ARAB SEBELUM ISLAM

ARAB SEBELUM ISLAM
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah kebudayaan umat manusia proses tukar-menukar dan interaksi (intermingling) atau pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memang senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan Barat dan peradaban Islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap Resistensi dan Akseptansi. Namun dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat dibanding yang lain yang tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Istilah Ibn Khaldun, "Masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budaya penakluknya".
Ketika peradaban Islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan, masyarakat Eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke Islam". Kini ketika giliran kebudayaan Barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan Barat dan lemahnya kekuasaan politik Islam, para ilmuwan Muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk Islam ke Barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban Islam dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan kebudayaan Barat juga lemah.

B.     Perumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas adalah seputar sistem politik dan kemasyarakatannya, sistem kebudayaan dan kepercayaan dalam islam.


PEMBAHASAN

Dilihatdarisilsilahketurunandancikalbakalnya, para sejarawan membagikaum-kaum Bangsa Arab menjadi Tiga bagian, yaitu :
1.      Arab Ba’idah, yaitukaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnyatidak bias dilacaksecararincidankomplit. Seperti Ad, Tsamud, Thasn, Judais, Amlaqdan lain-lainnya.
2.      Arab Aribah, yaitukaum-kaum Arab yang berasaldariketurunanYa’rub bin Yasyjub bin Qahthan, ataudisebut pula Arab Qahthaniyah.
3.      Arab Musta’ribah, yaitukaum-kaum Arab yang berasaldariketurunanIsma’il, yang disebut pula Arab Adnaniyah.

A. SistemPolitik Dan Kemasyarakatan
1.      KondisiPolitik
Bangsa Arab sebelum islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri sendiri-sendiri. Satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa ikatan Nasional, yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah. Dasar hubungan dalam kabilah itu ialah pertalian darah. Rasa asyabiyah (kesukuan) amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bila mana terjadi salah seorang di antara mereka teraniaya maka, seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka“ Tolong saudaramu, baik dia menganiaya atau dianiaya “.Pada hakikatnya kabilah-kabilah ini mempunyai pemuka-pemuka yang memimpin kabilahnya masing-masing.Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme,adanya manfaat secara timbale balik untuk menjaga daerah dan menghadang musuh dari luar kabilah.
Bangsa Arab sebelum Islam tidak pernah dijajah oleh bangsa asing, bahkan tidak pernah tercipta kesatuan politik di seluruh jazirah Arab.Kerjaan –kerajaan kecil yang terdapat di Jazirah Arab bahagian selatan umumnya berdaulat atas wilyah mereka yang sepit dan sebatas masyarakatnya.Mereka lebih suka hidup berkabilah-kabilah dan setiap kabilah atau suku diperintah oleh seorang Syaikh, yaitu seorang yang dianggap tertua dan berani di antara anggota kabilah tersebut.Oleh karena itu, tidak ada rasa solidaritas sosial yang menyeluruh bagi semua suku Arab, bahkan hubungan kerjasama antar suku hanya didasari atas kepentingan bersama, tanpa ada kepentingan bersama, sukar tercipta hubungan kerjasama antar suku atau antar kerjaan-kerajaan kecil yang terdapat di sekitar Jazirah Arab, seperti kerajaan Mu'inHimyar, Saba’Hirrah,gassan dan lain-lainya.  
Kota Mekkah diperintah oleh suku quraisy, yang berasal dari keturunan qusai bin Kilab. Oleh karena itu mereka disegani dan dihormati oleh suku-suku Arab lainnya.Semenjak masa qusai bin Kilab, pelaksanaan pemerintahan kota Mekkah berjalan dengan baik. Akan tetapi, pada masa Abd. Al-Dar, salah seorang anak Qusai bin Kilab, telah mulai timbul perselisihan antar anak Abd. Al-Dar dengan anak saudaranya Abd.Al-manaf.Perselisihan ini umumnya disebabkan oleh kota mekkah. Perslisihan ini berlanjut sampai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.,walaupun dalam intensitas yang berbeda.

2.      KondisiKemasyarakatan.
Masyarakat Arab sebelum Islam adalah masyarakat feudal dan sudah mengenal sistem perbudakan.Sistem kekerabatanya adalah sistem partilinial (Patriarchat-agnatic), yaitu hubungan kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan bapak.Wanita kurang mendapat tempat yang layak dalam masyarakat.Bahkan tidak jarang apabila mereka melahirkan anak perempuan, mereka merasa malu dan hina mereka kuburkan hidup-hidup, seperti yang dinyatakan dalam ayat Al-qur'ansuran An-NahalAyat 58-59;     
Artinya:“ dan apabila salah seorang diantara mereka dikabarkan dengan kelahiran anak perempuan, lalu merah pada mukanya, sedang ia berduka cita. Ia menyembunyikan diri dari kaumnya, karena kejelekan berita tersebut, apakah anak perempuan tersebut terus dipelihara dengan menanggung hina atau dikubur hidup-hidup kedalam tanah. Ketahuilah amat kejam hukuman  yang mereka lakukan.”    
Dengan demikian, akhlak masyarakat telah merosot sekali, sehingga sering berlaku hokum rimba; siapa yang perkasa ialah yang berkuasa, siapa yang bodoh diperas oleh yang pandai, siapa yang miskin dihisap oleh yang kaya.Masa inilah yang disebut dengan masa Jahiliyah.Ada pula kebiasaan diantara mereka yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut aib dan karena kemunafikan. Atau ada juga yang membunuh anak laki-lakinya, karena takut miskin dan lapar. Disini kami tidak bisa menggambarkannya secara detail kecuali dengan ungkapan-ungkapan yang keji, buruk, dan menjijikkan.
Secara garis besar, kondisi masyarakat mereka bisa dikatakan lemah dan buta. Kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, khurafat tidak bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang. Wanita diperjual-belikan dan kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan ditengah umat sangat rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekayaan yang berasal dari rakyat, atau sesekali rakyat dibutuhkan untuk menghadang serangan musuh.

