Loading...

Rabu, 09 Mei 2012

MAKALAH
USHUL FIQH
Tentang,
ZHAHIR, NASH, MUFASSAR, MUHKAM




Oleh :
Musli Afrizona Rahmad
NIM 1006002012010

Dosen pembimbing :
Drs. Mursal, M.Ag

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT (UMSB)
2012 M/1433 H

Pembahasan

1. Zhahir
Zhahir secara etimologi berarti jelas. Sedangkan menurut terminologinya yaitu setiap lafadz atau kalam yang memiliki makna eksplisit terhadap obyek pembaca melalui konotasi bahasanya tanpa harus menukilkan makna lafadz terhadap hal-hal skunder diluar maksud lafadz tersebut, baik lafdz tersebut mengandung makna yang luas ataupun tidak.
 Al-Bazdawi memberikan definisi sebagi berikut :
اسم لكل كلام ظهر المراد به للسامع بصيغته 
Sesuatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk lafadz itu sendiri.
Sedangkan menurut Al-Sarakhsi:
ما يعرف المراد منه السامع بنفس من غير تامل
 Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengar itu sendiri tanpa harus difikirkan lebih dahulu.
Dari definisi tersebut tampak jelas bahwa untuk memahami zhahir itu tidak bergantung pada petunjuk lain, tetapi bisa diambil langsung dari rumusan lafadz itu sendiri. Akan tetapi lafadz itu tetap mempunyai kemungkinan lain.

Atas dasar definisi-definisi tersebut, Muhammad Adib Shalih menyimpulkan bahwa zhahir itu adalah:
 Suatu lafadz yang menunjukan suatu makna dengan rumusan lafaz itu sendiri tanpa menunggu qorinah yang ada diluar lafadz itu sendiri, namun mempunyai kemungkinan ditakhsis, ditakwil, dan dinaskhkan.





Contoh yang dapat dikemukakan disini antara lain:
•     . . .
Artinya: Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. . . ,
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, Ayat tersebut petunjuknya jelas, yaitu mengenai halalnya jual beli dan haramya riba. Petunjuk tersebut diambil dari lafadz itu sendiri tanpa memerlukan qorinah lain. Masing-masing dari lafadz bai’ dan riba merupakan lafadz ‘am yang mempunyai kemungkinan di takhsis.
2.  Nash
Nash menurut definisi para ahli ushul setiap lafadz yang menunjukan kepada makna atau maksud asli lafadz secara jelas, melalui konotasi lafadz tersebut dengan menggunakan perangkat takwil, takhsis dan menerima nasakh.
Contohnya:
•     . . .
Disatu pihak ayat tersebut menunjukan pengingkaran "minsal" dan di pihak lain menerangkan perbedaan antara jual beli dengan riba dari segi halal dan haramnya.
Maksud ayat tesebut jelas yaitu pelegalan jual beli dan pelarangan riba, sebagai sanggahan terhadap statemen orang Yahudi terhadap riba
 Nash wajib hukumnya, sebagaimana hukum Dzohir dengan pertimbangan takwil dan nasakh, meskipun pentakwilan tidak di sandarkan kepada suatu dalil atau pentakwilanya berada jauh dari ma'na dzohirnya, kedudukan nash bersifat tetap hukumnya Qat'i dan yakin.

Menurut pendapat lain dalam arti bahasa Nash adalah munculnya segala sesuatu yang tampak. Sedangkan menurut syara’ adalah:
Menurut Addabusi:

الزائد على الظاهر بيانا اذا قوبل به
Suatu lafadz yang maknanya lebih jelas dari pada zhahir bila ia dibandingkan dengan lafadz zhahir.
ما ازداد وضوحا على الظاهر بمعنى المتكلم لا فى نفس الصيغة
Lafadz yang lebih jelas maknanya daripada makna Zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.
Dari definisi-defisni tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari kejelasannya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang diketahui dengan qorinah.
Atas dasar tersebut, Muhammad Adib Salih berkesimpulan baاwa yang dimaksud Nash adalah:
Lafaz yang menunjukan hukum dengan jelas yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakhsis dan ditakwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafadz Zhahir. Selain itu ia dapat dinasakh pada zaman risalah (zaman rosul).
Sebagai contoh ayat Al-Qur’an, seperti yang dijadikan contoh dari lafadz dhahir.
•     . . .
Ialah Nash dari ayat diatas adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.
Pengertian diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Di sini Nash lebih memberi kejelasan Zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa.
Adapun Kedudukan (hukum) lafadz nash sama dengan lafadz zhahir, yaitu wajib diamalkan dilalahnya sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan, menasakh atau mentakhsisnya. Perbedaan antara Dzahir dan Nash adalah kemungkinan takwil, takhsis atau nasakh adalah pada lafadz nash lebih jauh dari kemungkinan yang terdapat pada lafadz zhahir. Oleh sebab itu, apabila terjadi pertentangn antara lafadz zhahir dan lafaz Nash, maka lafadz nash lebih didahulukan pemakaianya dan wajib membawa lafadz zhahir pada lafadz nash

3. Mufassar
Mufassar adalah lafazh yang bentuknya global, tidak terurai, lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai, sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. Pendapat lain mengatakan bahwa Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya.
Contohnya tentang lafazh : shalat, zakat, shiyam, haji. Kata-kata tersebut masih global (mujmal), kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya.

.       Macam-macam mufassar :
.      Mufassar oleh zdatnya sendiri
Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 :

“Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.”
Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang

       Mufassar oleh lafazh lainnya
Yaitu lafazh yang bentuknya global, tidak terurai, lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai, sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya.

4. Muhkam
Muhkam berasal dari kata “ ahkama “ yang artinya : sesuatu yang dikokohkan, yaitu mengokohkan dengan memisahkan sesuatu yang benar dari yang salah. Raghib al-Asfahan mengatakan : Muhkam adalah memisahkan sesuatu yang benar ( haq ) dengan ilmu dan akal. Ahkama : yang artinya menahan. Sehingga terdapat kata hakim : artinya orang yang mencegah dan memisahkan antara dua pihak yang bersengketa, serta memisahkan antara yang hak dengan yang bathil, dan antara kebenaran dengan kebohongan.

Kesimpulan

Dari uraian diatas, sedikitnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa klasisfikasi lafadz memiliki tempat yang sangat urgen dalam kaidah ushulul fiqh, hal ini dikarenakan keberadaanya yang menjadi titik vokal dalam pengambilan serta isthinbatul ahkam Ushul Fiqh. Perlu pengkajian lebih, dalam mene'laah ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist terkhusus nash-nash hukum, karena setiap lafadz tidak serta merta menunjukan makna serta maksud dari konotasi lafadz tersebut, melainkan terdapat berbagai perangkat lain dalam menentukan ma'na serta maksdunya, diantar perangkat tersebut
Setipa Dilalah (Zhahir, Nash, dan Mufassar), maka kedudukannya wajib menjadi sebuah supremasi hukum secara qath'i dan yakin, akan tetapi ke-tiganya memiliki kemungkinan pertimbangan, yaitu; ketika terjadi pertimbangan makna terhadap dalil-dalil yang kontradiksi.
Adapun alternatif pengambilan hukum terhadap dilalah yang memang mengalami kontradisksi, maka setidaknya kita harus memilih dilalah mana yang paling kuat dari ketiga macam lafadz tersebut Karena ketiganya memiliki tingkatan hukum serta kekutan makna yang berbeda-beda. Adapun tingkatan hukum yang peling kuat dan jelas menurut tingkatanya adalah Mufassar, Nash dan terakhir Zhahir. Muhkam mengambil peran atas telah diambilnya keputusan dari ketiga pertimbangan tersebut, dan antara mufassar, nast, zhahir dan muhkam saling berkorelasi.


DAFTAR PUSTAKA

        Haroen Nasrun, Ushul Fiqh 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) 308
        Syafe’I Rachmat, Ilmu Ushul Fiqih (Bandung: Pustaka Setia, 2007)
        Umam Khairul, Dkk, Ushul Fiqih II, Bandung, Pustaka Setia, 1998
        Khallaf Abdul Wahab, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999
        Syarifuddin Amir, Ushul Fiqih, Jakarta, Logos Wacana, 1997
        Khallaf Abdul Wahab, Ilmu Ushul Fiqih, Dina Utama, Semarang, 1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar