Loading...

Sabtu, 12 Mei 2012

hadis batas ketaatan pada pemimpin


MAKALAH
HADIST
Tentang,
BATAS KETAATAN PADA PEMIMPIN



Oleh :
Musli Afrizona Rahmad
NIM 1006002012010

Dosen pembimbing :
Dra. Desmaniar, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT (UMSB)
2011 M/1432 H
BATAS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ, وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أطَاعَنِيْ مَنْ عَصَى أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ (رواه البخارى ومسلى )
Artinya:
Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku berarti maksiat kepada Allah, dan siapa yang taat kepada pimpinan yang aku angkat berarti taat kepadaku, dan siapa yang melanggar amier yang aku angkat berarti melanggar kepadaku (Bukhari, Muslim)
Keterangan hadist:
·         Sanat  : Abu Hurairah
·         Matan : Siapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku berarti maksiat kepada Allah, dan siapa yang taat kepada pimpinan yang aku angkat berarti taat kepadaku, dan siapa yang melanggar amier yang aku angkat berarti melanggar kepadaku
·         Parawi : Bukhari, Muslim
حَدِيْثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : اَلسَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيْمَا أَحَبَ وَ كَرَهَ، مَالَمْ يُؤْمَرُ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمِعَ وَ لَا طَاعَةَ (أخرجه البخاري)
Artinya:
Abdullah bin Umar ra berkata: Nabi saw bersabda: mendengar dan taat itu wajib bagi seorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat (Bukhari, Muslim)
Keterangan hadist:
·         Sanat: Abdullah bin Umar
·         Matan: Mendengar dan taat itu wajib bagi seorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat.
·         Perawi: Bukhari, Muslim
Dari hadis-hadis di atas dapat saya analisa bahwa kita diwajibkan untuk mentaati para pemimpin kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadis diatas, hal ini diwajibkan karna taat kepada pemimpin merupakan cerminan dari ketaatan kita kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Allah SWT.
Pada hadits diatas memberikan penegasan kepada kita bahwa ketaatan kita kepada pemimpin tidak dibatasi rasa suka atau tidak suka, ringan atau berat, sulit atau mudah perintah pemimpin tersebut, namun kita wajib taat dalam situasi apapun.
Meski demikian, ketaatan kita terhadap pemimpin bukanlah taat secara membabi buta, namun kita harus tetap berpegang teguh terhadap syariat Allah dan kebaikan, atinya ketaatan kita hanya diperuntukkan bagi pemimpin yang menjalankan syariat Allah dan kemaslahatan ummat, apabila pemimpin tersebut memerintahkan dalam hal maksiat maka kita diwajibkan untuk tidak taat.




REFERENSI

As'ad Aliy, Fathul Mu'in, Menara Kudus, 1979
Faturrahman, Haditsun Nabawi, Menara Kudus, 1966

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar