khafi, mujmal, mutasyabiah, musykil


BAB 1
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Alquran diturunkan dalam keadaan berbahasa Arab sementara  makna yang  dikehendaki tuhan sangat samar, namun demikian keberadaan rasulullah menjelaskan ayat-ayat alquran yang tidak jelas yang populer disebut hadist (sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi), selanjutnya pada gilirannya penjelasan raulullah-pun juga tidak jelas arti yang dimaksudnya. Oleh karena itu Usulyyin merumuskan konstruk kaidah-kaidah untuk dijadikan sarana memahami kedua sumber hukum islam tersebut.  Dalam alquran dan hadist banyak sekali ketentuan hukum yang tidak jelas yang oleh mayoritas Ulama di katagorikan pada empat macam, pertama khafi, mujmal, musykil dan yang keempat adalah mutasyabih.
ketidak jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) adalah suatu lafadz yang tidak jelas makna yang dikehendaki secara mutlak atau tidak jelas maknanya pada sebagian indikasi yang dapat memperjelas maknanya, memang demikian karena lafadz tersebut tidak bentuknya memang tidak jelas dan jenis lafadz seperti ini hanya tuhan yang mengetahuinya, sepeti permulaan surat-surat dalam alquran sebagai contoh (الم, الر, كهيعص) karena memang lafadz-lafadz ini tidak jelas bagi kita, sementara ayat-ayat yang laini tidak pernah menjelaskan kandungan maknanya. Ada juga ketidak-jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) dapat dideteksi maknanya melalui pelacakan terhadap ayat-ayat lain atau  dari Sunnah, karena antara keduanya saling menafsirkan satu sama lain. Selain itu ketidak-jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) bukan faktor dari bentuk lafadz itu sendiri, bahakan perlu untuk mencocokkanya dengan beberapa madlulnya.

B.       Rumusan Masalah

a.       Bagaimana cara memahami ayat alquran yang tidak dipahami?
b.      Apa yang di maksud dengan khafi, mujmal, musykil, mutasyabiah?
c.       Apa kegunaan dari khafi, mujmal, musykil, mutasyabiah?








BAB II
PEMBAHASAN
1.        Khafi
Khafi adalah lafadz yang dapat menunjukkan kepada artinya secara jelas, namun ketika arti tersebut diaplikasikan kepada kasus tertentu, maka ia menjadi samar dan tidak jelas. Hal tersebut terjadi karena faktor kasus tersebut tidak sama persis dengan kasus yang dibicarakan oleh dalil yang ada. Sebagai contoh pencuri pada ayat 38 surah al-Maidah :
Artinya: pencuri laki l-laki dan pencuri perempuan maka potonglah tangan keduanya (sebagian) sebagai pembalasan bagi apa yang telah mereka  kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.  Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana (QS.5:38)
Jika kita amati makna pencuri dalam ayat di atas, sangat jelas maknanya yaitu setiap orang yang mengambil harta milik orang lain secara tersembunyi dari tempat yang layak seperti umumnya orang menyimpan harta antara lain lemari, kotak, penyimpan harta. Namun jika ayat di atas dibenturkan dengan kasus  yang lain, seperti pencopet yang melakukan pencurian secara terang-terangan dan pencuri kafan mayat di kuburan yang tidak jelas pemiliknya, hal ini disebabkan mayat tidak punya hak memiliki harta benda. Oleh karena itu kedua istilah baru ini  berdampak kesamaran. bagi sebagian jenis pencuri  dalam mengeneralkan penyebutan istilah pencuri, Untuk mengetahui hal ini masih membutuhkan pemikiran lebih mendalam.
Ulama telah berpandangan dalam kasus di atas bahwa pencuri mencuri harta benda secara tersembunyi sementara pencopet mencuri secara terang-terangan. Karena hal ini mereka berkonsensus bahwa pencopet dihukumi sama dengan pencuri, artinya wajib memotong tangan pencopet. Sementara untuk kasus pencuri kain kafan mayoritas  Ulama Hanafiyyah sepakat bahwa pencuri kafan tidak dikatagorikan sebagai pencuri pada umumnya karena sesuatu yang terdapat dalam kuburan tidak terhitung sebagai harta benda dan kafan tidak termasuk harta yang disenagi masyarakat pada umumnya, sehingga sipelaku tidak dikatagorikan sebagai pencuri yang dapat menyebabkan kewajiban potong tangan tetapi hanya dita’zir. Sementara Ulama lain dan Abu Yusup berpendapat sebaliknya yaitu ia terhitung sebagai pencuri pada umumnya dan wajib dipotong tangannya.
Hukum khafi yaitu wajib berupaya memperjelas makna yang dikehendaki, artinya wajib menganalisa terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan adanya kesamaran.
2.        Musykil
Musykil adalah  lafadz yang tidak jelas maknanya karena banyak makna yang dikandungnya sementara tidak ada lafadz lain yang mengindikasikan untuk dimaknai, oleh karena itu untuk mengungkap maknanya hanya dengan wujud indikator setelah melakukan analisis. Seperti, bagaimana cara berhubungan dalam suami istri, setelah melalui analisis  Ulama usuliyyin lebih memperoritaskan makna bagaimana caranya, dengan kata lain cara yang disukai melakukan hubungan intim pasutri baik dilakukan dengan model duduk, berdiri, tidur terlentang, atau fagina sang istri diserang dari belakang. Ulama usuliyyin lebih memperoritaskan makna ini karena dalam analisisnya memfokuskan maksud dari tempat untuk memperoleh keturunan. Sementara dubur bukan tempat untuk memperoleh keturunan.
Hukum musykil yaitu wajib menganalisa sebagai upaya memperjelas makna yang dikehendaki dari lafadz musykil.
3.   Mujmal
Mujmal adalah lafadz yang tidak jelas makna yang dikehendakinya pada bentuk lafadz itu sendiri, dengan kata lain kesamaran itu hanya bisa dipahami dengan penjelasan mutakallim, sehingga tidak mungkin bisa memahaminya hanya dengan mengandalkan akal tetapi perlu juga melibatkan dalil naqli (penjelasan Allah atau rasulullah). Sebagai contoh, lafadz (حق) pada ayat 141 surat al-An’am:
Artinya: “dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya” (QS. 6:141)
Lafadz حق Pada ayat di atas pengertiannya tidak jelas, sehingga perlu dalil-dalil lain untuk menperjelasnya. Penjelasan dari lafadz mujmal ini disebut dengan al-Bayan. Al-Bayan dalam istilah Usul Fiqh adalah dalil yang mengeluarkan suatu lafadz dari tidak jelas pengertiannya kepada pengertian yang jelas. Selanjutnya, menurut Abu Ishaq al-syirazi (w.476 H/1083 M) ahli Usul Fiqh kalangan Syafi’iyyah, al-bayan terdiri dari:
a.         Al-bayan bi al-qaul,
 yaitu penjelasan melalui sabda rasulullah atau firman Allah swt. Contoh hadist riwayat Abu Dawud:
Artinya : untuk setiap lima ekor unta (zakatnya)seekor kambing (HR.Abu Dawud).
Hadist ini merupaka al-bayan dari hitungan zakat unta
b.        Al-bayan bi al-mafhum,
yaitu penjelasan melalui mafhum, baik mafhum muhalafah maupun mafhum muafaqah contoh hadist riwayat Abu Dawud:
Artnya: dan pada kambing yang tidak dicarikan makanannya dikenakan kewajiban zakat…(HR Abu Dawud).
Mafhum makhalafah dari hadist di atas adalah, bahwa kambing yang dicarikan makanannya tidak wajib dizakati. Mafhum mukhalafah tersebut merupakan al-Bayan dari hadist tentang kewajiban zakat kambing di atas.
c.         Al-Bayan bi al-fi’li,
yaitu penjelasan melalui perbuatan. Contoh mengenai   pelaksanaan ibadah haji yang diperaktekkan Rasulullah. Dan para sahabat disuruh   meniruseperti yang beliau peraktekkan, beliau bersabda:
Artinya :…. Hendaknya kalian menagmbil (dariku) cara-cara pelaksanaan haji kalian ….(HR.Abu Dawud).
Praktek ibadah haji Rasulullah merupakan al-bayan dari perintah Allah untuk melalukan ibadah haji, seperti yang terdapat pada firman Allah pada surat Ali ‘Imran ayat 97 sebagai berikut:
Artinya: …….. mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) setiap orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah …….. (QS. 3:97).
d.        Al-bayan bi al-iqrar,
yaitu penjelasan melalui ketetapan/pengakuan. Seperti mengenai ketetapan/pengakuan Rasulullah saw terhadap prkatek shalat sunnah dua rakaat setelah subuh karena adanya sebab, seperti yang dilakukan Qois ibn Amr. Ketika menyaksikan perbuatan Qois ini Rasulullah mendiamkannya, padahal sebelumnya beliau melarang intuk melakukan shalat sunnah setelah subuh sampai matahari terbit. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :
Artinya : dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah melarang shalat setelah subuh sampai terbitnya matahari. (HR.bukhari).
e.         Al-Bayan bi al-isyarah,
yaitu penjelasan melalui isyarah, contoh penunjukan Rasulullah tentang jumlah bilangan hari dalam satu bulan, Sebagaimana yang terdapat dalam hadist yamg diriwayatkan imam bukhari:
Artinya: Dari Nabi saw, sesungguhnya beliau bersabda “bulan itu (bintangnya)sekian dan sekian, yakni kadang-kadang 29 haridan kadang-kadang 30 hari. (HR. bukhari).
Hadist ini merupakan al-bayan dari jumlah hari pada bulan-bulan qamariah.
f.         Al-Bayan bi al-kitabah,
 yaitu penjelasan melalui tulisan. Contoh mengenai kewajiban zakat yang penjelasannya didapat dari tulisan Rasulullah. Sebagaimana yang tercantum dalam hadist riwayat dari salim: 
Artinya : “Dari Salim, dari ayahnya, dia berkata bahwa Rasulullah telah menulis tentang (kewajiaban) zakat, dan tidak mengeluarkannya pada para petugasnya sampai beliau wafat…” (HR. Abu Dawud).
Panjelsan tentang kewajiban zakat yang termuat dalam tulisan seperti yang terdapat dalam hadist riwayat dari Salim tersebut merupakan al-bayan dari perintah untuk menunaikan zakat.
g.        Al-Bayan bi al-qiyas,
yaitu penjelasan melalui qiyas. Contoh mengqiaskan minuman wisky ini merupakan al-bayan dari nash yang mengharamkan khamr seperti yang terdapat pada ayat 90 surat al-ma’idah:
Artinya : sesungguhnya minuman khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhalamengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jahuilah perbuatan-perbuatan tersebut….”(QS.5:90)
Demikian jenis-jenis al-bayan seperti yang dikemukakan Abu Ishaq al-Syirazi. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa al-bayan bisa diperoleh  melalui alquran, sunnah, dan ijtihad.
Selanjutnya, kalangan Hanafiyyah mengartikan mujmal sebagai lafadz yang tidak bisa diketahui maksudnya kecuali ada penjelasan dari mujmal itu sendiri. Maksudnya lafadz mujmal merupakan lafadz yang tersembunyi pengertiannya,  dan penjelasan lafadznya hanya diperoleh dari syar’I, oleh karena itu menurut aliran ini penjelasan lafadz mujmal bukan dengan jalan ijtihad, tetapi merupakan hasil produk syari’at sendiri.
Hukum mujmal yaitu pada masa risalah dalam menentukan makna yang dikehendakinya dipending terlebih dahulu sampai terdapat penjelasan dari mutakallim.
4.        Mutasyabih
Mutasyabih adalah lafadz yang samar maknanya, tidak mungkin untuk dapat memahami maknanya, oleh karena itu tidak ada harapan untuk bisa memahaminya karena memang tidak ada penjelasan dalam alquran dan assunnah. Model lafadz seperi ini tidak terdapat pada ayat-ayat dan hadist-hadist yang berkaitan dengan hukum. Tetapi bisa ditemui pada permulaan surat al-baqarah, seperti sedangkan model yang kedua berupa lafadz yang kemungkinan bisa dita’wil seperti firman Allah pada surat thaha ayat 5 sebagai berikut:
Artinya : (yaitu) Tuhan yang maha pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.
( QS. 20: 5).
Selanjutnya menurut Abd al-Wahhab khallaf , lafadz mutasyabih ini tidak ditemukan dalam ayat-ayat hukum. Oleh karena itu secara praktis lafadz-lafadz mutasyabih ini hanya didapati pada ayat-ayat di luar hukum.







BAB III
PENUTUP
A.      Penutup
Khafi adalah lafadz yang dapat menunjukkan kepada artinya secara jelas, namun ketika arti tersebut diaplikasikan kepada kasus tertentu, maka ia menjadi samar dan tidak jelas.
Musykil adalah  lafadz yang tidak jelas maknanya karena banyak makna yang dikandungnya sementara tidak ada lafadz lain yang mengindikasikan untuk dimaknai, oleh karena itu untuk mengungkap maknanya hanya dengan wujud indikator setelah melakukan analisis.
Mujmal adalah lafadz yang tidak jelas makna yang dikehendakinya pada bentuk lafadz itu sendiri, dengan kata lain kesamaran itu hanya bisa dipahami dengan penjelasan mutakallim, sehingga tidak mungkin bisa memahaminya hanya dengan mengandalkan akal tetapi perlu juga melibatkan dalil naqli (penjelasan Allah atau rasulullah).
Mutasyabih adalah lafadz yang samar maknanya, tidak mungkin untuk dapat memahami maknanya, oleh karena itu tidak ada harapan untuk bisa memahaminya karena memang tidak ada penjelasan dalam alquran dan assunnah.
Setelah kita mengetahui berbagai macam lafadz, marialah kita jangan menutup diri untuk tidak lebih mendalaminya, secanggih apapun otak manusia untuk mengiterpretasi ayat –ayat alquran tanpa menoleh terhadap konsruksi Usul Fiqh yang telah ditanam oleh ulama konserfatif, ia tidak mungkin bisa mencapai kebenaran sesuai dengan yang dikehendaki syari’. Semoga makalah kecil ini dapat menggugah semangat para pembaca untuk lebih mendalami kajian usul fiqh demi masa depan islam di masa mendatang.










DAFTAR PUSTAKA

Amir. Syarifuddin, Ushul Fiqh, Jilid 2, Jakarta: Kencana, 2008.

Lihat majalah pemikiran dan peradaban Islam “ISLAMIA”  edisi thn II No 5, April – juni 2005, hal 36


Komentar