Loading...

Minggu, 04 November 2012

INTERELASI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA


MAKALAH
Tentang
INTERELASI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA



Oleh :

Musli Afrizona Rahmad

Dosenpembimbing:
Drs. Yunardi, M.pd


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT (UMSB)
2012 M/1433 H


BAB I
PENDAHULUAN
            Sebelum kita membahas panjang lebar tentang interelasi agama dan budaya perlu terlebih dahulu kita definisikan makna kata perkata dari kata, “interelasi, agama dan budaya” dari berbagai sumber yang terpercaya dan akurat. Hal ini penting agar makna kata dalam pembahasan makalah ini tidak menjadi rancu. Kata “interelasi” berasal dari bahasa Inggris “interrelation” yang berarti ”mutual relation” atau saling berhubungan satu sama lainnya.
Sementara definisi agama menurut sosiolog Emile Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktik yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus/sakral (sacred) kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktik-praktik ritual" dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis.
       Banyak definisi mengenai kata”budaya/kultur” atau Culture dalam Bahasa Inggris yang dibuat oleh para ahli sosiolog maupun antropolog dan lain-lain. Menurut budayawan dan antropolog terkenal Prof. Dr. Koentjaraningrat, kata “kebudayaan” berasal dari kata “budaya”. “Kebudayaan merupakan keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh tata-kelakuan, yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Interelasi Antara Agama Dan Budaya
a.       Hakikat dan Fluiditas Kebudayaan
b.      Membaca Kebudyaan Adalah Menafsir
BAB II
PEMBAHASN

A.    Interelasi Antara Agama Dan Budaya
Manusia, masyarakat, dan kebudayaan berhubungan secara dialetik. Ketiganya berdampingan dan berimpit saling menciptakan dan meniadakan. Persis seperti permainan gamsut (barang kali kosa kata inggris: game suite) yang sering kita mainkan waktu kecil; gajah (disimbolkan ibu jari) mengalahkan manusia (jari telujuk); manusia mengalahkan semut (jari kelingking); dan semut mengalahkan gajah. Ketiganya ada secara bersama-sama, berimpit untuk menciptakan relasi makna. Keberadaan mereka tidak bisa mendiri tampa berkaitan dengan yang lainnya; jari telunjuk tetap sebagai jari telunjuk, tidak sebagai manusia yang sanggup memencet semut atau diserunduk gajah; demikain pula ibu jari dan jari kelingking. Dalam relasi itu juga momen untuk kemudian bisa muncul kembali dalam momen yang lain. Pada satu momen, jari telunjuk kalah oleh ibu jari, namun ia akan menjadi pemegang peranan ketika ibu jari dikalahkan oleh jari kelingking. Demikain seterusnya, berulang-ulang sesuai dengan momen-momen yang diciptakan kehidupan.
Hubungan manusia, masyarakat, dan kebudayaan pun berada dalam dialektika gamsut ini. Satu sisi manusia menciptakan sejumlah nilai bagi masyarakatnya, pada sisi yang lain, secara bersamaan, manusia secara kodrat senantiasa berhadapan dan berada dalam masyarakat, homocius. Masyarakat telah ada sebelum seorang individu dilahirkan masih akan ada sesudah individu mati. Lebih dari itu, di dalam masyarakatlahdan sebagai hasil proses social, individu menjadi sebuah pribadi; ia memperoleh dan berpegang pada suatu identitas. Manusia tidak akan eksis bila terpisah dari masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat (sebagai kumpulan individu-individu manusia) diciptakan oleh manusia, sedangkan manusia sendiri merupakan produk dari masyarakat. Kedua hal itu menggambarkan adanya dialektika inheren dari fenomena masyarakat. Inilah yang dimaksud dialektika social.
Proses dialektika fundamental itu, menurut Berger, terdiri atas tiga momentum atau langkah: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Ketika seorang manusia hidup dalam masyrakat, ia akan senantiasa menganggap dirinya sebagai bagian penting dalam masyarakat tersebut. Keadaan dan proses inilah yang dikenal dengan eksternalisasi. Seorang individu berusaha untuik mencurahkan (mewujudkan) eksistensi dirinya (kedirian) secara terus menerus kedalam dunia, baik dalam aktivitas visik maupun mentalnya. Dari hasil dialektis antara kecendrungan untuk melakukan eksternalisasi dengan fakta-fakta yang melingkunginya, terbentuklah suatu idiom budaya yang dihasilkannya. Idiom-idiom (baik fisik maupun mental) budaya tersebut disandangnya, objektivasi. Dan karena kekuatan laingkungan yang melingkupinya, individu manusia akhirnya melakukan internalisasi untuk menumukan kesamaan-kesamaan, untuk bisa melakukan interaksi di antara mereka. Dengan demikain, melalui ekstertivasi, masyarakat menjadi realitas sui generis, unik. Dan, melalui internalisasi, manusia merupakan produk masyarakat.  
Dalam kehidupan berbudaya, manusia melakukan proses objektivitas. Istilah objektivitas adalah istilah yang digunakan oleh Daniel Miller dalam bukunya, Materi Culture And Comsumptin, untuk menjelaskan pandangan Hegel tentang hubungan dialektika antara ‘objek’ dan ‘subjek’. Istilah ini dijelaskan Miller sebagai “…proses ganda, yang melalui subjek mengeksternalisasi dirinya melalui suatu tindakan kreatif diferensiasi, dan selanjutnya mengembalikan untuk diri eksternalisasi ini melalui tindakan yang disebut Hegel sebagai sublasi (semacam pemberian pengakuan).

1.      Hakikat dan Fluiditas Kebudayaan
Mengutip Rene Char, penyair prancis, “kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat (notre heritage n’est precede d’aucun testament)”. Lewat kutipan itu, dapat dikemukakan bahwa pada walanya kebudayaan adalah nasib, kemudian baru kita memanggulanya beban kebudayaan itu, sebelum kita bangkit dalam kesadaran untuk turut membentuk dan mengubahnya.
Kutipan itu menunjukan bahwa pada satu sisi kebudayaan adalah suatu produk masa lalu dan pada sisi yang lain adalah proses yang kita lakukan dengan menggunakan produk itu. Melalui kutipan ini, akan dikemukakan juga kecendrungan melihat kebudayaan sebagai kata benda (produk masa lalu) atau sebagai kata kerja (proses).
Kalangan ilmu sosial sering melibatkan kebudayaan sebagai realitas, sesuatu yang sudah diciptakan, dihasilkan, dibentuk, atau sudah dilembagakan. Ini berarti kebudayaan dianggap sebagai produk, bukan sebagai proses. Kuntjaraningrat memandang kebudayaan dalam tiga wujud, yaitu sebagai sistem ide-ide, sistem tingkah laku, dan sebagai pewujudan benda-benda budaya. Ketiga wujud itu dipandang kuntjaranigrat sebagai produk. Jadi, yang dimaksud dengan ide dia atas adalah ide yang sudah terbentuk pada suatu keolompok etnis. Tingkah laku yang dimaksud, minsalnya, sistem interaksi dan  yang sudah dimantapkan bahkan dikembangkan, dan kebudayaan material yang diperhatikan adalah ciptaan berupa benda-benda fisik yang sudah jadi.
Mengekemukakan kebudayaan sebagai produk, barangkali berasal dari cara pandang yang mencermati budaya sebagai artefak an sich. Anggapan tersebut akan berhadapan dengan mereka yang menilai budaya dari segi proses, seperti mereka yang menekankan kebudayaan pad aide-ide kognitif saja, yang menekankan kebudyaan dianggap sebagai system pengetahuan atau system yang makna (system of meaning), atau yang menekankan pad aide-ide normative yang menyebabkan kebudayaan dianggap sebagai system nilai (system of value). Demikian juga dalam membicarakan tingkah laku, penekanan dapat diberiakan kepada tingkah laku yang berpola, baik tingkah laku sebagai hasil interaksi yang distabilkan dalam pranata sosial maupun sebagai proses yang ditentukan oleh suatu stimulus luar, baik stimulus individual dan mometan yang menentukan respons yang bersifat behavioristik maupun stimulus yang berasal dari struktur yang lebih permanen yang menimbulkan respons yang bersifat sosio-deterministik. Selanjutnya, benda-benda kebudayaan material dapat dipandang sebagai alat yang menghubungkan manusia ndengan alam (ini kemudian menghasilkan tegnologi), ataupun dipandang sebagai sarana dalam membina hubungan dengan orang lain  (yang kemudian menghasilkan benda-benda symbol yang merupakan materialisasi nilai atau makna tertentu).

