinjaman karena ‘Ariyah adalah akad yang tidak tetap. Kecuali bila meminjam untuk pekuburan, maka tidak boleh dikembalikan sebelum hilang bekas-bekas mayat, berarti sebelum mayat hancur menjadi tanah, dia tidak boleh meminjam kembali. Atau dipinjamkan tanah untuk menanam padi, tidak boleh mengetam. Ringkasnya keduanya boleh memutuskan akad asal tidak merugikan kepada salah satu seseorang dari yang meminjam atau yang meminjamkan, Begitu juga sebab gila maka apabila mati yang meminjam, wajib atas warisnya mengembalikan barang pinjaman dan tidak halal bagi mereka memakainya, kalau mereka pakai juga, mereka wajib membayar sewanya. Kalau berselisih antara yang meminjamkan dengan yang meminjam (kata yang pertama belum dikembalikan, sedangkan yang kedua mengaku sudah mengembalikannya), hendaklah dibenarkan yang meminjamkan dengan sumpahnya, karena yang asal belum kembali. Sesudah yang meminjam mengetahui bahwa yang meminjamkan sudah memutuskan akad, dia tidak boleh memakai barang yang dipinjamnya.
12.  Al- mudharabah
A. pengertian mudharabah
Menurut bahasa, kata mudharabah berasal dari adh-dharbu fil arshi, yaitu melakukan perjalanan untuk berniaga. Mudharabah disebut juga qiradh, yang berarti sepoting. Karena pemilik modal mengambil sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan dan ia berhak mendapatkan sebagian dari keuntungannya. Menurut istilah fiqh mudharabah adalah akad perjanjian antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan.


B. Hukum mudharabah
Dalam islam akad mudharabah di bolehkan, karena bertujuan untuk saling membantu antara pemilik modal dengan seorang pakar dalam memutarkan uang. Dasar hukum mudharabah antara lain.
·         Al-Quran , yaitu surat Al-muzammil,ayat 20. Yang artinya : “dan sebagian mereka berjalan dimuka bumi mencari karunia Allah”
·         As-sunnah
Rasulullah bersabda yang artinya, tiga perkara yang mengandung berkah adalah jualbeli yang ditangguhkan, melakukan qiradh, dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk diperjualbelikan.( HR. Ibn Majah dari shuhaib).
C.  Rukun dan syarat Mudharabah
Ø  Rukun mudharabah :
·         Adanya dua pelaku atau lebih
·         Objek transaksi kerjasama, yaitu modal, usaha , keuntungan.
·         Pelafalan perjanjian (shighat), shighat adalah ungkapan yang berasal dari kedua belah pihak pelaku transaki yang menunjukkan keinginan melakukannya.
Ø  Syarat mudharabah :
·         Adanya dua pelaku atau lebih
·         Modal
·         Jenis usaha.
·         Keuntungan
D. jenis- jenis mudharabah
ü  Mudharabah muthlaqah, menyerahkan modal secara mutlak, tanpa syarat dan pembatasan.
ü  Mudharabah muqayyadah, penyerahanmodal dengan syaaraat dan bataasan tertentu.

Komentar