B.     Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan
Kepercayaan bangsa Arab sebelum lahirnya Islam, mayoritas mengikuti dakwah Isma’il Alaihis-Salam, yaitu menyeru kepada agama bapaknya Ibrahim Alaihis-Salam yang intinya menyeru menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya.Waktu terus bergulir sekian lama, hingga banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Sekali pun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amr Bin Luhay, (Pemimpin Bani Khuza’ah).Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal baik, mengeluarkan shadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.
Kemudian Amr Bin Luhay mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala. Ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para Rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa HUBAL dan meletakkannya di Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Orang orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Mekkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.Pada saat itu, ada tiga berhala yang paling besar yang ditempatkan mereka ditempat-tempat tertentu, seperti :
1. Manat, merekatempatkan di MusyallalditepilautmerahdekatQudaid.
2. Lata, merekatempatkan di Tha’if.
3. Uzza, merekatempatkan di WadyNakhlah.

Setelah itu, kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran disetiap tempat di Hijaz, yang menjadi fenomena terbesar dari kemusyrikan bangsa Arab kala itu yakni mereka menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim.Ada beberapa contoh tradisi dan penyembahan berhala yang mereka lakukan, seperti :
  1. Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit dihadapannya, meminta pertolongan tatkala kesulitan, berdo’a untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bias memberikan syafaat disisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
  2. Mereka menunaikan Haji dan Thawaf disekeliling berhala, merunduk dan bersujud dihadapannya.
  3. Mereka mengorbankan hewan sembelihan demi berhala dan menyebut namanya.
Banyak lagi tradisi penyembahan yang mereka lakukan terhadap berhala-berhalanya, berbagai macam yang mereka perbuat demi keyakinan mereka pada saat itu. Bangsa Arab berbuat seperti itu terhadap berhala-berhalanya, dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bias mendekatkan mereka kepada Allah dan menghubungkan mereka kepada-Nya, serta memberikan manfaat di sisi-Nya. Selain itu, Orang-orang Arab juga mempercayai dengan pengundian nasib dengan anak panah dihadapan berhala Hubal. Mereka juga percaya kepada perkataan Peramal, Orang Pintar dan Ahl iNujum.
Semua gambaran agama dan kebiasaan ini adalah syirik dan penyembahan terhadap berhala menjadi kegiatan sehari-hari ,keyakinan terhadap hayalan dan khurafat selalu menyelimuti kehidupan mereka. Begitulah agama dan kebiasaan mayoritas bangsa Arab masa itu. Sementara sebelum itu sudah ada agama Yahudi, Masehi, Majusi, dan Shabi’ah yang masuk kedalam masyarakat Arab. Tetapi itu hanya sebagian kecil oleh penduduk Arab. Karena kemusyrikan dan penyesatan aqidah terlalu berkembang pesat.















KESIMPULAN
Sebelum Islam datang, kondisi Arab berada dalam kegelapan dan kebodohan (jahiliyah). Kehidupan mereka jauh dari ketauhidan karena sebagaian besar masyarakat berada dalam kemusyrikan dengan menyembah berhala. Wanita ibarat barang bahkan tidak ada harganya. Akhlaknya pun bejat dan rusak. Islam datang di negeri tersebut dibawa oleh seorang rasul yang merupakan asli orang Arab, Nabi Muhammad Saw. Dengan datangnya Islam, maka budaya-budaya jahiliyah itu pun kemudian diluruskan atau dihapus. Masyarakat dibawa kepada ketauhidan beribadah hanya kepada Allah Swt saja. Wanita memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Dan akhlak mereka pun menjadi akhlakkarimah.
Budaya Arab berbeda dengan Budaya Islam. Kebudayaan Arab adalah produk manusia yang bersumber dari manusia juga, sedangkan kebudayaan Islam bersumber dari nilai-nilai Islam berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kebudayaan Arab terbatas wilayah dan berlaku untuk orang-orang Arab saja, sedangkan Islam dapat diaktualisasikan tidak hanya oleh orang Arab saja tetapi untuk semua orang dimana pun berada. Hanya tentu saja, Arab menjadi terangkat dan memiliki kedudukan tersendiri karena Islam turun di jazira Arabia, Al-Qur’an berbahasa Arab, danNabi Muhammad Saw adalahasli orang Arab. Inilahsalahsatuimpact positif yang diterima Arab dengan kehadiran Islam.












DAFTAR PUSTAKA

DediSupriyadi, M.Ag. SejarahPeradaban Islam.PustakaSetia. Bandung. 2008

Dr. Basrowi M.S. PengantarSosiologi.Ghalia Indonesia. Bogor. 2005

SoerjonoSoekanto. Sosiologisuatupengantar.RajagrafindoPersada. Jakarta. 2007















MAKALAH
SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM

Description: logo Muhammadiyah UMSB





OLEH :
Faridatul Hidayah
DOSEN PEMBIMBING :
Desminar MA


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
1432 H /2011 M

Komentar