·      Fluiditas
Fluiditas adalah pelenturan suatu budaya ketika ia masuk pada wilayah kebudayaan lain. Pelenturan itu mambuat symbol budaya tersebut memetamorfosis dalam maknanya yang baru. Sekaligus membuat simbol yang sama menjadi memilki ketidak jelasan dibandingkan dengan symbol asalnya. Pelenturan ini terjadi karena manusia bukan mesin foto kopi yang bisa dan mau menciplak apa yang diterimanya; manusia selalu menyiasati apa yang diterimanya secara sadar atau tidak sadar.
Contoh yang menarik tentang fluiditas ini adalah kaligrafi. Di dunia islam, pada awalnya, kaligrafi merupakan seni rupa alternative yang dilakukan berupa muslim pada saat ada larangan menggambar makhluk yang bernyawa. Maka seni rupa dikembangkan dengan mengekplorasi bentuk huruf arab yang lentur. Artinya, seni rupa terdiri tidak diatas kenaturalannya dalam menggambarkan objek, tetapi dalam makna yang didapat dari kalimat suci yang dieksplorasi dalam bentuk tertentu yang tidak menyerupai makhluk hidup. Namum, pada masyarakat tertentu, di Cirebon minsalnya, kaligrafi berubah menjadi bentuk gambar yang tetap mempertahankan aturan asalnya (mengekplorasi bentuk huruf dari kalimat suci). Dalam bentuk barunya ini. Kaligrafi tetap dinikmati lewat perenungan makna lafadnya sekaligus juga bentuk yang dikemukakannya. Minsalnya, kaligrafi kalimat syahadatayn dalam bentuk orang yang sedang duduk tahiyyat atau bentuk semar, dan kaligrafi bismillah dalam bentuk burung terbang.

2.       Membaca Kebudyaan Adalah Menafsir
Teori sosial pada awalnya bersifat historis dan komparatif. Objek analisanya berupa kasus tertentu, seperti telah Weber mengenai birokrasi Jerman atau tulisan Marx  tentang kapitalisme Inggris. Dalam sudut teori ini, memahami perbedaanya dengan berbagai bentuk kehidupan di masa-masa dan tempat yang berbeda.
Kemudian, setelah usai perang Dunia II, terjadi perubahan arus utama tradisi intelektual dalam ilmu sosial, yaitu berkembangnya “teorimodernisasi” yang menerapkan anologi antara evalusi sosial dan organic. Teori ini menyatakan bahwa munculnya bentuk-bentuk sosial yang lebih kompleks ditentukan oleh dua proses kembar, yaitu spesialisasi dan diferensiasi structural pada satu sisi, dan pada sisi yang lain ditentukan oleh mekanisme integrasi dab koordinasi sosial. Untuk mengamati perubahan sosial yang terus bertambah rumit, teori ini mengemukakan pengkhususan dalam penilikannya, yaitu bahwa teori ilmu sosial, secara khusus, harus menilik perkembangan symbol-simbol kebangsaan dan komunitas yang lebih universal. Perkembangan symbol-simbol yang lebih universal ini pada gilirannya akan melemahkan ikatan-ikatan sempit keluarga, suku, agama; menghilangkan potensi perpecahan dan menyediakan suatu consensus umum bagi kehidupan politik.
Dengan terus bertumpu pada historisitas dan komparatif, teori dikembangkan menjadi pradigma modernisasi. Watak paradigm ini adalah terjadinya generalisasi yang berlebihan terhadap apa yang terjadi Barat. Pendekatan ini akhirnya memaksakan suatu model deterministic yang sempit atas perubahan yang terjdi di dunia Barat.
Kesempitan teori ini akan menyulitkan ketika peneliti ilmu sosial menerapkannya dalam studi-studi kasus riel. Generalisasi teori modernisasi yang menyatakan bahwa modernisasi mengarahkan struktur budaya lama menumbuhkan struktur budaya baru yang lebih Barat tidak selamanya ditemukan pada kasus riel. Geertz, minsalnya, pada salah satu penelitiannya menemukan bahwa pembangunan sering kali menguatkan kembali struktur-struktur sosial lama, bukan menghilangkan mereka untuk member tempat lembaga-lembaga baru yang lebih khusus.
Akhirnya, teori modernisasi merosot ketika “consensus ortodoks” (Giddens, 1984, xv) yang mendasari program kerjanya dipertanyakan. Kemerosotannya berkaitan dengan perkembangan yang lebih luas di dalam dan di luar ilmu-ilmu sosial. Di Barat, minsalnya, konflik seputar masalah ras, gaya hidup, agama, gender member kesan pada pengamat bahwa masyarakat modern belum mencapai suatu “consensus kewargaan” yang kuat seperti diduga. Di Dunia Ketiga, kekacauan politik, pertentangan etnis, dan pertumbuhan yang tidak merata mengemukakan fenomena bahwa perubahan modernisasi hanya teoritis belaka walaupun telah dilakukan proses pembangunan dan sejenisnya.
Lalu, ilmuan sosial, seperti Geertz, mengajukan “pembentukan kembali pemikiran sosial” yang mulai melirik penggunaan hermeneutic dalam mengamati kasusu-kasus sosial reil.  Pendekatan ini berpusat pada makna dalam memahami kehidupan sosial. Realitas sosial berbeda dengan dunia alam yang berproses secara lepas dari pengetahuan pada pelakunya, tidaklah berwujud objektif. Realitas sosial secara rumit dibentuk oleh kultur dan makna karena para pelaku menggunakan pengetahuan mereka untuk menjadi bagiannya. Artinya, ilmu sosial tidak bisa diukur para digma ilmu alam. Pada ilmu sosial, objek penelitain bergerak aktif dan tidak terduga, sedangkan objek ilmu alam diam dan bisa diprediksi. Atas dasr pemikiran itu, maka interprestasi kebudayaan harus menjadi inti usaha sosiologis, bukan sekadar piranti dalam ilmu sosial.

BAB III
KESIMPULAN

A.    Interelasi Antara Agama Dan Budaya
Manusia, masyarakat, dan kebudayaan berhubungan secara dialetik. Ketiganya berdampingan dan berimpit saling menciptakan dan meniadakan. Persis seperti permainan gamsut (barang kali kosa kata inggris: game suite) yang sering kita mainkan waktu kecil; gajah (disimbolkan ibu jari) mengalahkan manusia (jari telujuk); manusia mengalahkan semut (jari kelingking); dan semut mengalahkan gajah. Ketiganya ada secara bersama-sama, berimpit untuk menciptakan relasi makna.

1.      Hakikat dan Fluiditas Kebudayaan
Mengutip Rene Char, penyair prancis, “kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat (notre heritage n’est precede d’aucun testament)”. Lewat kutipan itu, dapat dikemukakan bahwa pada walanya kebudayaan adalah nasib, kemudian baru kita memanggulanya beban kebudayaan itu, sebelum kita bangkit dalam kesadaran untuk turut membentuk dan mengubahnya.
·      Fluiditas
Fluiditas adalah pelenturan suatu budaya ketika ia masuk pada wilayah kebudayaan lain. Pelenturan itu mambuat symbol budaya tersebut memetamorfosis dalam maknanya yang baru. Sekaligus membuat simbol yang sama menjadi memilki ketidak jelasan dibandingkan dengan symbol asalnya.

2.      Membaca Kebudyaan Adalah Menafsir
Teori sosial pada awalnya bersifat historis dan komparatif. Objek analisanya berupa kasus tertentu, seperti telah Weber mengenai birokrasi Jerman atau tulisan Marx  tentang kapitalisme Inggris. Dalam sudut teori ini, memahami perbedaanya dengan berbagai bentuk kehidupan di masa-masa dan tempat yang berbeda.




















DAFTAR REFERENSI

Agus Subandi, Sosiologi Agama, Bandung: Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Press, 2010.
Amin, M. Darori. Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta:  Gama Media, 2002
Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Moderen: Suatu Analisis dai Karya-karya Dukheim dan Max Weber, Terj. Soeheba K., Jakarta: UI Press, 1986.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar